
Derap kaki melangkah terdengar nyating dari dalam hutan kerajaan Tayounokuni, pohon-pohon kecil yang menghalangi jalan mereka langsung saja mereka tebang dengan sekali tebas. Gemerincing zirah besi memberi teror tersendiri bagi orang yang mendengarkannya.
Suasana kota yang damai dalam seketika orang-orang langsung lari menyelamatkan diri, karena sebuah gelombang prajurit Zuwei datang dan langsung menyerang orang tanpa pandang bulu.
Darah berceceran, mayat bergelimpangan, para wanita berteriak histeris dengan kematian yang baru saja dilihatkan didepan matanya, tidak ada perlawanan mereka hanya pasrah dengan nasib buruk yang akan menimpa mereka dalam hitungan detik.
Kepanikan pun melanda, teriak ketakutan para wanita langsung memenuhi istana untuk meminta sang raja melindungi mereka dari kejaran prajurit Zuwei tanpa anak-anak mereka.
"Yang mulia raja, kita diserang oleh kerajaan Zuwei, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Sanga jendral dengan panik.
"Cepat persiapkan bala tentara kita, segeralah perketat benteng dan selamatkan wanita dan anak-anak dengan cepat." Ucap sang raja dengan wajah penuh ketegasan dan kekhawatiran.
"Akan saya laksanakan yang mulia, kalau begitu saya permisi." Ucap sang jendral lalu meninggalkan raung kerja sang raja dan bergegas memerintahkan seluruh prajuritnya bersiap untuk menghentikan serangan mendadak dari kerajaan yang sudah menjajah mereka.
"Aku tidak menyangka kalau yang dikatakan kedua gadis itu benar. Kenapa aku tidak mendengarkan mereka dan bahkan mengusir mereka. Aku sungguh raja yang bodoh." Ucap sang raja sambil merutuki kebodohannya itu.
"Jadi kau baru menyadarinya yang mulia, semua sudah terlambat dan rakyatmu akan dibantai. Dan semua itu adalah kesalahanmu yang tidak mempercayai kami." Kata Minami yang sambil bersedekap dada dan bersandar didinding gelap.
"Nona, maafkan aku, tolong selamatkan rakyatku, aku tau kalau aku salah menilai mu dan bahkan menghinamu. Tolonglah aku dan selamatkan rakyatku, meski hanya anak-anak pun aku tidak keberatan." Ucap sang raja dengan tulus.
"Apa yang akan kami dapatkan bila memberimu pertolongan? Bukankah kamu bilang kalau semua yang kami katakan hanyalah omong kosong." Ucap Minami dengan suara yang dingin.
__ADS_1
"Nona aku tau kalau aku salah, nona boleh mengambil nyawaku asalkan nona bisa menyelamatkan anak negeri ini, mereka adalah masa depan kami semua." Ucap sang raja dengan penuh harapan didalam keputusasaannya.
"Baiklah, aku harap kau menepati janjimu." Setelah mengatakan kalau dia menyanggupinya, Minami langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Sebenarnya Minami telah menyelamatkan anak-anak sebelum dia mendatangi sang raja, dia hanya ingin memastikan tindakan sang raja apa memperhatikan anak-anak negerinya sendiri. Dan benar saja, raja kerajaan Tayounokuni sangat memperhatikan anak-anak, dan Minami merasa tenang untuk kembali kesisi Aquila yang sedang memperhatikan tontonan yang mengegerkan.
"Nona, saya sudah mengamankan para anak-anak, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Tanya Minami yang sudah hadir disisi Aquila dan Leave.
"Apa yang akan kita lakukan? Tidak ada." Kata Aqila dengan wajah yang sangat tidak perduli dengan nyawa yang akan melayang dihadapannya.
"Nona, apa hal ini baik-baik saja. Yang aku takutkan semua manusia di negeri ini akan musnah, lalu bagaimana dengan anak-anak yang belum bisa melindungi diri mereka dan mencari makan untuk diri mereka sediri. Dan apa lagi para magical beast dan hewan buas sangat membenci manusia. Nona tolong perhatikan itu." Kata Leave memberi nasehat.
"Benar nona, dan raja negeri ini sudah mengakui kesalahannya dan dia akan melakukan apapun untuk melindungi rakyatnya. Aku harap nona bisa membantu mereka." Ucap Minami yang menyetujui usul Leave.
Para prajurit Zuwei menatap Aquila dengan hinaan dan meremehkan. "Apa wanita itu sedang menyerahkan nyawanya atau sedang meminta belas kasihan kita? Tapi sayangnya ini bukan waktu yang tepat" Kata salah satu prajurit dengan tatapan yang meremehkan.
"Hei-hei! Kawan! Jangan berdiam diri saja, cepat habisi dia sebelum jendral tau kalau kau tidak melakukan tugas yang diberikan pada kita!" Salah satu prajurit memperingati temannya yang sedang berdiam diri itu.
"Berisik, aku akan melakukannya dengan cepat, lebih baik kamu membunuh nenek tua it-"
"Hei apa yang kamu lakukan, kenapa kamu malah membiarkan wanita itu hidup dan malah membiarkannya menolong mangsaku!!!" Teriak kawannya tidak terima.
__ADS_1
"Haah? apa yang kau bilang. Kejar dia, dan bukan melampiaskan kekesalannya pada ku?!" Teriak prajurit itu tidak terima disalahkan.
"Nenek tolong bersembunyi disini, aku akan menjemputmu bila sudah berakhir." Kata Aquila yang menyembunyikan sang nenek dibalik rimbunnya pepohonan.
"Te-terima kasih nak, nenek akan tetap disini." Ucap sang nenek yang gemetaran karena hampir saja dia kehilangan nyawanya.
Aquila hanya memperlihatkan wajah tidak perduli dan langsung pergi begitu saja untuk kembali kepada para prajurit Zuwei yang masih bergulat dengan pedang dan menebas orang yang ada dihadapannya. Kejam, memang, tapi itulah kehidupan yang Aquila jalani didunia Callista yang tidak mengenal kebaikan.
"Apa kalian sudah puas membunuh manusia yang tidak berdosa?" Tanya Aquila yang tiba-tiba muncul di udara. Sontak saja membaut prajurit yang ada dibawahnya terkejut dengan kehadiran Aquila yang tidak disadari.
"Ternyata dia adalah seorang penyihir, Ha ha ha... kenapa kau tidak kembali ke gubuk reotmu dan membuat ramuan sihir dan menjualnya dipasar ha ha ha..." Gelak tawa menghina langsung pecah.
"....." Diam, ya Aquila memang diam menerima ejekan para prajurit dengan wajah datar dan aura dingin namun tidak disadari oleh para prajurit itu.
"Hei! kenapa diam, cepat kembali ke gubukmu dan jangan mengganggu kami, atau aku bunuh dirimu agar bergabung nyawa yang sudah melayang!" Usir prajurit itu dengan mengancam.
Syuuttty....
Sebuah jarum kecil langsung mengenai bagian yang terbuka tanpa perlindungan. Lama kelamaan jarum yang mengenai kulit prajurit itu membiru, dan prajurit itu langsung menjerit kesakitan dan memegangi luka yang ditimbulkan oleh sebuah jarum kecil itu.
Dalam seketika prajurit itu mati dengan rasa sakit yang teramat sangat, dan kemudian daging dan kulitnya terkelupas dan hanya meninggalkan tulangnya saja. Hal itu membuat prajurit yang lain langsung memandangi mayat temanya dengan rasa takut yang menggerogoti hati mereka.
__ADS_1
"Kenapa diam? dimana keberanian kalian sebelmunya?" Ucap Aquila dengan tersenyum manis namun memberikan kesan menyeramkan bagi yang melihatnya.