
Cuaca di pagi menjelang siang di kekaisaran selatan tidak terlalu sejuk, namun masih nyaman untuk menghirup udara yang berbau khas perkotaan. Baik wanita atau pria berlalu lalang untuk membeli kebutuhan masing-masing.
Anak-anak berlarian dengan tawa yang menggema disetiap langkah kaki kecil mereka melangkah, para pedagang berteriak menwarkan barang dagangan mereka. Putri bangsawan berjalan dengan elegan dan bergerombol dengan temannya dan memamerkan perhiasan dan gaun mewah mereka kenakan.
prajurit dengan sikap waspada dan berdiri dibelakang sang permata bangsawan yang asik mengobrol ria. Magical beast kecil selalu menggantung dipundak sang majikan dengan manja.
Perbedaan yang sangat jelas dan kontras antara sikaya dan simiskin. Perundungan selalu saja diterima oleh si lemah baik bangsawan atau rakyat jelata. Aquila hanya bisa melihat dari kejauhan dan tak bisa membantu sama sekali. Walaupun ingin membantu tapi semua itu tidak lah mungkin untuk dilakukan.
Aquila tau rasanya dikucilkan dan dicaci maki dengan kejam oleh orang yang ada di lingkungannya dulu, meskipun sekarang dalam raganya bukan lah pemilik aslinya tapi kenangannya masih melekat dalam benaknya.
"Haaaahhhh...... Andaikan aku bisa kembali ke masa lalu, tapi sayangnya sudah tidak bisa." Aquila mendesah dengan tatapan terarah ke beberapa anak yang tengah bermain.
"Nona berbicara apa?" Tanya Minami penasaran.
"Tidak ada, lupakan saja yang aku ucapkan. Juga itu bukan hal yang penting." Sambil mendahului Minami yang ada didepannya.
"Aku rasa nona mengingat kenanga dulu." Kata Leave yang ada didalam dekapan Minami.
"Mungkin saja, Bagaimana masa lalu nona aku ingin tahu?" Tanya Minami ke Leave yang memandang nonanya yang mendahului mereka.
"Kalau kamu ingin tau, lebih baik tanyakanlah kepada nona. Aku tidak bisa membicarakan tentang diri nona tanpa seizin nya." Ucap Leave yang masih menatap punggung Aquila.
Perjalanan mereka menuju hutan elf diiringi dengan kesunyian namun disekitarnya masih dengan suasana yang bising karena aktifitas manusia yang padat. Tibalah mereka di gerbang pembatas antara tempat manusia tinggal dan hutan yang hijau namun dengan aura kesedihan yang dirasakan oleh Aquila.
"Hem..?Apa hanya peresaan ku saja ya?" Ucap Aquila tanpa disadari oleh dirinya sendiri.
Mereka pun melangkahkan kakinya memasuki daerah terdalam dari hutan elf yang masih terjaga dan bervariasi aneka tumbuhan dan hewan kecil yang bersembunyi dibalik lebatnya semak dan pepohonan.
"kak Nami, apa kakak pernah menjelajahi hutan ini sebelumnya?" Tanya Aquila penasaran.
"Dulu sesekali aku menjelajahi hutan ini saat tuan Catarino pergi, dan hanya menjelajahi sebagainya saja." Jawab Minami secara gamblang.
__ADS_1
"Apa kakak tau tempat yang terdapat sungai atau danau disekitar hutan ini?"
"Saat ini kita masih dipinggiran hutan ras dark elf, perjalanan menuju sungai dalam hutan ini memerlukan setengah hari perjalan nona, nona kenapa mencari sungai atau danau dihutan ini?' Tanya Minami penasaran.
"Itu rahasia. Kakak akan tau sendiri nanti." Ucap Aquila penuh teka-teki itu.
Minami dan Leave sudah terbiasa dengan sikap misterius dari Aquila sejak pertama kali mereka berjumpa.
"Kak Leave, bisa berlari dengan cepat kan?"
"Tentu saja nona, tetapi aku tidak tau tempat yang dimaksud Minami." Kata Leave ragu.
" Kalau masalah itu, biar aku saja menunjukkan jalanya, nona Leave dan nona Aquila ikuti saja kemana saya pergi." Saran Minami kepada mereka berdua.
"Kalau begitu, kakak tunjukanlah jalannya." Kata Aquila dengan sangat.
"Baik nona, tolong ikuti saya." Kata Minami, kemudian langsung melesat diantara dahan dan ranting pohon yang besar dan rindang.
Leave langsung berubah kedalam wujud normalnya yaitu rusa kristal putih namun dengan hiasan bunga yang tumbuh ditanduk dan ekor dan terdapat efek cahaya bila berjalana. Aquila langsung menaiki punggung Leave dan kemudian mereka melesat bagaikan cahaya di tengah hutan yang suram.
Aquila cemberut karena tidak sesuai dengan ekspetasinya tentang bunga yang bermekaran dan menggugurkan kelopak bunga dan berjatuhan dipermukaan sungai.
Tetapi yang dilihatnya hanyalah daun hijau yang kusam menyedihkan. "Ini musim semi atau musim panas? kenapa daunnya hijau semua." Keluh Aquila yang ditanggapi ketawa kecil dari Leave, namun tidak dengan Minami yang terlihat sedih.
"Nona, semenjak bangsa elf musnah. Tumbuhan yang mereka rawat menjadi sangat bersedih hingga mereka tidak ingin memekarkan bunga untuk menyambut musim semi." Kata Minami sambil menyentuh pohon bunga Begonia dengan daun kusam.
"Oh, jadi itu masalahnya. Baiklah akan aku coba." Kata Aquila sambil menggambar rune dan berdiri ditengah rune yang ia buat sebelumnya.
Daun berguguran di musim gugur
Salju turun menutupi tanah yang kosong
__ADS_1
Pohon tertidur dalam musim dingin
Untuk menyiapkan tunas yang baru
Biji bunga yang tertimbun salju
Untuk menyiapkan benih baru
Di musim yang akan datang
Tunas baru memunculkan kuncup bunga
Bermekarlah untuk menghiasi alam yang suram
Lalu cahaya muncul dari dalam rune yang Aquila gambar sebelumnya dan kemudian menyebar dengan cepat keseluruh penjuru Hutan. Setelah cahaya yang menyebar itu hilang, muncul kuncup bunga satu persatu disetiap pohon dan bermekaran secara perlahan.
Aquila langsung menjatuhkan tubuhnya direrumputan untuk mengistirahatkan tubuhnya akibat terlalu banyak mengeluarkan mana dan memandangi bunga yang berguguran dan melayang-layang ditiup angin.
Minami terperangah dan terkejut melihat hutan yang dulu suram kini menjadi cerah karena bunga yang bermekaran dan mengeluarkan bau harum yang nyaman. Sudah lama Minami menanti hutan yang menjadi tempat tinggal bangsa elf menjadi seperti sekarang ini.
Dengan rasa syukur yang meluap dalam hatinya, Minami memeluk Aquila yang masih menikmati tiduranya di rumput tepi sungai. "Nona, terimakasih.... Terimakasih...." Dalam isak bahagia Minami luapkan.
Aquila hanya bisa pasrah dengan pelukukan Minami yang erat, tangan kanan Aquila mengelus punggung orang yang dianggapnya sebagai kakak setelah Leave.
Leave pun ikut memeluk mereka dalam wujud rusanya, dalam kehangatan pelukan mereka diusik karena suara berisik dari semak yang tumbuh didalam hutan. Leave dan Minami langsung waspada, tapi berbeda dengan Aquila yang malas dan tertidur lagi ditempat yang sama.
Minami langsung melesat diatas pohon dan melihat apa yang ada dibalik suara berisik dalam semak, Leave masih diposisi yang sama dengan sebelumnya untuk berjaga-jaga dengan kemungkinan yang terjadi.
"Kenapa kalian waspada seperti itu?" Tanya Aquila malas.
"Nona, kenapa kamu begitu santai. Siapa tau itu hewan yang berbahaya." Ucap Leave waspada.
__ADS_1
"Kakak terlalu berlebihan, mana ada hewan berbahaya disini."
Minami keluar dari dalam hutan dan memberitahukan apa yang dilihatnya. "Nona, aku me-melihat bangsaku, me-mereka mengarah kemari." Kata Minami dengan terbata namun tersirat kebahagian diwajahnya yang ayu.