Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 93


__ADS_3

Helios menjadi kebingungan, sebab mangsa yang ia incar telah menghilang. Namun dalam sekejap mata mangsa yang ia cari berada dihadapannya dengan tangan yang mengepal erat dan langsung memukul bagian bawah paruhnya.


BUUMMM.......


Hantaman yang sangat keras hingga menimbulkan suara dengan dentuman, dan akibatnya atap pun hancur karena akibat tabrakan tubuh Helios dengan bagian atap istana yang kokoh.


Helios pun langsung terkapar dilantai yang dingin dan tidak bisa bergerak meski dia ingin bangkit dari terjatuh dari atap. Aquila turun dengan anggun dan penuh wibawa dan langsung menuju Helios yang terkapar dan dengan suara Geraman mengancam.


Aquila langsung mengambil tongkat kecil dengan ukiran bunga anggrek bulan biru dan menggoreskan nya pada telapak tangannya dan langsung menyentuh dada Helios yang tertanam rune perbudakan.


Aquila mengucapkan mantra yang sama, saat melepaskan Rigiel dulu. Rune perbudakan yang memancarkan cahaya ungu dan menghilang begitu saja dan menyatu dengan udara disekitarnya.


Namun, penampilan Helios masih belum berubah menjadi bentuk semulanya. Tubuhnya masih terbalut dengan batu tipis dan tubuhnya lemah. Shiro dan Rugiel langsung menghampiri Aquila dan Helios, dan tentu saja Soleil berada dipunggung Rugiel.


"Lio, apa kamu mengenalku?" Tanya Shiro sambil menggoyangkan kepala Helios yang terkapar lemah.


"Di-diam lah, k-kamu masih tetap saja cerewet Rino." Kata Helios dengan lemah.


"Syukurlah, aku sangat senang. Akhirnya kamu bisa kembali." Ucap Shiro dengan rasa syukur yang terpancar diwajahnya, begitu juga dengan Rugiel dan Soleil.


"Akhirnya selesai, kini tinggal memisahkan permata kehidupanmu dan permata kehidupan Soleil. Dimana kamu menyimpannya?" Tanya Aquila setelah menghela nafas lega.


"T-tunggu s-sebentar." Kata Helios, lalu dai memejamkan matanya dan kemudian cahaya putih dan coklat langsung keluar dari dahinya dan sebuah permata dengan warna putih dan coklat muda yang menyatu menjadi satu.


"Ini, bukankah ini?" Ucap Shiro dengan sangat terkejut.


"Giel tidak menyangka kalau itu akan menyatu. Rino, bukankah itu akan sulit untuk memisahkannya?" Ucap Rugiel yang masih menggendong Soleil.


"Aku rasa begitu. Kak Aquila, apa kakak tidak apa-apa, wajah kak Aquila semakin pucat." Kata Shiro yang khawatir.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Jangan terlalu cemas Shiro. Yang terpenting, bagaimana cara memisahkan batu kehidupan mereka?" Tanya Aquila dengan wajah serius.


"Aku tidak yakin kak, memisahkan permata kehidupan mereka cukup menguras mana yang sangat banyak." Kata Shiro dengan tatapan yang bingung.


"Aku akan mencobanya."


"Tapi, tubuh kakak sekarang sangat lemah, jangan memaksakan diri kak." Kata Shiro tidak terima.


"Untuk se-sekarang aku ti-tidak apa-apa." Ucap Helios dengan lemah.


"Aku tidak bisa membiarkan para adikku menderita. Melihatmu dan Soleil cukup membuatku sakit. Maka biarkan aku mencobanya dan jangan halangi aku, mengerti?" Ucap Aquila dengan sedikit memaksa.


Helios dan Soleil menjadi tertekan karena sikap kakaknya yang terlalu memaksa itu. Padahal mereka tidak apa-apa untuk sementara waktu, namun perasaan mereka terasa hangat karena perhatian yang diberikan oleh Aquila. Meski mereka baru saja bertemu, namun kebaikan hati Aquila membuat mereka merasa sangat nyaman.


Aquila menyentuh permata kehidupan yang sudah menjadi satu yang tengah melayang diudara bebas. Secara perlahan, Aquila menuangkan mananya yang tersisa untuk memisahkan permata kehidupan itu.


Perlahan namun pasti, mana Aquila semakin lama semakin menipis. Dan perlahan juga permata kehidupan pun ikut terpisah dengan retakan yang halus.


Setelah itu, Aquila telah berhasil memisahkan permata kehidupan kedua adikarya tersenyum bangga. Namun semua itu hilang dalam sekejap.


"Uhuk-uhuk..!!" Aquila terbatuk dengan keras. Organ dalam Aquila terasa sangat sakit dan diremas secara kasar, dan hasilnya Aquila memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.


"Kakak, apa kakak baik-baik saja?" Teriak mereka berempat secara bersamaan.


"A-aku baik-baik saja. H-hanya mana ku terasa telah terkuras habis."Kata Aquila dengan lemah.


"Kak Aquila, bukankah aku sudah mengatakan, jangan memaksakan diri. Inilah akibatnya kalau kak Aquila terlalu keras kepala." Omel Shiro marah, namun terdapat kekhawatiran.


"Te-ternyata, adik kecilku telah berani memarahi ku ya. Ha ha." Ucap Aquila sambil mengelus kepala Shiro dan dengan tawa lemah.

__ADS_1


"Kak, Hiks.. jangan membuat Giel takut. Giel tidak ingin berpisah dengan kak Aquila, hiks..!" Isak Rugiel yang disetujui juga oleh yang lain.


"Adik yang pengertian. Sudahlah. Sebaiknya kita pergi, sebelum kedua kakakku menyusul kita." Ucap Aquila mengalihkan perhatian, dan kemudian Aquila mulai berdiri dengan kakinya yang gemetar. Namun hasilnya Aquila terjatuh.


"Kakak, jangan terlalu memaksakan diri. Kakak harus beristirahat dengan baik. Dan jangan membantah!" Ucap Shiro yang sebelumnya telah menahan tubuh Aquila yang akan terjatuh.


"Baik-baik. Kalau begitu, aku akan merepotkan mu untuk sementara waktu." Ucap Aquila sambil memejamkan matanya.


"Ayo kita pergi dari tempat ini, sebelum mereka mengetahui keberadaan kita. Pasti akan menyusahakan." Ucap Shiro, dan Rugiel langsung menggendong Helios bersama dengan Soleil.


Mereka langsung pergi meninggalkan ruangan yang mengurung Helios sebelumnya. Tempat itu sudah sangat berantakan dan puing-puing bangunan yang runtuh yang memberitahukan lalu itu terjadi pertemuan yang sangat besar.


Leave dan Minami menunggu Aquila dan yang lain dengan perasaan was-was. Takut terjadi hal yang buruk pada nona nya yang suka bertindak sesuka hati tanpa memikirkan dirinya sendiri.


Sebenarnya Minami baru saja datang setelah menyelusuri istana itu untuk memberi obat tidur para penjaga dan penghuni istana megah itu. Dan tidak lupa juga Minami mengambil beberapa barang dan koin emas untuk menutupi pengeluaran mereka saat berada di pelelangan Amoon.


Setelah dirasa cukup, Minami langsung kembali ke tempat yang telah di rundingan sebelumnya sebelum membebaskan Helios dan membuat penghuninya tertidur dalam pengaruh ilusi Minami.


Sedangkan Leave hanya bisa menunggu di pintu gerbang kerajaan Zuwei dengan tenang tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan benar saja tentang ke hawatiran mereka terhadap Aquila, kini tengah tertidur dipunggung Shiro dengan wajah yang terlihat pucat meski hari telah menjadi gelap.


"Apa yang terjadi dengan nona Aquila?!" Tanya Minami dan Leave bersamaan.


"Tanyakan itu nanti saja, lebih baik kiat segera pergi meninggalkan tempat ini dan mencari tempat yang aman." Kata Shiro sambil mengamati sekitarnya.


"Bagaimana kalau di wilayahku, disana cukup aman untuk bersembunyi." Kata Helios yang berada dipunggung Rugiel.


"Giel tidak masalah. Bagaimana denganmu Rino?" Ucap Rugiel menyetujui saran Helios.


"Baiklah, kita pergi kewilayahmu. Dan nona Leave dan Minami, tolong jaga kami bila kami jatuh dalam tidur panjang kami." Ucap Shiro menyetujui usul Helios.

__ADS_1


Sedangkan Leave dan Minami langsung mengiyakan perkataan Shiro, mereka semua langsung pergi meninggalkan kerajaan Zuwei dengan tenang.


__ADS_2