
Tanah yang menghitam dengan warna merah membara layaknya arang yang masih menyimpan bara api, dengan suhu yang hangat dengan butiran salju sisa musim dingin yang berlalu.
Daun muda terlihat bertunas dari ranting yang tertutupi sisa salju dan menetes membasahi bumi yang sebelumnya berselimut dengan permadani putih yang dingin.
Kicauan burung mulai terdengar meski samar, sebab para burung belum sepenuhnya kembali ketempat asal mereka. Tetes demi tetes es yang mencair bersama kehangatan matahari musim semi yang membangunkan seluruh mahluk yang terlelap dari tidur panjang mereka.
Didalam gua yang tersembunyi, tertutupi lebatnya semak yang tumbuh subur meski hanya tertinggal ratingnya saja namun masih bisa menyembunyikan lubang gua dibaliknya. Dan didalam gua itu tersembunyi berbagai hewan kecil bersama dengan dua sosok manusia yang salah satunya memiliki telinga runcing dan satunya lagi memiliki tanduk putih sebening kristal.
"Kenapa nona lama sekali? Apa nona kewalahan menghadapi mereka?" Tanya Leave dengan cemas.
"Itu tidak mungkin. Mana mungkin nona bisa kalah dari mereka. Atau nona hanya sedang berkeliling." Kata Minami yang mencoba mengubur kecemasannya pada sang nona.
"Aku harap begitu." Ucap Leave sambil menatap pintu gua.
Ugh.....
Lenguh Shiro sambil merentangkan tubuhnya yang kaku sebab sudah lama tertidur. Kemudian disusul dengan para saudaranya yang lain.
"Dimana kita? Kenapa rasanya sangat asing." Kata Soleil membuka pembicaraan.
"Giel tidak tau." Ucap Rugiel dengan menggelengkan kepalanya.
"Hawanya cukup hangat. Apa kita sudah sampai pada di wilayah Ignatius?" Tanya Adrian dengan menjulurkan lidahnya.
"Kau benar Adrian. Kita sudah berada di wilayah Tius, tapi sejak kapan?" Kata Vent Leger sambil mengamati sekitarnya.
"Kak Aquila dimana? Aku tidak melihatnya." Kata Helios yang tengah mencari sosok Aquila yang tidak ada di sana.
"Kak Leave..... Dimana kak aquila?" Ucap Shiro sambil menghampiri Leave dan Minami yang tengah berdiri di mulut gua.
"Ah... Tuan Catarino. Anda sudah bangun?" Kata Minami terkejut dengan teriakan Shiro yang memanggil Leave dengan sangat keras.
"Seperti yang kamu lihat, dimana kak Aquila?" Tanya Shiro kembali.
"Nona...."
__ADS_1
"Kenapa kalian ada disini? Bukankah sangat dingin bila kalian berdiri disini?" Tanya Aquila tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Nona... Nona membuatku terkejut." Ucap Leave sambil menekan dadanya yang berdebar karena terkejut.
"Huf... huf.... Kak Aquila, kenapa kakak berbau darah manusia?" Tanya Nix yang berdiri dibelakang Shiro.
"Iya... Bunya sangat kuat. Apa kakak Aquila bertarung dengan manusia lagi?" Tanya Vent Leger dengan penasaran.
"Jangan pedulikan tentang bau darah di tubuhku. Dan juga mereka sudah mati." Kata Aquila dengan wajah yang terlihat tengah menahan kekesalannya.
"Kak Dita, apa kakak terluka?" Tanya Soleil yang terlihat cemas.
"Tidak. Jangan terlalu menghawatirkan aku. Aku baik-baik saja." Kata Aquila dengan suara yang lembut penuh kasih sayang untuk meredakan kecemasan dari para pilar yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Benarkah... Lalu kenapa baunya sangat kuat? Aku yakin pasti kak Aquila terluka. Aku benarkan?" Kata Nix yang masih belum percaya dengan ucapan Aquila sebelumnya.
"kenapa kalian semakin cerewet saja. Aku baik-baik saja. Tidak terluka sama sekali." Kata Aquila dengan sedikit kesal, namun hatinya menghangat karena diperhatikan oleh orang-orang yang dia lindungi.
"Kak Dita, kakak jangan bohong. Lalu kenapa ada tetesan darah dari tangan kakak?" Tanya Soleil dengan polos sambil memegang tangan kanan Aquila yang masih meneteskan darah segar.
"Kak Aquila, sebenarnya kakak melakukan apa hingga membuat tangan kakak terluka dan bau darah orang lain?" Tanya Vent Leger penasaran namun penuh perhatian.
"Hanya masalah kecil. Lupakan saja." Ucap Aquila sambil berjalan memasuki lebih dalam, kedalam gua.
Leave dan Minami hanya bisa pasrah melihat Aquila yang terlihat tidak perduli dengan setiap luka yang di rasakan. Namun, bila tidak dirawat akan menimbulkan infeksi dikemudian hari.
"Nona, biarkan aku merawat luka mu." Kata Leave dengan suara lirih dan menyentuh tangan Aquila yang masih berdarah.
"Tidak perlu kak, lagi pula ini bukan darah ku." Kata Aquila dengan senyum tulus.
"Nona, setidaknya biarkan aku dan nona Leave membantu membersihkan tangan mu, aku tidak akan memaafkan diriku bila nona terluka meski hanya luka gores." Ucap Minami dengan suara mengiba penuh sesal.
"Kak Nami, kak Leave. Aku baik-baik saja. Kenapa kalian selalu saja berlebihan ketika melihat ada setitik darah di tubuhku. Lagi pula aku hanya ingin melemaskan tubuhku yang kaku." Ucap Aquila tidak nyaman dengan kecemasan kedua kakaknya yang berlebihan, ditambah lagi dengan seluruh para pilar yang juga ikut menghawatirkan dirinya.
"Lalu, apa yang kak Aquila lakukan diluar?" Tanya Shiro penasaran.
__ADS_1
"Berisik. Setidaknya biarkan aku tidur!" Ucap Aquila dengan sedikit jengah dengan setiap pertanyaan yang selalu saja menghampirinya, yang seolah dirinya adalah barang yang berharga.
"Kakak....." Ucap seluruh pilar yang ada dengan bersamaan.
"Apa lagi...?" Tanya Aquila dengan menahan kekesalannya.
"Kakak harus membersihkan bekas darah itu. Baunya sungguh tidak enak. Itu mengganggu hidungku." Ucap Shiro yang disetujui juga oleh Vent Leger, Nix dan Rugiel.
"Itu benar nona." Tambah Minami.
"Cih..." Decih Aquila dengan wajah masam.
"Nona..." Kata Leave yang menegur Aquila yang tengah bermuram durja.
"Baiklah..." Kata Aquila pasrah dan berjalan keluar dari dalam gua.
"Nona..." Tegur Leave kembali.
"Apa lagi kak Leave...." Ucap Aquila yang tengah menahan kemarahannya.
"Aku hanya ingin bilang, kalau airnya sudah aku sediakan didalam ujung gua ini." Ucap Leave.
Wajah malas, kesal dan jengkel sangat terlihat jelas di wajah Aquila yang cemberut. "Setidaknya katakan sedari tadi." Ucap Aquila dengan jutek.
Leave hanya bisa menghela nafas sabar dengan tingkah nona nya yang terkadang tidak dapat dimengerti oleh dirinya, apa lagi Minami yang hanya diam tidak berani berkata kalau melihat Aquila yang tengah dalam kondisi yang tidak dapat dipahami oleh dirinya. Selepas Aquila pergi menuju kedalam gua, Minami hanya bisa menghela nafas lega.
"Wah... Aku tidak menyangka kalau manusia yang aku baru temui dan menjadi kakak ku sangat mengerikan. Hei... kalian, apa merasakan apa yang aku rasakan?" Tanya Nix dengan wajah acuhnya.
"Sejak kapan kamu menganggap kak Dita sebagai kakakmu Nix. Bukankah kamu saat itu sangat menolak untuk di sentuh oleh kak Dita?" Tanya Soleil penasaran dengan perubahan sikap saudaranya itu.
"Dita? Siapa dia, aku tidak mengenalnya." Jawab Nix dengan wajah tidak perduli.
Hai minna-sama, gimana kabar kalian? Pastinya baik-baik saja. Hana akhir-akhir ini jarang ngelanjutin lanjutannya karena Hana lagi Buntu, kerjaannya juga ikut ngenumpuk, jadinya Hana hanya bisa ngelanjutin kalau udah kerjaan Hana sedikit senggang.
Jadi Hana hanya bisa ngelanjutin kalau ada waktu. Jaa.. Mata ashita ne... Minna-sama..
__ADS_1