
Shiro terdiam karena pertanyaan Aquila yang terlihat ingin memastikan ucapan Rugiel. Namun harga dirinya tidak mau mengakui kalau dirinya memang kesakitan.
Sebagai pilar utama, semua rasa sakit dari pilar yang lainnya rasakan akan dia rasakan juga. Hal ini lah yang membuat Shiro enggan untuk mengatakan sebenarnya kepada Aquila tentang kebenaran akan sebenarnya juga, dan Shiro takut membuat Aquila mencemaskan dirinya.
"Tentu saja tidak , mana mungkin aku melakukan hal yang memalukan seperti itu!" Kata Shiro dengan percaya diri untuk menyembunyikan rasa malu karena berbohong.
"Kamu berbohong lagi Rino, nanti kak Aquila menjadi marah karena Rino tidak jujur." Rugiel mengatakan dengan wajah yang polos dan tidak menghiraukan tatapan menusuk dari Shiro.
"Aku tidak berbohong." Kata Shiro dengan wajah berpaling.
"Shiro, katakan saja. Jangan menyembunyikan apa pun pada ku, apa Shiroku tidak menganggap aku bebagai kakak?" Kata Aquila membujuk Shiro dengan lembut.
"Bukan begitu! Tentu saja kak Aquila adalah kakakku. Aku bukan nya ingin berbohong, tapi aku tidak ingin kak Aquila menanggung semua penderitaan yang aku rasakan." Jelas Shiro.
"Shiro, kamu. Kenapa kamu menyembunyikan hal yang penting seperti ini?" Tanya Aquila dengan tatapan yang tegas namun lembut.
"Maafkan aku kak, aku hanya tidak ingin kakak khawatir kepadaku. Cukup aku saja yang merasakan rasa sakit dari saudra-saudaraku yang lain. Dan aku tidak ingin kakak menjadi seperti kemarin." Kata Shiro dengan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang menangis.
"Rino, Giel tau apa yang Rino rasakan. Tapi kak Aquila harus tau semuanya, dan bukan hanya kita yang merasakan rasa sakit ini, dirimu harus terbuka kepada kakak kita semua. Jadi, Rino harus terbuka kepada kak Aquila dan kami semua, dan jangan menanggung semua beban itu sendiri, sama seperti dahulu." Rugiel mengatakan hal yang sangat menyakitkan bagi Shiro, karena Shiro tidak ingin membuat siapapun menanggung beban itu termasuk Aquila yang dia anggap sebagai kakaknya.
"Shiro, aku mengerti apa yang kamu rasakan. Setidaknya jangan menanggung semua beban itu dihati mu yang rapuh. Biarkan aku juga merasakan untuk mengurangi beban yang kamu emban." Ucap Aquila sambil mengelus Surai putih milik Shiro.
"Aku tidak ingin kakak sakit seperti kemarin. Dan biarkan aku saja yang menanggungnya kak." Tolak Shiro namun, sebuah pelukan hangat menerpa dirinya.
Shiro terkejut dalam menundukkan kepalanya dan tidak berani mengangkat kembali. Namun kehangatan itu membuatnya tidak bisa membendung air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya yang indah.
__ADS_1
"Hhhuuuuu aaaaaa......... maaf kan aku, hiks, maafkan aku...." kata Shiro dengan menumpahkan air matanya didalam pelukan Aquila.
"Tidak apa, menangis lah. Aku akan ada disini." Kata Aquila sambil mengelus Surai putih milik Shiro.
"Hiks, Giel juga. Akan selalu ada disisi Rino hiks... jadi Rino, jangan menanggung semua sendiri hiks...." Rugiel ikut memeluk Shiro yang tengah dipeluk oleh Aquila.
"Hiks, jangan tinggal kan aku lagi. hiks, aku takut kak Aquila tidak kembali seperti kemarin hiks. Aku sangat takut kak huuaaa....." Shiro mengeluarkan semua ketakutannya yang ia sembunyikan selama ini.
"Kakak tidak akan pergi. Jangan takut, kakak akan selalu ada disini." Kata Aquila menenangkan Shiro yang masih memeluk erat dirinya dan terus menangis bersama dengan Rugiel yang ikut menangis juga.
"Ada apa nona, kenapa tuna Shiro dan Tuan Rugiel menangis terisak seperti ini?" Tanya Leave yang sudah berada didalam tenda dengan Minami yang juga mengikuti Leave dengan sebuah nampan kayu yang berisi beberapa menu sarapan.
"Ehh, kak Nami dan Kak Leave, tidak ada. Mereka berdua hanya mencemaskan aku saja selama tidak sadarkan diri." Kata Aquila dengan senyuman yang tulus dan tangannya masih membelai rambut Shiro dan Rugiel.
"Aku kira ada apa, ternyata seperti itu. Aku juga sangat khawatir karena nona tidur selama sebulan tanpa ada kemajuan sama sekali." Ucap Minami lalu meletakkan sarapan yang ia bawa di atas meja.
"Apa sudah membaik?" Tanya Aquila kepada kedua remaja yang sudah mereda tangisannya.
"Hiks, kakak harus berjanji padaku, kalau kak Aquila tidak akan pergi meninggalkan aku dan saudaraku yang lain, janji ya?" Kata Shiro sambil mengacungkan jari kelingkingnya yang kecil dan Rugiel juga mengikuti Shiro dengan mengulurkan jati kelingkingnya juga.
"Ya, aku berjanji. Dan juga Shiro, kamu harus berbicara dengan jujur jika merasakan sakit atau yang lainya. Dan jangan menanggung semua itu sendiri." Ucap Aquila sambil berlutut untuk menyamai tinggi badan kedua remaja yang sedang mengulurkan jari kelingkingnya.
"Aku janji." Ucap Shiro dengan menghapus air matanya yang tersisa.
"Giel juga." Lalu Aquila mengulurkan kedua tangannya untuk membuat janji kelingking kepada kedua adiknya yang imut.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo sarapan terlebih dahulu. Setelah itu, kita menjemput Soleil." Kata Aquila, kemudian ia berdiri dan mengacak-acak rambut kedua remaja itu yang sebelumnya sudah tertata rapih.
"Giel juga sudah lapar. Nona Nami, mana sarapan milikku?" Tanya Rugiel sambil duduk dimeja yang rendah dengan duduk dilantai bulu beruang coklat yang lembut.
"Sabarlah Giel, aku juga sudah lapar." Kata Shiro sambil ikut duduk di samping Aquila yang sudah duduk dengan anggun.
"Nona, apa nona sudah baikan?" Tanya Leave sambil memberikan semangkuk bubur gandum dengan ikan yang diasap dengan kematangan yang sempurna.
"Aku sudah lebih baik sejak semalam kak. Itu juga sebab kak Leave yang merawat ku, tentu juga kak Nami juga." Kata Aquila dengan senyuman yang indah, seindah mentari pagi tanpa awan yang menutupi sinarnya.
"Terimakasih nona." Ucap Minami dengan senyuman yang tulus.
"Ayo, kita sarapan terlebih dahulu. Setelah itu kita pergi ke kerajaan Zuwei." Ucap Aquila dengan penuh semangat.
"Ah nona, nona baru saja sembuh. Jangan terlalu memaksakan diri nona." Leave memberikan nasehat kepada Aquila.
"Kak Leave, aku sudah sehat jangan terlalu cemas." Kata Aquila lalu memakan bubur yang masih mengepulkan uap hangat.
"Kak Aquila, tambah." Shiro sambil menyodorkan mangkuknya yang sudah kosong.
"Cepat sekali, padahal aku belum menghabiskan setengah dari sarapanku." Kata Aquila terheran dengan kecepatan makan Shiro.
"Kan aku masih dalam masa pertumbuhan kak, jadi aku harus makan banyak."
"Rino, kamu yang paling tua dari kami semua. Dan umurmu juga sudah mencapai seratus abad. Dan tidak mungkin tulang mu akan tumbuh." Ucap Rugiel sambil memakan sarapannya dengan tenang.
__ADS_1
Shiro langsung menatap tajam Rugiel namun, yang sedang ditatap dengan santainya terus makan dengan wajah yang polos dan seakan tidak melihat raut wajah Shiro yang terlihat cemberut.