
Matahari telah tenggelam, bulan purnama kini menjadi sumber cahaya membuat bintang redup tenggelam dalam cahaya bulan yang cerah.
Bulan bagaikan perak yang melayang di langit gelap dengan cahayanya yang agung menyinari gurun yang tenang. Namun terusik oleh seekor magical beast ular dengan sisik kasar yang muncul dari hamparan pasir halus yang sudah mendingin.
Kepulan debu masih terlihat jelas dengan bantuan sang bulan, pasir gurun masih terus berjatuhan seperti aliran air dari atas yang berasal dari kepala ular yang baru saja muncul dari dalam pasir.
Magical beast itu terlihat seperti ular gurun namun dengan tanduk runcing dipunggung dengan berjajar rapih berwarna kuning keemasan yang memantulkan cahaya bulan.
Pupil mata yang vertikal menatap tajam mengarah kedua sosok gadis yang berdiri dengan tenang dan senjata tajam ditangan salah seorang gadis dengan memakai tudung hitam. Lidah ular keluar dari dalam mulut ular dengan taring yang keluar dari dalam, menegaskan kalau dia sangat berbahaya bagi manusia.
Namun tidak bagi Aquila dan Minami, dimata Aquila terlihat seperti anak kecil yang sedang meminta digendong untuk dijauhkan dari bahaya.
"Sepertinya dia dikendalikan kak Nami." Kata Aquila yang sedang mengamati ular raksasa yang berdiri dihadapan mereka.
"Aku rasa begitu nona, bolehkan aku menangani mereka nona?" Ucap Minami meminta izin.
"Tentu saja kak, aku tidak melarang kakak untuk menghadapi mereka." Ucap Aquila dengan acuh, seolah semua itu bukan tanggung jawabnya tentang nyawa manusia yang kejam.
"Kalau begitu, aku pergi nona." Minami pun menghilang ditelan kegelapan malam.
"Dan sekarang giliran ku." Kemudian Aquila membuat rune sederhana dan kemudian cahaya abu-abu keluar dari dalam rune itu dan mengangkat Aquila diudara malam.
Mata ular yang besar memantulkan cahaya bulan dengan warna merah menyala seperti darah dengan aura kematian yang kental. Lidah ular yang sensitif karena sensor panas dari mahluk hidup langsung bergerak dan kemudian masuk kembali dalam mulutnya.
Kemudian, ular raksasa itu langsung menyerang Aquila dengan mulutnya yang lebar dan memamerkan giginya yang tajam dan runcing dengan bisa yang mematikan. Namun Aquila dengan mudah menghindari serangan dari ular raksasa, namun ekor ular itu langsung menyerang Aquila dengan cepat seakan enggan untuk melepaskan mangsa.
Karena serangan dadakan dari ekor ular itu, dengan terpaksa Aquila mengeluarkan uchikatan nya dari dalam sarung pedang untuk mengikis ekor ular yang tajam.
TRANG....
Benturan keras terdengar dari bilah uchikatana yang tajam dengan ekor ular yang keras dan tajam. Percikan api terlihat jelas di kegelapan malam akibat gesekan benda tajam.
Aquila yang sebelumnya melayang di udara, terpental karena tamparan ekor ular dan menyebabkan Aquila terjatuh dari ketinggian dan menghantam pasir.
__ADS_1
BBUUUMMM....
Kepulan debu melayang dan tertiup hembusan angin malam yang dingin, setelah debu menghilang Aquila berdiri dengan tegap namun mulut ular langsung menyerang Aquila dengan ganas.
Akibat serangan mendadak dari ular raksasa itu, Aquila hanya bisa menaggkis dengan uchikatana yang berada ditangannya dan terdorong jauh dari tempat semula.
"Tch, merepotkan..!" Keluh Aquila sambil mengibaskan jubah putih yang dia kenakan.
Sssstttt......
Desisan ular mengancam dengan lidah merah tua yang keluar dari dalam mulutnya yang lebar. Lalu ekor ular yang tajam dan keras langsung menyerang Aquila dengan membabi buta dan membuat siapapun yang mendapatkan serangan itu pasti akan tewas dalam sekejam mata.
Namun, Aquila telah pergi dari tempat ia berpijak dan kini Aquila mengeluarkan rune dengan cahaya coklat muda dan kemudian tanah langsung memerangkap tubuh ular yang besar.
BUUMMMM......
Seketika tanah yang mengurung tubuh ular raksasa itu langsung hancur menjadi debu dan sebuah rune dengan cahaya kuning keemasan keluar dari dalam mulut ular raksasa. Dari dalam rune itu keluar puluhan tombak dengan warna emas dan langsung menyerang Aquila.
Aquila hanya bisa menghindar dari serangan bertubi-tubi dari tombak itu. Setelah serangan tombak iku berakhir, Aquila langsung menyerang ular raksasa itu dengan rune element petir yang dia pelajari dari buku perpustakaan menara milik Rugiel.
"Huh..! Telekinesis. Ternyata magical beast dapat menguasai nya." Ucap Aquila sambil terus menghindari tombak emas yang terus mengejarnya.
"Kalau begini saja, bagaimana aku bisa istirahat?!" Keluhan Aquila kembali terucap dari mulutnya dengan wajah yang terlihat jengkel.
"Kenapa kak Nami lama sekali ya?"
Sssstttt....!!!
Desisan suara ular raksasa itu langsung membuat Aquila kembali memfokuskan dirinya kepada sang ular dan tombak yang terus mengejarnya.
"Upas! Maaf, aku melupakan mu hehe.." Aquila dengan senyum yang mengejek.
"Berkilau ditengah kegelapan,
__ADS_1
Dibalik awan hitam yang kelam,
Munculah halilintar,
Dan lupuhkan lah...!"
Setelah mengatakan mantra, sebuah rune besar melayang di langit dengan cahaya kuning pudar keluar dari dalam rune itu.
Duuaarrr........!!!!!
Kilatan cahaya kuning kemerahan langsung keluar dari dalam rune itu dan menyambar kearah ular raksasa yang tengah fokus menggarkan serangan telekinesis tombak kepada Aquila.
Namun naas, ular raksasa itu tidak dapat menghindari dari Sambaran petir dan menyebabkannya sang ular langsung pingsan dengan bagian sisik yang keras miliknya terkelupas.
Kepulan asap dengan aroma hangus tersebar. Aquila langsung menghampiri ular raksasa yang sekarang menjadi ular kecil seukuran kelingking dengan bagian tubuh hangus dengan sisik yang lepas dari tempatnya.
"Apa aku berlebihan? Hei kamu masih hidup kan?" Pertanyaan yang konyol keluar begitu saja dari dalam pikiran Aquila yang penasaran sekaligus cemas.
"Bodoh! Mana mungkin dia bisa menjawab. Sedangkan nafasnya saja tinggal satu." Aquila menjawab pertanyaan nya sendiri sambil memukul dahinya.
"Tidak aku sangka kalau ukuranmu sekecil ini, apa semua magical beast bisa menyusutkan ukuranya ya?" Aquila sambil menggerakkan tubuh ular kecil itu dengan jarinya karena penasaran.
Aquila yang merasa kasihan dengan kondisi si ular yang terluka itu, Aquila langsung menyembuhkan luka ular kecil dengan element cahaya nya yang lebih lemah dari pada milik Minami. Namun masih mampu untuk menyembuhkan luka kecil.
Setelah luka pada ular itu sembuh, Aquila melihat rune ungu gelap di kepala ular kecil itu yang mengeluarkan cahaya lemah.
"Kenapa harus rune itu lagi!? Apa tidak ada yang lain apa?!" Wajah Aquila langsung buruk karena rune perbudakan yang terlihat di kepala ular kecil.
"Kegelapan didalam cahaya,
Yang merebut kebebasan mahluk,
kini ku kembalikan cahaya,
__ADS_1
Kini kebebasan menjadi milikmu."
Rune ungu gelap dikepala ular itu langsung hilang seperti uap panas dan kemudian menyatu dengan kegelapan malam dengan cahaya rembulan yang tenang.