Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 125


__ADS_3

Boneka yang ada dihadapan Minami terlihat tidak berdaya, namun masih terdengar tangis lirih yang menyayat hati Minami yang sangat menyukai anak-anak yang berhati murni. Namun suara itu sirna dan digantikan tawa cekikikan yang tidak jelas menghempaskan keberanian yang sebelumnya terkumpul sedikit dari orang-orang yang berjuang menghindari dari setiap serangan para bayi yang sudah menjadi boneka sudah tidak memiliki kesadaran.


Leave pun berusaha sebisa mungkin menghalau serangan yang tidak beraturan dari segala arah seperti lebah yang terusik didalam sarang dan menjadi beringas akan musuh yang datang. Orang-orang yang memiliki sihir juga ikut membatu Leave meski sedikit mengurangi Setipa serangan itu.


Sedangkan Aquila masih berdiri di tempat sebelumnya dengan wajah acuh nan dingin namun tersirat sebuah dendam yang tersulit kepada seseorang yang sedang mengamati sekitarnya dengan seringaian di wajah nya yang rupawan. Sedangkan para pilar sudah disembunyikan oleh Aquila sebelum kembali ketempat yang penuh dengan kekacauan itu.


"HA..HA..HA.. Bagaimana? Bonekaku sangat tangguh bukan?" Tanyanya dengan wajah yang sangat bahagia diatas penderitaan orang-orang yang berusaha menghindari dan melindungi dari setiap serangan dari para boneka yang dia kendalikan.


Minami hanya menatap datar pemuda yang ada dihadapannya dan terus berusaha menghindari dari setiap boneka yang terus menyerangnya tanpa jeda. Aquila juga masih terus mengawasi setiap dari gerakan atau pola dengan yang diluncurkan kepada Leave dan Minami dan sesekali terdapat serangan dari boneka yang menghampirinya.


Dan kemudian Aquila berjalan dengan santai seperti menaiki tangga menghampiri Minami yang terus menerus menangkis dan menyerang secara teratur di langit yang luas. "Kak Nami, apa kakak memerlukan batuanku?" Tanya Aquila menawarkan bantuan kepada Minami yang sudah kewalahan menghadapi satu boneka yang diselimuti kabut beracun dengan cakar yang tajam.


"Kalau begitu. Mohon bantuannya nona."Jawab Minami disela-sela Setiap serangan yang mengarah padanya.


"Dengan senang hati aku melakukannya kak." Kaya Aquila dengan senyum yang terlihat sangat menawan, namun tersimpan sebuah ancaman.


Putra mahkota yang melihat Aquila yang tengah menghampirinya hanya bisa menatap Aquila dengan penuh ejekan dan hasrat keji akan keabadian.

__ADS_1


"Gadis kecil, apa kau mengantarkan tubuhmu untuk kau serahkan pada ku? HA HA HA maka dengan senang hati aku akan melayaniku dengan sangat baik." Katanya dengan seringai jahat.


"Kau pikir siapa kau? Sadarlah dari mimpi semu mu dan terimalah ganjaran dari setiap perbuatan mu." Kata Aquila dengan sebilah pedang ditangannya yang berselimut api biru.


"He he, gadis kecil. Apa kau sedang ingin bermain dengan dewa ini?" Tanya nya dengan tawa meremehkan.


"Tentu saja, tapi kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri. Apa kau tau, aku sangat tidak suka dengan orang yang terlalu membanggakan dirinya sendiri?" Jawab Aquila dengan wajah acuh yang berselimut kabut dingin membentuk rune membentuk sebuah bunga lotus emas yang memancarkan cahaya menenangkan.


"Dewa ini tidak sedang membanggakan diri sendiri. Lihatlah, mereka para mahluk rendahan itu sedang bersujud di hadapanku dan memberikan darah dan air matanya sebagai pengorbanan mereka padaku." Kata nya dengan sangat bangga dan senyum puas karena kinerja para boneka buatannya itu membuat orang-orang yang mengikuti festival lentera menjadi mayat dan raungan tangis yang memecahkan kesunyian.


"Cih... Orang ini. Apa obatmu sudah habis? Sehingga membuat otakmu menjadi kehilangan fungsinya?" Kata Aquila yang menanggapi ucapan orang yang ada dihadapannya itu yang menurutnya seperti orang yang memliki kelainan jiwa.


"Apa kau sudah tidak memiliki otak? Kau mengumumkan kalau dirimu adalah dewa. Tapi kenyataannya kau hanyalah manusia berhati iblis. Bahkan iblis pun tidak akan melakukan hal yang keji terhadap sesamanya." Kata Aquila dengan nada yang sakartis membuat orang yang ada dihadapannya semakin tersulut api amarah.


"Dasar mahluk rendahan. MATI SAJA KAU DAN JADILAH SALAH SATU BONEKA MILIKKU....!!!" Ucap putra mahkota kekaisaran Zemlya yang sudah berada diakhir kesabarannya dan menyerang Aquila dengan sebuah mana gelap yang pekat akan kematian.


Aquila menatap acuh pada pemuda yang ada dihadapannya yang notabennya adalah putra mahkota kekaisaran Zemlya yang juga telah membuat salah satu adiknya menjadi trauma akan setiap luka yang dia emban dalam beberapa tahun terakhir. Setiap serangan milik putra mahkota itu hanya menghempaskan rambut perak Aquila dan tidak membuatnya rusak meski hanya sehelai rambut.

__ADS_1


"Apa segini saja kemampuanmu yang kau banggakan itu? Sangat tidak memuaskan." Kata Aquila dengan terus menghindar Setipa serangan mematikan itu, seakan sedang bermain dan menari dengan kematian.


"DIAM KAU....!!! Kalau kau mahluk rendahan memliki kemapuan, maka serang aku dan jangan menghindar sepeti lalat." Ucapnya yang penuh amarah.


"Baiklah, kalau itu keinginanmu. Maka DENGAN SENANG HATI aku akan memberimu sebuah hadiah yang kau inginkan. JATUH DAN BERSUJUD...!!" Kata Aquila dengan menggunakan salah satu elemen tanah yang menggunakan kekuatan gravitasi yang dapat menarik apapun untuk menuruti perintahnya dan angin untuk membuat targetnya tidak dapat melawan.


BUUMMM.....!!!


Seperti sebuah meteor yang terhempas di daratan, menimbulkan percikan api dan kepulan debu dan asap yang tebal. Aquila hanya menatap acuh tidak perduli pada orang yang memaksanya menggunakan kekerasan. Dan setelah kepulan debu dan asap menghilang, terlihat jelas sebuah lubang menganga dengan sesosok manusia yang bersujud tidak bergerak seperti batu.


"Apa yang kau lakukan pada dewa ini?! Apa kau sedang mencari kematian...!!" Ucapnya dengan marah meski wajahnya terkubur dalam tanah yang dingin.


"Kau tidak layak untuk mengutukku untuk mati. Yang pantas mati adalah kau yang berani melakukan hal yang bukan sepatutnya manusia lakukan. Oh, aku baru ingat. Kalau kau adalah orang yang membuat adikku yang manis mengalami trauma. Dan kali ini aku akan membuatmu merasakan apa yang adikku rasakan." Kata Aquila dengan menggenggam pedang yang berselubung api biru dengan erat hingga terlihat bergetar meski samar.


Seluruh boneka yang awalnya menyerang orang-orang didalam Aray dan Minami, kini memandang Aquila dengan penuh dendam, dan dalam sekejap mata seluruh boneka itu langsung menyerang Aquila seperti lebah mengerubungi ratu mereka.


Namun serangan itu hanyalah sia-sia, seluruh boneka bayi itu dilahap oleh api biru yang berasal dari perang milik Aquila. Dan tersisa hanyalah debu dan sebuah api kecil dengan warna putih nan suci yang bertanda kalau itu adalah jiwa dari setiap para bayi yang dijadikan boneka.

__ADS_1


"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN MAHA KARYAKU....!!!!" Teriaknya dengan marah sekaligus tidak percaya kalau gadis kecil yang dia remehkan itu dapat menghabisi seluruh boneka yang dia buat dengan susah payah dikalahkan dengan sekali serangan.


__ADS_2