
Suara angin langsung terdengar meredam kesunyian yang ditimbulkan olah Nix yang tidak mengetahui akan kebenaran dari nama asli Aquila Aisar. Wajah heran dan terkejut terlihat dari Shiro, Rugiel, Soleil, Helios, Adrian, dan Vent Leger yang ingin memukul kepala Nix yang terkadang acuh tidak perduli dan keras kepala.
"Kenapa dengan wajah kalian, atau wajah kalian sedang keram?" Tanya Nix heran.
"Giel jadi penasaran, sebenarnya isi kepala Nix ada apanya?" Ucap Rugiel degan wajah polos ingin tahu.
"Benar juga, apa karena dia terkurung dalam ruang dingin itu membuat otaknya membeku? Padahal jelas-jelas itu nama kak Aquila." Kata Vent Leger memandang sosok macan tutul salju yang berwajah acuh itu.
"Hei...! Otakku masih normal, cukup panas untuk membakar dirimu Eger..!!!" Teriak Nix yang terpancing emosi.
"Benarkah? Bukankah element milik mu adalah es?" Tanya Vent Leger mengejek.
"Lalu, sejak kapan kamu menjadi pengguna api?" Tambah Helios menambah bumbu untuk memicu perkelahian.
"Kalau begitu, akan aku bekukan saja diri kalian...!" Ucap Nix dengan aura tipis berwarna perak dengan biru muda yang mengandung hawa dingin, lalu dinding batu gua yang sebelumnya hitam berubah warna menjadi putih kebiruan.
"Apa Giel salah berbicara?" Ucap Rugiel dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Aku tidak tau." Kata Soleil yang masih berbaring dipunggung Rugiel malas.
"Hahhh..... Kau serius...?" Kata Helios terkejut.
"Tentu saja...! Kau pikir aku bercanda Burung bodoh...!!" Ucap Nix dengan meluncurkan sebuah es yang runcing kearah Helios dan Vent Leger.
"Sepertinya kita salah mengajak dia bercanda." Kata Vent Leger sambil menghindari setiap serangan yang diluncurkan oleh Nix bersama dengan Helios yang terus mengepakkan sayapnya.
"Rino....!!! Bisakah kamu membantu kita...!" Teriak penuh dengan keinginan untuk ditolong.
"Tidak. Itu salahmu sendiri. Bukankah kalian berdua mengetahuinya kalau dia sangat pemarah melebihi Ignatius." Kata Shiro yang seakan enggan untuk membantu kedua saudaranya yang kewalahan menghadapi amukan Nix.
"Setidaknya bantu lah...." Ucap Helios sembari berterbangan menghindar.
Shiro hanya melihat mereka dengan wajah malas tidak ada niat untuk membantu, begitu dengan yang lainnya yang malah asik melihat hiburan baru yang jarang terjadi selama mereka berkumpul seperti sekarang.
__ADS_1
Minami dan Leave hanya bisa menghela nafas pasrah karena tidak bisa melerai ketiga pilar yang masih berkejar-kejaran tidak tentu arah dan terkadang serangan Nix hampir mengenai mereka yang nyasar.
Aquila yang masih berada diujung gua juga menjadi penasaran tentang suara ribut yang sangat mengganggunya itu. Dan apa lagi suhu yang turun secara drastis yang sebelumnya hangat kini menjadi dingin. Dengan gerakan kilat, Aquila langsung menyelesaikan aktivitasnya dan segera mengenakan pakaian yang sama seperti sebelumnya dan langsung menuju mulut gua.
Mata Aquila langsung menyipit tidak percaya meski degan wajah acuh datar seperti biasanya, kristal-kristal es berukuran sedang bertebaran dilantai gua dan beberapa gantung dilangit-lagit gua.
Aksi kejar-kejaran masih berlangsung, dan tentu saja para pelaku utamanya tidak menyadari kehadiran sang tuan rumah yang sudah berkecak pinggang dengan wajah penuh peringatan dan siap untuk menghukum sang pembuat onar.
"Eghem....!" Batuk Aquila dengan sengaja dan keras, namun tetap diabaikan oleh Nix, Helios dan Vent Leger yang terus berlarian tidak beraturan dan cenderung mengarah pada mereka yang masih menonton mereka.
"Oh... Sepertinya aku tidak dianggap ya?" Ucap Aquila dengan suara rendah penuh dengan tekanan, dan tentu saja aksi kejar-kejaran itu langsung berhenti dalam sekejap.
"Ka-kak... Se-sejak kapan kak Aquila a-ada disini?" Tanya Helios dengan suara terbata ketakutan.
"Belum lama." Jawab Aquila dengan acuh.
"Em... Kak..." Ucap Nix ragu.
"Apa kalian tahu kesalahan kalian?" Kata Aquila dengan menatap tajam ketiga mahluk yang ada dihadapannya itu.
"Oh... Lalu, siapa yang membuat tempat ini menjadi tempat pengawetan mayat? Bukankah itu perbuatan kalian?" Tanya Aquila dengan suara dingin, melebihi dalam gua itu.
"Itu, bukan salahku. Semua salah Nix yang asal menyerang sembarangan." Kata Vent Leger sambil menunjuk Nix yang tengah duduk manis tidak bersalah.
"Benar, kita hanya bilang kalau dirinya tidak mengetahui nama asli kak Aquila. Hanya itu saja, lalu tiba-tiba dia langsung mengamuk dan menyerang kita sembarangan." Tambah Helios.
"Lalu, bukan berarti kalian bisa mengejek ku yang tidak tau nama asli kak Aquila. Apa salahku bila aku bertanya?" Bela Nix pada dirinya sendiri.
"Memang benar, Nix bertanya. Akan tetapi nada pertanyaan mu itu terdengar seperti tidak ingin tahu bahkan terdengar mengejek." Kata Helios kembali.
"Tidak...!!" Tolak Nix dengan wajah garangnya yang malah terlihat menggemaskan.
"Lalu, siapa yang bilang Dita? Aku tidak mengenalnya." Kata Vent Leger yang bersuara hampir sama dengan Nix dengan nada yang sama.
__ADS_1
"Lalu, apa salahku bila bilang seperti itu?" Tanya Nix.
"Apa sudah cukup adu mulut kalian? Telingaku sudah cukup panas mendengar ocehan kalian." Kata Aquila dengan bersedekap sambil menatap tajam ketiga hewan yang berbeda bentuk itu yang duduk dilantai gua dengan wajah memelas.
"Kakak......" Ucap Helios memelas.
"Apa? Apa perlu aku memberi hukuman pada kalian." Kata Aquila dengan wajah yang tidak bersahabat.
"T-tidak.." Kata mereka bertiga bersamaan dengan takut.
"BAGUS." Kata Aquila dengan senyum puas dan pergi dari tempat itu.
"Huuuhhh.... Aku baru tau kalau kak Aquila itu sangat mengerikan." Kata Nix menghela nafas lega.
"Dasar anak baru. Kita lebih tahu lebih dahulu dari pada dirimu." Kata Vent Leger dengan nada yang sombong.
"Kau ini ya.... Eger lebih baik kamu diam saja, dari pada aku jadikan patung es." Kata Nix yang sudah mengumpulkan mana ditangannya.
Saat akan melemparkannya mana miliknya pada Vent Leger, mana itu langsung menghilang dengan rasa sakit ditelinga Nix yang ternyata adalah Aquila.
"Ita.......!!!! Sakit.... Lepaskan telingaku.....!!!" Raung Mix sambil meronta untuk melepaskan telinganya dari cubitan tangan Aquila.
"Ha... ha... ha... Lain kali dengarkan tuan Eger in-..... Aaa.... Sakit.....!!!" Teriak Vent Leger dengan raut wajah kesakitan.
"Huh... Sepertinya kalian ini harus dihukum ya?" Kata Aquila yang masih terus mencubit daun telinga kedua hewan berbeda jenis itu.
"T-tidak....!!! Aku tidak mau..!!" Tolak Vent Leger dengan terus berusaha melepaskan tangan Aquila yang ada di telinganya.
"Kakak..... Sakit..." Ucap Nix memelas.
Aquila merasa kasihan pada Nix dan Vent Leger yang terlihat sangat kesakitan, padahal Aquila hanya mencubit Nix dan Vent Leger dengan ringan.
"Baiklah, lain kali aku tidak akan melepaskan kalian. Kalian boleh melakukan apa yang kalian suka asalkan tidak melukai saudara kalian. Ini peringatan pertama untukmu Nix. Dan Eger, aku harap kau mau melenyapkan kesombongan mu itu." Kata Aquila dengan menatap serius Vent Leger dan Nix.
__ADS_1
"Dan Ini juga peringatan untuk kalian semua." Tambah Aquila kepada Shiro dan yang lainnya.