Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 143


__ADS_3

Hening. Satu kata menjadi kata yang tepat ditempat aula singgasana kekaisaran samudra saat ini. Sang prajurit yang baru saja melaporkan langsung jatuh lemah tidak sadarkan diri karena sudah tidak kuat menahan berat tubuhnya. Sedangkan sang penjaga gerbang hanya bisa menahan tubuh kawannya itu dengan lapang dada.


Sedangkan sang kaisar hanya bisa menahan kekesalannya sebab belum tahu semua informasi, namun sudah ditinggalkan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sedangkan Rin hanya bisa tersenyum dibalik helem zirah nya yang menutupi wajahnya.


"Kenapa iblis itu kemari? Sebenarnya apa yang dia incar?" Gumam sang kaisar pada dirinya sambil berjalan mondar-mandir didepan singgasananya dengan raut wajah cemas.


"Yang mulia, apa kah saya boleh bertanya?" Tanya Rin dengan suara yang tidak beremosi.


"Tanyakan saja.!" Jawabnya dengan kesal.


"Apa yang anda sembunyikan dari saya?" Tanya Rin dengan serius.


Tentu saja sang kaisar langsung menatap Rin dengan waspada, sebab hanya diri saja lah yang mengetahui rahasia yang berhubungan dengan sang pilar penguasa samudra.


"Ti-tidak ada! Bagaimana dengan tugas mu?" Tanya sang kaisar dengan mengalihkan pembicaraan, sementara Rin menyipitkan mata curiga kepada sang kaisar.


"Tentu saja saya melakukannya dengan baik. Namun..." Kata Rin dengan tidak menyelesaikan ucapannya. Tentu saja membuat sang kaisar samudra merasa kesal terhadap Rin.


"Namun apa?!" Tanyanya tidak sabar.


"Dia akan menjadi milik saya. Sebab saya melakukan kontrak darah dengannya. Dengan kata lain, Yang mulia tidak dapat merebutnya dari saya." Kata Rin dengan sinis.


"A-apa maksudmu...! Aku memerintahkan mu untuk membawakannya pada ku, bukan untuk kau jadikan hewan suruhanmu!!!" Bentaknya dengan menatap Rin penuh dengan kebencian.


"Sayang sekali, kau tidak dapat memerintah ku sesuka hatimu kaisar. Aku adalah SAINT. Bukan budak mu!" Kata Rin tegas sambil menekan gelar yang dia miliki.


Sang kaisar samudra langsung tersentak tidak percaya kalau saint yang dia panggil akan memberontak seperti ini, sebab saint yang dipanggil oleh para kaisar terdahulu selalu menuruti perintah tanpa penolakan.


"K-kau!! Apa yang kau maksud..?!" Tanyanya dengan ketidak percayaan.

__ADS_1


"Apa kau tidak mengerti yang mulia, aku memiliki pemikiran sendiri. Dan juga aku bukan pesuruh mu yang gampang kau berikan perintah. Dan ingat, pangkat ku lebih tinggi dari mu." Ucap Rin dengan pergi berjalan keluar dari ruang aula singgasana yang sudah sepi.


"Sialan..! Kenapa bisa menjadi seperti ini. Apa mungkin aku melakukan kesalahan saat memanggilnya? Itu tidak mungkin, aku sudah memastikan setiap prosedur yang telah ditulis pada perkamen oleh kaisar terdahulu." Ucapannya penuh tanya dengan kecurigaan yang terselip dihatinya.


"Dan juga, kenapa iblis itu ingin kemari? Apa yang sebenarnya dia inginkan dari kekaisaran ku?" Tanya nya kembali pada dirinya sendiri.


Sedangkan Rin terus berjalan dengan aura dingin di lorong yang menuju tempatnya yang dia tempati bersama dengan sang hewan penjaga yang berupa serigala es. Sedangkan para maid dan prajurit yang berlalu-lalang melakukan pekerjaannya masing-masing langsung berhenti dengan perasaan tidak nyaman dan menatap Rin dengan kecurigaan.


"Apa yang kalian lihat!" Bentak Rin dengan menatap mereka sangar meski wajahnya tertutupi helem zirah yang berwarna putih dengan garis biru laut.


"M-maaf, n-nona s-saint.." Kata mereka ketakutan dengan menundukkan tubuhnya tidak berani menatap Rin.


"Pergilah." Kata Rin sambil berlalu memasuki ruang yang dia tempati bersama sang hewan penjaganya Coco.


"A-apa kita melakukan kesalahan?"Tanya salah satu maid pada temannya.


"Aku tidak tahu. Lebih baik kita segera pergi, sebelum kita dimarahi oleh nona saint." Jawab temannya yang disetujui juga oleh maid satunya, dan akhirnya mereka berdua pun pergi dari sana dengan perasaan takut yang meneror.


"Hah... Seharusnya kamu ikut aku, sayang sekali...." Ucap Rin seolah mengatakan kalau anak serigala telah melewatkan sesuatu.


"Mungkin juga kakak hanya menemukan anak kucing dijalan." Kata Coco tidak perduli dengan memejamkan matanya kemabli.


"Kau tau..."


"Tidak.." Potong Coco dengan cepat, seolah enggan untuk mendengarkan cerita Rin.


"Setidaknya dengarkan aku dulu." Kata Rin kesal karena ulah Coco yang tidak mau mendengarkan ceritanya.


"Mungkin kakak hanya berbicara omong kosong saja." Kata Coco tidak perduli.

__ADS_1


"Kau tau, aku bertemu dengan Dita dan kucing putih kecilnya itu. Dan juga dia bisa berubah menjadi manusia. Tapi sayangnya, kucing itu tidak mau memberitahuku caranya." Kata Rin bercerita dengan antusias namun terbesit kejengkelannya pada kucing itu yang tidak lain adalah Shiro.


"Oh... Begitu. Lalu apa hubungannya denganku." Kata Coco dengan nada malas.


Kini Rin tengah melepaskan zirah armor nya yang berat dari tubuhnya, dan tidak lupa meletakkan seekor anak macan tutul salju di kasur yang biasa Rin dan Coco gunakan.


"Ghrrrr......" Coco langsung menggeram karena merasakan bahaya yang besar setelah Rin meletakkan anak macan tutul salju itu.


"Ada apa dengamu?" Tanya Rin kepada Coco yang tiba-tiba berubah menjadi agresif.


"Kakak mendapatkannya dari mana?!" Tanya penuh selidik Coco kepada Rin.


"Oh, dia. Dia adalah Nix, salah satu pilar dunia, namun dia hanyalah manekin." Jelas Rin kepada Coco yang masih bersikap waspada.


"Kenapa dia ada disini. Bukankah disini tidak aman untuknya?" Tanya Coco kembali.


"Tenanglah, dia hanya boneka buatan, sedangkan tubuh aslinya berada ditempat yang aman bersama dengan Dita, dan juga kau tau, aku bertemu dengan rusa yang cantik." Kata Rin semangat menceritakan pertemuannya dengan Leave.


"Kakak bertemu dengan rusa itu. Bagaimana keadaannya?" Tanya Coco yang tiba-tiba bersemangat untuk bertanya.


"Coco, kenapa kamu sangat bersemangat setelah aku menceritakan rusa itu?" Tanya Rin kepada Coco yang tengah membuang mukanya karena tatapan penuh selidik dari manusia yang dia jaga.


"T-tidak ada..!! Apa kah aku salah bila bertanya tentang dirinya. Kau tau, dia kan temanku saat di bumi dulu." Ucapnya dengan telinga yang menutup seperti anak anjing yang mencari perhatian.


"Ya... Aku tau itu." Kata Rin sambil mengistirahatkan dirinya sendiri di kasur yang sama.


"Bagaimana dengan kabarnya?" Tanya Coco dengan antusias.


"Dia baik-baik saja, bahkan dia telah berubah menjadi manusia. Dan dia bernama Leave." Kata Rin memberitahukan kepada Coco yang terlihat sangat bersemangat yang berbeda dari biasanya yang hanya bermalas-malasan ditepi jendela sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Benarkah? Sayang sekali, aku ingin bertemu dengannya. Kenapa kakak tidak membawaku waktu itu?" Kata Coco sambil menyalahkan Rin.


"Kenapa aku yang salah. Itu kan salahmu sendiri. Dan juga waktu itu kamu menolak untuk ikut denganku." Kata Rin tidak terima disalahkan.


__ADS_2