Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 158


__ADS_3

Beberapa puluh tahun telah berlalu, dunia Callista yang dahulu kacau balau kini sudah kembali tenang dengan sang pilar yang menempati kediaman menara meraka masing-masing.


Disebuah danau dengan pohon wisteria berbunga putih menambah keindahan dari sebuah menara yang berdiri dengan kokoh. Dan tidak jauh dari tempat itu terdapat sebuah rumah sederhana dengan sebuah pohon willow yang terus mengayunkan daun dengan ringan tertiup angin.


Didalam rumah itu terdapat seseorang pemuda dengan surai putih menggantung di punggungnya yang kokoh terus memandangi pohon willow itu dengan memancarkan kerinduan pada seseorang. Ketenangan yang terpancar dari wajah nya seketika menghilang dengan suara teriakan yang sangat begitu nyaring.


"Rino......!!!!!! Kapan kita pergi ketempat tinggalnya kak Aquila di sana, aku sudah tidak sabar untuk tidak menunggu lagi...!!" Teriak seseorang dengan surai ungu dengan sepasang tanduk di dahinya.


"Bisakah kau diam saja Adrian, apa kau ingin membuatku tuli?" Kata Helios sambil menutup salah satu telinganya.


"Cih...! Menyebalkan, kenapa kau ikut kesini? Dan juga, kenapa kalian semua juga?" Tanya Adrian dengan wajah yang terlihat ditekuk.


"Eh..? Setahuku kita akan berkumpul disini untuk mengunjungi tempat tinggal kak Aquila di sana?" tanya Soleil.


"Benar, lagi pula kenapa kau semakin cerewet saja Adrian, kau dulu sangat enggan untuk mengucapkan sepatah kata." Kata Nix menyindir.


"Ah..... Eh....? Benarkah? Aku tidak tahu akan hal itu." Kata Sebasta sambil memandangi Adrian yang membuang muka.


"Tentu saja, lagi pula selama ini kamu kemana saja ha? Kenapa baru sekarang kamu memperlihatkan ekor mu?" Tanya Vent Leger dengan menatap tajam Sebasta.


"A-aku ada urusan yang membuatku tidak bisa pergi jauh dari menara ku!" Jawab Sebasta dengan panik.


"Ho....? Benarkah? Bukankah kamu hanya mengembalikan mana mu yang terkuras habis?" Tanya Vent Leger dengan nada menggoda.


"Kenapa si cengeng itu belum muncul juga, Leil kau tau dimana dia?" Tanya Ignatius sambil mencari sosok Rugiel yang tidak terlihat itu.


"Aku tidak tau, seharusnya dia sudah datang sejak tadi." Kata Soleil yang juga mencari keberadaan dari sang pilar halilintar itu.

__ADS_1


"Giel sudah datang sedari tadi sebelum si ular itu datang." Kata Shiro sambil melirik pohon willow yang terus mengayunkan dedaunan yang tertiup angin.


"Benarkah? Giel....!!! Dimana kamu.... Jangan bersembunyi terus... atau kami tinggalkan kamu nanti....!!" Teriak Sebasta sambil membuka beberapa semak bunga Gardelia untuk mencari sosok Rugiel.


"Sebasta, apa yang kamu cari, Giel tidak ada di sana." kata Nix yang melihat Sebasta yang terus membuka semak-semak.


"Ah.... apa yang Nix katakan tadi benar, mana mungkin burung itu sembunyi di semak-semak seperti ini." Kata Sebasta sambil menyembunyikan rasa malunya.


"Woi...!! Giel....!! Cepat turun... Itu bukan sarang untuk tidur...!" Teriak Vent Leger sambil menggoyang pohon willow didepan rumah sederhana Shiro.


"Berisik sekali.... Aku masih ingin tidur... bukankah mereka belum datang semua.." Kata Rugiel dengan suara yang malas.


"Satu-satunya yang belum hadir itu kamu cengeng..!" Teriak Ignatius yang tidak suka dengan sifat kemalasan yang dimiliki Rugiel.


"Baik-baik... Ignatius ucapan mu semakin tajam, itu melukai perasaanku tau. Aku turun sekarang... Aku kira kalian belum datang semua, jadi aku meminta izin Rino untuk tidur sebentar disini." Kata Rugiel yang masih ada di dahan pohon willow.


"Uhuk.... Rasanya aku ingin muntah.." Kata Vent Leger dengan menutup mulutnya.


"Wah... kau jahat sekali Eger... setidaknya buat aku senang sedikit kenapa?" Kata Rugiel dengan mengibaskan rambutnya.


"Sudah... sudah... kalau kalian terus bertengkar, kapan kita akan pergi ke sana?" Kata Soleil melerai pertikaian yang akan terjadi.


"Apa yang dikatakan Soleil itu benar, Sebasta tolong lakukan." Kata Shiro setuju dengan apa yang dikatakan oleh Soleil.


"Serahkan saja pada ku.." Kata Sebasta semangat, lalu mulai membuat pintu teleportasi untuk mengantarkan mereka ketempat yang ingin mereka tuju.


Disebuah rumah yang sederhana, dengan pohon rindang dihalaman rumahnya serta dengan berbagai jenis bunga yang membuat rumah sederhana itu terlihat sangat asri dan tenang. Dan terdapat seekor rusa kristal yang tengah merebahkan tubuhnya dibawah pohon rindang itu sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Namun, dalam sekejap rusa kristal membuka matanya sambil memandang waspada pada sebuah lingkaran yang sama persis untuk mengantar dirinya dan sahabat nonanya beberapa tahun lalu.


Namun kewaspadaan nya menghilang bagaikan uap, karena dari portal itu keluar seekor kucing putih diikuti juga dengan burung Griffin, kura-kura, elang, dua ekor ular ungu dan biru, serigala berukuran kecil dan seekor macan tutul salju serta burung dengan warna merah cerah.


"Lama tidak jumpa kak, bagaimana dengan kabarmu?" Sapa Shiro kepada sosok rusa kristal itu yang tidak lain adalah Leave.


"Aku baik-baik saja, sudah lama tidak berjumpa Shiro." Sapa balik Leave ramah.


"Apa ini rumah kak aquila?" Tanya Soleil sambil menatap bangunan rumah sederhana yang ada dihadapannya.


"Wah.... Banyak sekali bunganya....." Kata Nix kegirangan sambil berlari untuk melihat bunga-bunga yang bermekaran, hal ini sangat wajar karena Nix adalah pilar penguasa musim.


"Cukup nyaman juga disini tidak terlalu panas atau dingin, rasanya aku sedang di pelukan kak Aquila." Kata Adrian dengan polosnya dan juga perkataannya mewakili perasaan dari saudaranya yang lain.


"Apa kalian ingin masuk dalam rumah nona, rasanya kalau kalian ada diluar akan menarik perhatian orang-orang." Namun apa yang dikatakan Leave itu benar apa adanya


Sebab Leave adalah hewan sepirit yang tidak dapat dilihat, namun berbeda dengan Shiro dan saudaranya yang dapat dilihat secara kasat mata, yang tentu saja akan menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang dijalan mengambil mereka untuk dijadikan hewan peliharaan karena warna mereka yang mencolok akan keindahan.


"Aku rasa benar apa yang dikatakan rusa kristal ini, tatapan manusia disini membuatku tidak nyaman." Kata Ignatius gusar.


"Ha ha ha.... Dasar Ignatius, baiklah kak, aku dan saudaraku akan merepotkan mu untuk sementara waktu." Kata shiro setuju dengan yang dikatakan oleh Ignatius.


"Tidak sama sekali, aku rasa nona akan senang melihat kalian nanti." Kata Leave tersenyum misterius namun terlihat kebahagiaan dimatanya yang cantik.


"Apa kak Rin tidak ada di rumah?" Tanya Adrian kepada Leave yang sedang mengantar mereka kedalam rumah Dita.


"Nona Rin? Jika sekarang nona sedang berkerja, mungkin nanti sore mereka akan pulang. Ayo masuk, anggap seperti rumah sendiri." Kata Leave m jawab pertanyaan dari Shiro.

__ADS_1


Mereka pun masuk dalam rumah setelah pintu terbuka, namun didalam pikiran mereka semua ada yang mengganjal dalam perkataan Leave barusan.


__ADS_2