Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 23


__ADS_3

Setelah mereka keluar dari dalam kedai itu, terdengar suara langkah kuda yang membelah kerumunan orang yang ada dijalan. Orang-orang yang ada dijalan itu merasa heran karena para kesatria dari kediaman jendral berada di jalan utama kota.


Aquila dengan santainya berjalan dan tidak menghiraukan suara keributan yang ada dibelakangnya itu. Kuda yang ditumpangi para kesatria itu terlihat ragu dan gelisah untuk menghampiri Aquila dan Minami dan lebih memilih untuk kembali.


Hal ini membuat kesatria yang menunggangi Kuda bingung karena tingkah kuda yang menjauhi target mereka. Cambuk yang ada di tangan para kesatria diayunkan ke punggung kuda dengan keras membuat kuda itu meringkik keras dan mengangkat kaki depannya untuk menjatuhkan si penungga.


Kuda yang mereka tunggangi langsung melarikan diri keberbagai arah dan membuat beberapa orang yang ada ditempat itu terluka karena tertabrak kuda yang ketakutan.


Para kesatria heran akan tingkah kudanya, biasanya dimedan perang mereka dengan gagah berani menghancurkan musuh yang menghalangi jalanya. Berbeda sekali dengan saat ini, terlihat ketakutan dan menghindari target yang diinginkan tuan muda mereka.


kesatria yang jatuh dari kuda langsung berdiri dan berlari kearah Aquila dan Minami yang tengah berjalan santai dihadapan mereka.


"Berhenti...!!!" Perintah ketua pemimpin pasukan satria itu. Dengan muka malas Aquila pun berhenti dan para satria itu mengepung Aquila yang berada ditengah nya.


"Jalang kecil, kita bertemu lagi. Kali ini kamu tidak akan lepas." Kata tuan muda itu sombong dan awan nafsu yang mengelilinginya.


"Apa pelajaran yang sebelumnya tidak membuatmu puas tuan muda." Aquila dengan malas dan wajah datarnya yang membuat siapapun yang melihatnya merasa kedinginan.


"Kamu... Kamu berani sekali. Kalian....! tangkap jalang kecil itu untukku.." Tuan muda Jendral memerintahkan kesatria nya untuk menangkap Aquila.


SRINGG....


Suara gesekan pedang dengan wadahnya begitu nyaring dan membuat orang yang ada disekitarnya langsung menjauh untuk menghindari kecelakaan yang mungkin saja terjadi.

__ADS_1


"Kak Nami, kurasa kamu bisa 'memotong' sesuka hatimu. Tapi jangan lukai warga yang tidak bersalah, dan biarkan bajingan itu." Kata Aquila malas dan sambil mengelus Shiro yang masih tertidur didalam dekapannya.


"Baik nona, keinginanmu adalah perintah bagiku." Ucap Minami mantap dan mengambil belati kembar dibelakang tubuhnya.


"Huuuhhh.... sudah kubilang, jangan formal kepadaku." Kata Aquila jengah karena Orang yang dia anggap kakaknya masih saja kaku dalam pembicaraan.


Minami melesat bagaikan bayangan disiang hari, dengan baju hitam dengan tudung kepala yang menutupi rambutnya yang berbeda warna. Seperti gagak yang merentangkan sayapnya untuk menjemput maut dibawah cakarnya.


Dengan lihainya, Minami memotong tangan atau kaki dari kesatria yang memakai zirah besi berwarna perak. seakan-akan besi itu adalah tahu yang lembut. Teriak kan kesakitan dan darah yang yang menggucur seperti air terjun bagian yang terpotong membuat siapapun yang melihatnya ngeri dan ada pula membuang makanan dalam lambungnya dan ada pula yang tidak sadarkan diri.


Tidak lama, kesepuluh satria itu tumbang dengan badan yang tidak utuh. Serta rasa sakit dari kehilangan anggota badan yang mereka banggakan untuk mengayunkan pedang dan kaki untuk menindas.


Minami merasa sudah cukup 'memotong' langsung kembali kebelakang tubuh Aquila dan bersikap biasa saja seolah yang perbuatan itu bukan dirinya. Tanpa debu dan jejak darah yang menempel di bajunya.


Seakan tidak percaya, tuan muda menampar pipinya dengan keras. Rasa sakit di pipinya menjalar dalam kegilaan dalam pikirannya.


"Ti-tidak mungkin. Kamu bener-benar monster...!!!" Sambil menunjuk Aquila dan tanpa dia rasakan, dia terkencing ditempat dan membasahi lantai jalan.


Aquila menyerahkan Shiro yang masih terlalap dalam tidurnya kepada Minami. Dengan langkah santai, Aquila menghampiri tuan muda itu dan mencengkram dagunya.


"Aku bukan monster, aku hanyalah manusia biasa yang kau usik sebelumnya." Aquila pun mengambil sebilah belati yang selalu melekat di pinggangnya yang ramping.


Belati yang dingin itu menyentuh pipi tuan muda yang ketakutan dan tidak bisa melawan karena tubuhnya sudah tidak mengikuti kemauannya untuk bergerak.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya tuan muda? Bukankah kamu selau menghantui setiap gadis yang ada di kota ini untuk kau ambil darah perawanya?" Kata Aquila dengan sarkas dan masih bermain belati di wajah tuan muda itu.


"Ka-kamu lepas kan aku. A-aku akan mengampuni mu hari ini. Jika kamu melukaiku, ayahku tidak akan pernah melepaskan mu." Ucap tuan muda itu dengan terbata.


"Heh... Aku tidak takut dengan ayah mu sama sekali. Tapi binatang sepertimu harus diberi pelajaran dengan sesuai dengan tepat." Kata Aquila sambil menggores belatinya ke wajah yang pucat karena ketakutan.


Darah mengalir diwajah seputih kertas membuat tuan muda itu meringis karena perih diwajahnya. Aquila berdiri dan langsung menendang wajah yang membuatnya ingin muntah sebelumnya.


Orang-orang yang melihat kejadian itu terkejut karena gerakan Aquila yang menendang wajah anak dari seorang jendral di kekaisaran Selatan yang terkenal kejam dan beringas dalam membunuh orang yang mengganggu anak kesayangannya itu.


Tapi, mereka juga sangat bersyukur karena ada seseorang yang memberi pelajaran ketuan muda yang bejat itu. Dengan rasa sakit dan perih diwajahnya membuat nya meringis dan memohon untuk dilepaskan.


"T-tolong lepaskan a-aku, aku berjanji t-tidak akan m-melakukannya lagi."


"Kau kira aku perduli? kau tidak memikirkan korban mu yang telah kau nodai sebelumnya? Tidak kan?" Kata Aquila dengan senyuman miring diwajahnya yang datar namun cantik.


Dengan langkah pelan namun pasti, kaki kanan Aquila langsung melayang diantara pangkal kaki bagian tengah dengan keras. Pria yang melihat tindakan Aquila langsung menutupi benda berharga mereka dan ngilu dengan rasa sakit bila mereka rasakan.


Jeritan keras dari mulut tuan muda itu dan darah yang mengalir dari selangkangannya, seketika tuan muda itu langsung tidak sadarkan diri dengan mulut berbusa.


"Aku rasa sudah cukup. Saatnya kembali dan penginapan untuk tidur, aku sudah cukup lelah." Kata Aquila kepada Minami.


Suasana sore hari dikota itu tidak seperti biasanya, keributan itu menyebar keseluruhan kota dalam sekejap dan orang-orang merasa sangat tertolong dengan Aquila yang sudah memberi pelajaran ke tuan muda yang membuat resah diman-mana.

__ADS_1


__ADS_2