Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 63


__ADS_3

Saatnya bagi sang Surya untuk kembali ke peraduannya, setelah berkelana mengelilingi cakrawala yang luas di langit biru. Dan kini saatnya bagi sang bulan untuk menemani Dunia terlelap dalam gelap malam yang diiringi dengan bintang yang cerah.


Malam sunyi menjadi begitu tenang bagi burung hantu yang bertengger didahan kering. Suara burung hantu bersahut-sahutan ditengah kegelapan untuk menemani sang bulan dan bintang yang tergantung di langit malam yang gelap.


Kunang-kunang menghiasi setiap semak belukar yang meranggas dan hanya menyisakan batang yang kering. Cicada menyanyi menemani kunang-kunang yang menari dengan cahaya yang bagaikan pelita kecil di kegelapan malam.


Malam telah berlalu, kini tiba saatnya bagi sang bulan untuk beristirahat dengan cahaya matahari yang bersinar kemilau bagaikan emas dan permata yang bersinar dan membiarkan sang Surya kembali berkelana di cakrawala yang luas.


Kicau burung terdengar merdu dengan embun pagi yang sejuk menghiasi daun muda yang tumbuh. Bunga kecil bermekaran mengeluarkan semerbak harum mewangi di setiap sudut hutan yang tenang.


Para manusia terbangun dari mimpi indah, karena sang Surya telah bersinar cerah. Seseorang gadis elf dengan rambut yang indah keluar dari dalam tenda dan diikuti juga oleh seorang gadis dengan rambut putih keperakan dengan tanduk yang bersinar memantulkan cahaya matahari.


Mereka yang melihat kedua gadis itu langsung menyala dengan hormat dan kemudian melakukan pekerjaan yang baru saja dimulai. Rumah sederhana berjejer rapih yang terbuat dari kayu menghiasi sisi jalan yang baru saja dibuat dan mengarah kesebuah bangunan sederhana.


Beberapa perempuan yang berada didalam bangunan itu sedang memfokuskan diri membersihkan sayuran dan memotongnya. Dan sebagiannya lagi membuat bubur gandum yang tersisa dari persediaan bangsawan yang membawa mereka dalam hutan Roa.


"Ah, nona Minami dan nona Leave. Selamat pagi." Sapa seorang perempuan yang membawa sebuah keranjang penuh roti.


"Selamat pagi. Dirimu terlihat sangat bersemangat sekali pagi ini?" Kata Miinami terheran, biasanya mereka melakukan kesibukan bagi secara biasa. Namun hari ini mereka terlihat antusias dan bersemangat.


"Tidak nona, kami semua hanya sangat bahagia dan bersyukur setelah mengetahui kalau penyelamat kami sudah terbangun dari tidur panjangnya." Kata seorang perempuan yang berada dibelakang perempuan yang membawa roti.


"Jadi begitu. Aku dan Mianami permisi untuk membuat sarapan nona Aquila." Ucap Leave sambil berlalu melewati kedua wanita itu dan disusul juga oleh Mianmi.


Setelah itu, kedua perempuan itu keluar dari dalam bangunan sederhana yang mereka sebut sebagai dapur umum dan mereka berdua mengantarkan makanan yang mereka bawa kesebuah meja yang tidak terlalu besar namun cukup menampung banyak makanan.

__ADS_1


Matahari muncul dari rimbunnya pepohonan hutan Roa. Makanan yang mereka buat sebelumnya telah ditata dimeja yang terbagi menjadi bubur gandum, ayo sayuran dan daging, roti dan beberapa buah liar yang dapat dimakan.


Mianami dan Leave keluar dari dalam dapur itu untuk mengantarkan sarapan yang telah dibuat kepada Aquila dan kedua pilar dan tidak tertinggal juga laba-laba Archane yang sibuk membuat kain dari benang sutra miliknya.


Kain tenda terbuka oleh tangan yang terbalut sarung tangan berwarna kuning keemasan, lalu mengikatnya dengan tali yang berada disisi kain itu.


Didalam tenda, seseorang gadis tengah terduduk dengan rambut terurai bebas dan seorang remaja dengan Surai putih tengah menyisir rambut gadis itu yang berwarna hitam seperti malam yang tenang. Dengan sisir kayu Cendana yang harum. Dua burung kecil berwarna merah jingga berkicau riang di atas meja dengan cermin terpasang bingkai kayu yang terukir indah.


"Kak Aquila, apa ini sudah cukup rapih?" Tanya Shiro sambil menunjukan hasil karyanya mengikat rambut.


"Tidak terlalu buruk, tapi cukup rapih." Puji Aquila sambil menyentuh ikatan rambutnya yang berhias lonceng kecil.


"Hehe, tapi aku tidak bisa mengikat serapah nona Leave kak." Ucap Shiro tersipu malu karena pujian dari Aquila.


"Kak Aquila, tolong sisirkan rambutku juga..." Shiro mengatakannya dengan nada yang manja dan kemudian menyerahkan sisir di tangannya kepda Aquila.


Aquila mulai menyisir rambut Shiro yang tidak terlalu panjang atau pendek, namun cukup rapih dengan telinga kucing yang melekat di kepala shiro.


Rugiel yang melihat Shiro tengah dirapikan rambutnya oleh Aquila, Rugiel langsung berjalan kearah Aquila dan menarik kain sifon yang tergantung sisiku Aquila dengan pelan. Aquila yang merasa tarikan kecil dari tangganya langsung menghentikan kegiatannya.


"Ada apa Rugiel?" Tanya Aquila.


"Giel ingin seperti Rino juga kak." Jawab Rugiel dengan mata yang berkaca-kaca penuh harap.


"Giel bermainlah dulu, rambutku belum rapih." Kata Shiro dengan wajah yang menolak.

__ADS_1


"Tapi rambut Rino sudah rapih. Dan rambut Giel sangat kusut." Kata Rugiel sambil menarik-narik tangan Aquila yang masih menyisir rambut Shiro.


"Tunggu sebentar Rugiel, sebentar lagi selesai kok. Jadi tunggu sebentar lagi, ya?" Ucap Aquila memberi pengertian kepada Rugiel.


Setelah selesai menyisir rambut Shiro, kini giliran Rugiel untuk dirapihkan rambutnya oleh Aquila. Namun wajah Shiro terlihat cemberut karena belum puas.


"Oh iya Shiro,sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanya Aquila untuk mencairkan suasana yang canggung itu.


"Tidak terlalu lama kak, hanya satu bulan saja kak Aquila tertidur." Jawab Shiro sambil memegang sebuah jubah putih yang terlipat rapih.


"Selama itu?! Aku kira, aku sudah tidur selama berbulan-bulan. Dasar Dewa Khronos, lihat saja nanti kalau kita bertemu kembali." Kata Aquila terkejut, namun diakhir kalimatnya terdapat umpatan.


"Kak Aquila berbicara apa?" Tanya Rugirl dengan polosnya.


"Tidak ada, hanya terkejut saja karean aku tertidur selama itu." Kata Aquila sambil menata rambut Rugiel.


"Kak Aquila, aku rasa kita harus segera membebaskan Soleil. Saat kak Aquila tertidur, aku mendengarkan raungan Soleil yang terdengar sangat kesakitan." Kata Shiro kepada Aquila dengan tatapan penuh harap.


"Giel juga, raungan Soleil terdengar sangat kesakitan. Giel merasa sakit disini." Kata Rugiel sambil menyentuh dada kirinya.


"Benarkah? Apa begitu sangat sakit Rugiel? Apa Shiro merasakannya juga?" Tanya Aquila dengan cemas.


"Tenang saja kak, aku ini kan sangat kuat, rasa sakit yang aku rasakan tidak terlalu sakit." Kata Shiro dengan bangga namun menyembunyikan hal yang sebenarnya.


"Rino kamu berbohong. Padahal saat itu kamu menangis dan bersembunyi didalam selimut kak Aquila." Kata Rugiel membantah ucapan Shiro.

__ADS_1


Dan hal itu membuat Shiro malu karenanya, Aquila melihat Shiro dengan tatapan penuh tanda tanya dengan ucapan Rugiel tentang Shiro adik pertamanya yang mulai berbohong menyembunyikan kebenaran.


"Shiro, apa itu benar?" Tanya Aquila memastikan.


__ADS_2