Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 9


__ADS_3

Setelah mereka selesai makan, Dita langsung membereskan peralatan makan yang merek gunakan barusan. Sedangkan Rin hanya tiduran di sofa sambil memegangi perutnya yang membuncit akibat kekenyangan.


Sedangkan si kucing Shiro merapihkan bulunya yang berantakan akibat berlarian kesana-kemarimengejar bola. Leave hanya duduk dengan santainya disebelah Shiro sambil memandang serigala es Rin yang hanya menekuk ekornya akibat ketakutan akibat ditatap tajam oleh Leave.


Setelah selesai membereskan semuanya, Dita langsung duduk di samping Rin yang tengah rebahan.


"Hey, Rin."


"Hemmm...?" Rin yang masih memejamkan matanya.


"Itu.., bagai mana yah mengatakannya." Dita ragu untuk mengutarakan apa yang ingin dia ucapkan.


Rin langsung duduk dari rebahnya. Sebab menurut Rin, Dita akan mengucapkan hal yang penting menurutnya.


"Katakan saja, kenapa malah ragu-ragu begitu? Tidak seperti biasanya." Kata Rin penasaran.


Dita menarik nafas dan menahannya sebentar, dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Rin, bila aku pergi, apa kamu akan bersedih?" Tanya Dita sambil menggenggam tangganya agar Rin tidak melihat telapak tangannya yang sedang berkeringat dingin.


"Tentu saja lah, siapa yang tidak sedih bila ditinggal pergi sahabatnya." Kata Rin sambil mengerutkan keningnya sebab pertanyaan Dita yang menurutnya mulai ngelantur.


"Kamu jangan bilang kaya gitu kenapa, seakan-akan mau pergi jauh aja." Sambil menatap lekat-lekat sahabatnya itu. Sedangkan Dita hanya menundukkan kepalanya.


Rin langsung menggenggam tangan Dita, Rin merasakan tangan Dita yang begitu dingin dan berbeda dari biasnya yang begitu hangat dan menenangkan.


"Apa kamu sakit Ta, kenapa tanganmu begitu dingin?!" Rin panik karena tangan Dita semakin dingin. Dan Dita langsung menjatuhkan kepalanya dalam pangkuan Rin.


Dita hanya tersenyum lemah, tapi bagi Rin senyuman Dita bagaikan senyuman perpisahan.

__ADS_1


"Rin, aku sangat bahagia ketika kamu menemaniku disaat terakhir. Aku juga minta maaf bila aku sering merepotkan mu, dan tolong jaga dan rawatlah rumah ku ini." Kata Dita dengan suara lemah dan mata yang sayu.


"Jangan katakan yang aneh-aneh Ta. Dan kamu tidak merepotkan ku sama sekali. Dan apa maksudmu?" Rin panik saat nafas Dita mulai melemah.


"Aku..... akan.... selalu..... ada di sampingmu.... Rin....., meskipun.... jiwa dan ragaku.... tidak.... ada...., dan kamu...., anjing kecil..... lindungilah.... tuan mu..... dengan.... sepenuh hati." kata Dita dengan suara lemah dan terputus-putus.


Rin yang mendengarkan suara sahabatnya yang begitu lemah membuatnya merasa sesak dan menangisi sesenggukan. Rin juga semakin bingung ketika Dita melihat tepat disampingnya dan memanggil anjing kecil, padahal dia tidak memelihara anjing.


"Dita......hiks, jangan membuatku takut, bercanda mu sama sekali tidak lucu.!" Rin sambil menggoyang-goyangkan badan Dita yang mulai melemah.


Dita hanya memandang Rin dengan matanya yang mulai memburam. Shiro yang menyaksikan tersebut hanya bisa menahan tangisannya agar air matanya tidak keluar.


"Dita...., bangun.....hiks.!!! jangan membuatku takut, jangan tinggalkan aku...hiks.!" Rin yang sudah panik dan terus menerus menggoyangkan badan Dita agar bangun dari kepura-puraan pingsannya. Padahal Rin tau kalau nafas Dita sudah tidak berhembus lagi.


Shiro tak kuasa untuk menahan air matanya, dan langsung menangis sambil mengaktifkan Rune yang telah dia buat sebelumya. kemudian muncullah cahaya yang menyilaukan mata dan langsung menghilang dan diikuti juga dengan Leave.


Ya, Rin baru menyadari kehadiran serigala es yang tengah menenangkan dengan menempelkan kepalanya di kaki Rin.


"Jadi ini maksudmu Dita hiks..., kamu membuatku semakin tak mengerti tentang dirimu hiks..., padahal kita adalah teman hiks.." Suara tangisan Rin semakin menggema yang membuat tetangga Dita langsung membuka paksa gerbangnya dan langsung masuk kedalam rumah Dita untuk mengetahui apa yang terjadi.


Tetangga yang melihat wajah Dita yang begitu pucat, dan Rin yang menangis histeris akibat masih tidak percaya akan kepergian Dita yang meninggalkan nya untuk selamnya.


"Tenangkan lah dirimu nak, ikhlaskan saja kepergian temanmu, dia akan bersedih juga jika melihatmu yang seperti ini." seorang lelaki tua sambil menepuk pundak Rin.


Rin yang mendengarkan apa yang diucapkan lelaki tua tersebut hanya bisa mengiyakan saja, dengan air matanya yang masih terus mengalir.


Sedangkan orang lain yang ikut masuk kedalam rumah Dita segera memanggil pihak pengurus pemakaman dan keagamaan untuk menyiapkan keperluan pemakaman Dita yang akan dilaksanakan esok harinya.


Keesokan harinya pemakaman Dita dilakukan dengan begitu ramai dan para tetangganya tak menyangka bahwa Dita yang masih muda meninggalkan mereka semua. Para tetangga mengenalnya sebagai anak yang baik dan ramah dan akan bersikap tak perduli bila Dita tidak mengenalnya.

__ADS_1


Yang paling merasa kehilangan adalah Rin, yang masih menangis sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang kakaknya.


"sudahlah Rin, ikhlaskan saja temanmu itu. Dia tidak akan bahagia ketika melihatmu seperti ini." Kata kakak Rin menenangkan sambil membelai kepala Rin.


Rin hanya terdiam saja sambil mengarahkan wajahnya untuk menatap makam sahabatnya yang telah dihiasi oleh kelopak bunga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dilain tempat, gadis kecil yang berlari begitu cepat dan tidak menghiraukan tubuh dan kakinya yang terluka akibat tergores ranting atau semak berduri. gadis tersebut hanya ingin menyelamatkan hidupnya yang tengah dia pertaruhkan saat ini.


Nama gadis tersebut adalah Aquila Aisar anak dari seorang bangsawan yang bergelar Duke, yaitu Duke Albyon Aisar.


Aquila hanya lah anak yang tak memiliki bakat sama sekali, yang membuatnya dibenci oleh seluruh keluarganya termasuk ayah, ibu, dan kakaknya. Yang menyayanginya hanyalah kakeknya yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu.


Hal tersebut membuatnya gencar dihina oleh maid atau perajut yang ada di Mension tempat tinggalnya. fasilitas yang Aquila Aisar tidak terlalu buruk ataupun mewah. Tetapi tempat tinggalnya sangat jauh dari Mension utama. Hal ini juga membuat Aquila Aisar menjadi gadis yang pemalu dan mudah ditindas.


Pada situasi saat ini, Aquila Aisar merasa sangat kecewa terhadap keluarganya yang tega ingin membunuhnya. Yang mereka anggap sebagai anak pembawa sial yang harus segera disingkirkan.


Aquila Aisar hanya ingin terus berlari untuk menyelamatkan hidupnya yang saat ini dia pertaruhkan. Bila dia berhenti akan mati akibat pembunuh bayaran, sedangkan kaki kecilnya sudah sangat kelelahan dan penuh luka.


Pelarian Aquila Aisar terhenti saat didepan matanya terdapat jurang yang sangat dalam dan gelap. Seolah-olah ingin menarik Aquila Aisar untuk masuk kedalamnya.


Sedangkan para pembunuh bayaran hanya tersenyum sinis saat melihat Aquila Aisar yang berhenti dibibir jurang.


"Menyerah saja gadis kecil, dan serahkan saja nyawamu pada kami." Kata salah satu pembunuh bayaran.


"Atau serahkan saja tubuhmu, aku akan membuatmu menikmati keindahan dunia." Salah satu dari mereka sambil memandang Aquila Aisar dengan tatapan mesum yang membuat Aquila Aisar merasa jijik kata-kata tak senonohnya itu.


"Aku tidak Sudi, lebih baik aku mati dari pada melayani mu." Kata Aquila Aisar dengan sinis sambil menjatuhkan dirinya kedalam jurang yang gelap itu.

__ADS_1


__ADS_2