
Perjalanan mereka sangat menyenangkan menuju pusat hutan Catarino, terutama Aquila Aisar yang begitu antusias.
Aquila Aisar berlarian kesana-kemari, karena melihat berbagai tumbuhan yang sangat indah dan berbeda dengan tumbuhan dibumi. Aquila Aisar sangat menyukainya.
Aquila Aisar juga melihat magical beast berbagai bentuk dan ukuran yang unik. Seperti kelinci bertanduk, atau ular dengan tumbuhan yang melilitnya dan masih banyak yang lainya.
Didalam hutan Catarino, baik tumbuhan atau magical beast semakin beragam dengan ukuran yang besar. Saat magical beast melihat rombongan Aquila, mereka menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Dan juga pepohonan yang besar dengan bunga yang mengeluarkan cahaya yang lembut.
Sehingga didalam hutan menjadi terang dan jauh dari kata seram, hanya dibagian luar saja yang begitu seram untuk mengecoh orang yang ingin memasuki hutan bagian dalam.
"Hutan yang begitu indah, rasanya aku tidak ingin pulang." Celoteh Aquila sambil memegang bunga Lily yang berpendar.
"Sekarang hutan ini sudah menjadi rumah kakak, " Sahut Shiro yang berjalan beriringan dengan Leave.
"Bagi ku tidak masalah di manapun tempatnya, asalkan ada nona." Leave menimpali.
Aquila Aisar merasa sangat tersentuh dengan apa yang diucapkan oleh Leave.
"Shiro, apa masih lama sampai di menara yang kamu katakan tadi?"
"Seharusnya sudah sampai, mungkin kita harus berjalan ke sana kak." Shiro sambil berjalan kearah pohon kembar dengan bunga yang bermekaran serta mengeluarkan aroma yang harum.
Saat mereka sampai didepan pohon kembar itu, terdapat Rune kuno yang membuat Aquila Aisar mengerikan dahi tak mengerti.
Kemudian Shiro mengangkat kaki depannya dan menempelkan ke dalam rune tersebut. Setelah menempelkan kaki depannya, rune itu bersinar. Sontak saja Aquila Aisar menutup matanya untuk menghalau cahaya yang menyilaukan itu.
Setelah tak dirasa lagi, Aquila Aisar membuka matanya secara perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang memasuki matanya.
Aquila Aisar merasa kagum dengan apa yang dilihatnya saat ini. "Apakah aku sedang bermimpi?"
Menara menjulang dengan warna putih dengan ornamen yang menghiasinya dan di bagian atas memancarkan cahaya yang mengarah keatas. Danau yang sangat besar dan dipinggiran danau ditumbuhi pohon wisteria berbunga putih. sehingga dari nampak dari kejauhan seperti salju. Serta terdapat paviliun dipinggir danau yang ditanami bunga Gardenia warna putih yang harum. meskipun malam, gelapnya tidak bisa menutupi keindahan yang ada.
Bagi siapapun yang melihatnya pasti akan terkagum dan enggan akan pergi dari berdirinya, termasuk Aquila yang masih mematung.
"Tentu saja tidak." Kata Shiro mendahului Aquila yang mematung karena takjub.
__ADS_1
"Nona dari dulu selalu saja begitu, langsung menjadi patung hidup." Sindir Leave yang berdiri dibelakang Aquila. Tapi, Aquila Aisar hanya mengabaikan omongan Leave.
"Apa kakak akan menjadi patung untuk selamanya, dan tidak ikut masuk?"
"Tentu saja aku ikut, kalau tidak bagaimana aku istirahat." Katanya sambil berlari kecil untuk menyusul Shiro yang berada didepan rumah yang tidak terlalu besar yang bersebelahan dengan danau itu.
"Aku kira kakak tidak mau istirahat." Kata Shiro jahil.
"Aku masih Manusia, butuh tidur juga." sambil memajukan bibirnya cemberut.
"Salah siapa yang seperti patung." kata Shiro tak mau kalah.
"Sudahlah, dimana kamar tidurku." Kata Aquila tidak sabar.
"pPntu saja belum dibuka kak, apa kakak ingin tidur diluar?" Shiro yang mulai jengah. Kemudian Shiro membuka pintu yang sangat mewah itu dengan kaki depannya.
Saat pintu rumah itu dibuka, didalam ruangan depan yang begitu mewah dengan gaya yang kuno. yang membuat Aquila terheran.
"Apa ada merawat rumah ini?"
Aquila Aisar hanya menganggukkan kepala dan mengikuti Shiro kelantai dua. kemudian mereka sampai di pintu berwarna coklat dengan dinding warna Putih.
"Kakak bisa membukanya," Kemudian Aquila membuka pintu coklat itu.
Didalam ruangan itu terdapat kasur yang sederhana namun elegan, serta terdapat meja dan sofa yang nyaman. Terdapat juga sebuah lemari dan didampingi cermin dan meja kecil ber laci.
"Kakak bisa beristirahat disini, dan untuk membersihkan diri ada di sana." Sambil menunjuk pintu kamar mandi. Lalu Shiro keluar dari dalam ruangan itu.
"Baiklah, sampai jumpa besok." Aquila mengikuti Shiro di pintu.
"Ya, sampai jumpa besok." Shiro sambil berjalan kearah tangga.
Kemudian Aquila menutup pintu dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Leave duduk di samping kasur dengan kepala di samping badannya.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Aquila membuka lemari dan melihat pakaian yang sederhana namun nyaman. Aquila Aisar memakai pakaian dan berjalan kearah cermin, ia melihat pantulan dirinya di cermin dan menampilkan wajah yang tirus dan badan yang kurus.
__ADS_1
"Benar-benar keluarga yang baik." Aquila dengan senyum mirisnya.
"Baiklah, daripada memikirkan keluarga yang kejam itu, lebih baik aku tidur saja." Sambil melangkah kearah kasurnya.
"Kakak Leave, kenapa kamu tidur dibawah?" sambil mengoyang-goyang badan Leave yang tertidur dilantai kamar Aquila Aisar.
Leave yang terganggu karena ulah Aquila langsung membuka matanya dengan protes.
"Tidurlah di atas bersamaku, ya?" Dengan nada memohon.
"Nona, badanku terlalu besar. Tidak bisa tidur dengan nona."
"Aku tidak suka ditolak, jadi kakak harus tidur denganku. Kuga dibawah dingin. Kakak bisa mengecilkan ukuran tubuh kakak ya kan?" Aquila memaksa.
Leave pasrah akan keinginan nona nya yang keras kepala dan memaksa itu. kemudian Leave menyusutkan ukuran badannya menjadi kecil. Lalu Aquila langsung menggendongnya dan meletakkan di kasur, kemudian Aquila tidur di samping Leave dan menarik selimut agar tubuhnya tidak kedinginan. Tak berlangsung lama, Aquila tertidur dan menuju alam mimpi.
Keesokan paginya, Aquila dikejutkan dengan suara ketukan pintu kamarnya. dengan keadaan yang masih belum sadar sepenuhnya, Aquila membuka pintu dan kedapatan melihat seorang perempuan yang cantik dengan rambut berwarna hijau dan daun telinga panjang.
"Selamat pagi nona, tuan menyuruh saya membangunkan nona untuk sarapan pagi." Kata perempuan tadi.
Aquila yang masih belum sadar sepenuhnya hanya memandang kagum dengan mulut terbuka, sedangkan pipi perempuan elf tadi bersemu malu akibat kelakuan Aquila.
"Nona, ada apa?" tegur nya dengan muka memerah. Aquila yang ditegur langsung gelagapan.
" Ti-tidak ada, aku akan bersiap untuk menyusulnya, nona juga bisa kembali." sebelum dijawab, Aquila langsung menutup pintu karena gugup.
Aquila yang hendak membangunkan Leave hanya bisa cemberut, karena yang akan dibangunkan sudah menghilang dari kasurnya. Aquila langsung berjalan kearah kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Setelah melakukan ritual paginya, Aquila langsung memakai kemeja biru navy dengan dress warna pink pastel. dan mengikat sebagian rambutnya yang panjang dan menyisakan sebagian diurai. lalu memakai pita berwarna senada dengan dress-nya.
Setelah puas dengan melihat penampilannya, Aquila keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga untuk menyusul Shiro yang tegah menunggunya diruang makan.
Tetapi yang dilihatnya bukan kucing putih melainkan seorang remaja dengan rambut putih bergradasi biru pucat dan disampingnya ada seorang perempuan yang cantik dengan tanduk bercabang di dahinya dengan warna rambut hijau pucat, serta perempuan yang membangunkan ya tadi.
"Siapa kalian?" tanya Aquila dengan terheran.
__ADS_1