Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 70


__ADS_3

Tawa anak-anak ditepi oase ditengah gurun yang mulai panas terdengar merdu, seperti lonceng angin yang tertiup angin lembut. Karena tingkah konyol dari seorang pemuda yang hampir terjatuh dari tempat duduknya karena melamun.


Seperti negeri yang damai meski ditengah gersangnya daratan yang mengelilingi mereka, begitu indah dan damai. Namun terdapat cerita tragis dengan kedatangan mereka ditengah gurun nan gersang.


Mereka adalah korban penculikan dari negerinya sendiri dan akan dikirimkan kerajaan tetangga yang memiliki sistem sama dengan kerajaan Zuwei, perbudakan adalah hal yang lumrah dan wajib bagi para bangsawan untuk digunakan sebagai pemuas atau pekerja tanpa beristirahat.


Mereka semua sangat beruntung bertemu dengan kelompok Aquila yang tengah beristirahat yang mendapat gangguan dari magical beast yang telah menjadi budak yang ternyata berasal dari kelompok perampok yang menculik mereka.


Dan tentu saja hal itu membuat Sehetpra Lufni menjadi curiga dengan orang-orang yang bekerja di rumah lelang Amoon, apa mungkin terdapat penghianat didalam rumah lelang? Pertanyaan terus menerus memenuhi pikirannya, Itu bisa mencari tahu nanti dalam benaknya atas semua pertanyaan dipikirannya.


Kini Aquila kembali berjalan untuk membangunkan kedua pilar yang sudah menjadi adiknya dan tentu saja dua ekor magical beast yang salah satunya masih belum sadarkan diri sejak serangan yang mendarat ditubuh ular yang berwarna cokelat keemasan.


Laba-laba Archane sudah bangun dari tidurnya yang nyenyak dan sedang bersembunyi menghindari cahaya matahari dibawah tempat tidur yang mereka tempati sebelumnya. Ukurannya yang hanya sebesar tarantula dewasa membuat laba-laba Archane mudah menyelinap disela-sela ranting dan daun.


Aquila hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku laba-laba Archane yang menghindari cahaya, dan juga melihat Shiro dan Rugiel yang tidur saling bertumpuk membentuk adonan roti yang belum dipanggang.


"Sedang apa yang kamu lakukan Archane?" Tanya Aquila.


"Aku hanya menghindari cahaya matahari nona, sinarnya terlalu panas." Ucap laba-laba Archane yang masih bersembunyi.


"Oh." Kaya Aquila hanya ber-oh ria saja. Juga Aquila merasa heran dengan laba-laba Archane pada hal kemarin berjalan dibawah terik matahari dengan pasir yang panas mampu bertahan dan sekarang malah terlihat manja karena sinar matahari.


"Archane, tolong bangunkan ular kecil itu. Dan bawa sekalian ketempat kak Minami dan sekalian kamu makan." Kata Aquila dengan wajah datarnya.


Laba-laba Archane hanya bisa mengikuti perintah Aquila tanpa protes, sebab ia juga lapar sejak semalam. Kini Aquila kembali memfokuskan pandangannya terhadap adonan bulu yang bertumpuk.


Aquila hanya mengambil nafas dan menghembuskan secara perlahan karena tidak tega membangunkannya Shiro dan Rugiel yang masih tertidur lelap. Akan tetapi, waktu terus mengejar mereka untuk segera membebaskan para pilar yang masih terjerat dalam hawa nafsu akan benda dunia dan bencana yang ditimbulkan akibat tidak adanya sang pilar.

__ADS_1


"Shiro, Rugiel bangun. Saatnya sarapan dan kembali melanjutkan perjalanan ini untuk menyelamatkan Soleil." Kata Aquila dengan menggoyangkan tupumkan bulu dengan lembut.


"Engh.." Hanya suara lenguhan saja yang terdengar oleh Aquila, dan kemudian mereka berdua melanjutkan mimpi yang belum usai.


"Hei bangun! Apa aku ambilkan air agar kalian berdua bangun?!" Ancam Aquila dengan senyum mengancam.


Mendengar kan kata 'air', mereka berdua langsung bangun dan meloncat seakan menghindari air. Padahal itu hanya peringatan, namun mereka berdua perkataan Aquila dengan serius.


Aquila yang melihat tingkah kucing dan Griffin yang langsung sigap, membuatnya tidak bisa menahan tawa dengan air mata yang berada di pelupuk mata nya. Namun pada akhirnya terlepas juga tawanya.


"Pfft.... hahaha, kalian kenapa? Kalian sedang dikejar hantu?" Tanya Aquila sambil menghapus air matanya yang ada diujung mata.


"Kak~ Kenapa kak Aquila sangat tega mengerjai kita..." Ucap Shiro sambil menguap lebar.


"Giel masih mengantuk, Giel mau tidur lagi.." Ucap Rugiel dengan mata yang masih terpejam.


"Kita akan bangun, asalkan jangan mandi. Aku benci air....!" Ucap Shiro dengan menekan kata penolakan yang terlihat jelas di wajah berbulu nya.


"Begitu lebih baik, aku tidak perlu repot-repot membuang manaku." Kata Aquila, kemudian langsung mengendong Shiro dan Rugiel untuk menuju tempat dimana Leave dan Minami membagikan sarapan kepada seluruh anak-anak dan empat pemuda dan tidak lupa dengan para magical beast yang masih dalam kontrak budak.


"Nona, apa nona langsung sarapan atau meminum teh terlebih dahulu?" Tanya Minami.


"Aku akan sarapan saja. Oh iya kak Nami, tolong sembuhkan ular kecil itu. Aku tidak yakin bisa menyembuhkannya." Ucap Aquila dan kemudian menurunkan Shiro dan Rugiel dari dekapannya.


"Akan saya laksanakan nona, lalu dimana ular kecil yang nona maksud. Sedari tadi aku tidak melihatnya?" Tanya Minami.


"Apa laba-laba ungu itu belum sampai? Padahal dia berangkat mendahului ku." Kata Aquila heran sambil mengamati sekitarnya.

__ADS_1


"Huh... Sangat berat~ Aku tidak kuat lagi...." Sebuah suara kecil bergema dengan suara kelelahan.


"Darimana saja kau, padahal kamu mendahuluiku." Kata Aquila dengan memicingkan mata.


"Nona, anda sangat tidak berperasaan, Menyerahkan ular besar kepada tubuh saya yang kecil ini.. huhu..." Ucap laba-laba Archane dengan tubuh yang tertidur dengan kaki bergetar menahan ular kecil di punggungnya.


"Maaf, maaf." Ucap Aquila dengan mengambil ular kecil itu dan kemudian laba-laba Archane langsung bernafas lega.


"Kak Nami, tolong ya." Kata Aquila dengan tersenyum manis kepada Minami.


Dalam seketika wajah Minami langsung berubah menjadi tegang seakan membawa beban yang berat. Leave yang melihat tingkah Minami menjadi penuh tanda tanya, apa segitu berat ular kecil sebesar jari kelingking.


Minami langsung menurunkan ular kecil yang ada ditelapak tangannya di samping laba-laba Archane yang sedang bernafas dengan leluasa.


"Kak Nami, kenapa?" Tanya Aquila degan terheran. Namun dalam sekejap wajah Minami menatap horor terhadap nona nya yang sebelumnya terlalu santai saat membawa ular kecil itu.


"Archane, aku mengeri perasaanmu." Kata Minami sambil menghapus air matanya dengan sapu tangan miliknya.


"Nona kita ternyata sangat tidak peka ya." Kata laba-laba Archane menimpali ucapan Minami.


Aquila yang melihat kakaknya dan magical beast yang sebelumnya membawa ular sekecil jari kelingking sangat terlihat terbebani, namun dirinya merasa baik-baik saja saat membawanya.


"Ah... nona, apa nona tidak menyadarinya, ular itu sangat berat." Kata Minami penuh dengan keluhan.


"Berat? Apa aku salah dengar?"


"Minami, kak Aquila tidak akan menyadarinya apa yang kamu katakan, apa kamu lupa saat kamu memukul kak Aquila tetapi tangan kamu yang sakit?" Tanya Shiro sambil memakan sarapannya dengan lahap.

__ADS_1


__ADS_2