
Sangat cepat, jika hewan yang melihatnya hanya terlihat sebuah cahaya yang melesat seperti angin kencang. Tupai bunga kewalahan untuk berpegangan karena kecepatan rusa yang dia tunggangi sangatlah cepat hingga pepohonan yang dia lihat menjadi suram.
Sementara orang yang mereka cari terlihat kegirangan karena hembusan angin yang menerpa tubuhnya yang ramping dan rambutnya berkibar seperti selendang sutra yang lembut, lonceng yang terpasang di rambutnya mengeluarkan bunyi yang khas mengiringi perjalan mereka.
Waktu telah terlewati, kini mereka telah sampai ditujuan yang mereka tuju. Tupai bunga langsung jatuh dari punggung Leave kemudian berdiri dan berjalan dengan sempoyongan karen pandanganya berputar dan seakan gravitasi bumi menarik dirinya untuk tengkurap ditanah yang dihiasi daun kering.
Teman-teman tupai langsung menyeret teman mereka yang sudah tidak sadarkan diri karena tidak kuat untuk menopang berat badannya sendiri. Aquila melihat kelakuan para tupai bunga tersenyum sedikit dan langsung turun dari punggung Leave.
Minami langsung memeluk Aquila dengan erat dan suara isakan kecil yang terdengar ditelinga Aquila. "Tenanglah kak Nami, aku baik-baik saja." Sambil mengelus punggung Minami yang terbalut kain hitam yang lembut.
"Nona, aku sangat khawatir. Sejak tadi aku mencarimu dan para magical beast juga ikut mencari dirimu juga. Nona dari mana saja?" Ucap Minami yang terlihat memarahi Aquila namun yang terdengar hanya nada cemas yang berlebihan.
"Kak Nami, aku tadi hanya tersesat saja. Lihatlah, aku baik-baik saja." Kata Aquila dengan berusaha melepaskan pelukan Aquila yang sangat erat.
"Nona, lain kali kalau nona ingin berkeliling harus ada yang mendampingi. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi." Pelukan Monami semakin erat.
"A-ku mengerti k-kak, tolong l-lepaskan pelukan mu. Aku t-tidak bisa bernafas." Wajah Aquila mulai memerah dan tangannya berusaha melepas pelukan erat Minami.
"Janji?" Tanya Minami dengan mata yang berkaca-kaca.
"Te-tentu saja kak. Tapi t-tolong lepaskan pelukanmu itu.." Minami segera melepaskan pelukannya dan langsung menyeret dibawah pohon yang rindang dengan bunga yang mengeluarkan cahaya sebagi penerangan.
"Nona harus makan, aku yakin nona tidak memakan apapun selama tersesat kan?" Minami sambil menyerahkan buah segar seperti buah naga namun isi daging buahnya berwarna kuning madu.
__ADS_1
Aquila dengan senang hati langsung melahap buah yang telah diberikan kepadanya yang memang sangat kelaparan karena bertarung dengan prajurit bangsawan bermuka penuh rambut alias berewok.
Setelah selesai makan buah yang disajikan, Aquila menyandarkan dirinya dibatang pohon sambil mengeluarkan tongkat kecil miliknya namun dengan ornamen bunga anggrek bulan biru.
Kedua burung yang berada diloncengnya keluar dan hinggap ditangan Aquila sambil berkicau merdu meski malam yang menemani mereka bukan pagi yang cerah.
"Nona, kamu mendapatkan burung itu dari mana? Mereka sangat cantik." Kata Leave memuji kedua burung yang cantik dengan ekor yang panjang.
"Aku tidak sengaja menemukan mereka saat tersesat tadi, dan aku juga tidak tau kalau kedua burung itu mengikuti ku secara diam-diam." Jelas Aquila seadanya.
"Ternyata nona menjadi induk burung secara mendadak." Leave menggoda Aquila dengan senyumannya meski dalam wujud rusanya.
"Aku bukan induk burung, mereka sendiri yang mengikutiku." Sanggah Aquila sambil membuang muka karena malu.
"Intinya aku bukan induk burung kak Leave. Lupakan, dimana Shiro dan Rugiel?" Tanya Aquila mengalihkan pembicaraan dan mencari kedua adiknya yang tidak terlihat sejak ia kembali.
"Mereka ada didalam anyaman daun yang diletakkan diatas pohon itu." Leave sambil menunjuk sebuah pohon dengan bunga berwarna merah.
"Kenapa mereka ditaruh disitu?" Tanya Aquila heran.
"Saat mencari nona, kami tidak tau harus menaruh tuan Shiro dan tuan Rugiel dimana. Jadi, salah satu magical beast yang biasanya membuat sarang langsung menawarkan diri untuk membuat sarang untuk menyembunyikan tuan Shiro dan tuan Rugiel." Jelas Leave sambil menunjukan tempat yang terdapat anyaman sarang burung.
"Haha, ternyata kedua adikku jadi anak burung." Kata Aquila dengan tertawa kecil.
__ADS_1
"Dan nona menjadi induk burungnya." Tambah Leave sambil tertawa.
"Kakak, aku bukan induk burung. Kak Nami tolong aku! Katakan kepada kak Leave kalau aku bukan induk burung." Teriak Aquila kepada Minami yang masih sibuk dengan buah-buahan yang dia dapatkan dari berkeliling hutan saat mencari Aquila sebelumnya.
"Walaupun nona menjadi induk burung, aku akan selalu mengikuti nona kapan pun dan dimana pun." Kata Minami dan Leave tertawa karena ucapan Minami yang menurutnya sangat polos itu.
Aquila cemberut karena kedua kakaknya yang menganggap dirinya sebagai induk burung karena kedua ekor burung itu mengikuti Aquila, sedangkan para magical beast dan hewan buas ikut tertawa dengan tingkah nona Messiah mereka yang sangat imut meski terlihat kekanak-kanakan.
"Ahhh.... kenapa kak Nami juga...." Kata Aquila dengan wajah yang memerah meski tidak terlihat dimalam hari.
"Terserah, aku mau melihat Shiro dan Rugiel." Tambah Aquila dengan juteknya, lalu melompat dimana Shiro dan Rugiel berada.
Sebuah anyaman terbuat dari daun yang panjang dan dibagi menjadi beberapa bagian membentuk sebuah sarang yang cukup besar bagi penghuninya. Aroma khas dari daun yang segar membuat pikiran Aquila menjadi tenang sesaat.
Seekor kucing putih dan Griffin berwarna kuning emas pucat dengan sayap kecilnya yang berwarna hitam dan putih tertidur terlelap dan saling menumpuk satu sama lain. Terlihat lucu dan menggemaskan bagi Aquila, Burung kecil yang mengikuti Aquila terbang dan bertengger ditepi sarang itu.
Aquila baru menyadari tentang jumlah ekor di setiap burung itu, warna pada bulu burung itu sedikit kejinggaan dengan warna merah yang lebih dominan, jambul yang ada di kepala burung itu terlihat mencuat melengkung keatas dengan warna merah maroon.
Bulu pada tubuh burung itu berwarna jingga pucat dan dibagian sayapnya berwarna merah cerah, pangkal ekornya berwarna sama dengan tubuhnya namun semakin kebawah semakin berwarna merah cerah. Diujung ekornya terdapat motif yang sama persis dengan bulu ekor merak yang eksotis.
Kenapa baru sekarang Aquila mengetahuninya? karena saat bertemu disiang hari, burung itu masih terlihat seperti burung pada umumnya, namun dengan ekor yang panjang tanpa motif merak. Lalu kedua burung itu langsung memasuki lonceng yang terpasang di rambutnya setelah bunga anggrek bulan biru berubah menjadi anggrek bulan biasa yang berwarna putih bersih.
Dan pada malam hari kedua burung itu mengeluarkan cahaya seperti api namun tidak menghantarkan panas sama sekali. Dan kedua burung yang bertengger di sarang yang digunakan oleh Shiro dan Rugiel seperti lentera berbentuk burung.
__ADS_1
"Pantas saja aku terlihat seperti induk burung, ternyata kalian terlihat bersinar dan diketahui oleh kedua kakakku." Kata Aquila sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.