
Burung-burung yang hinggap di dahan pohon dengan daun hijau kekuningan menutupi mereka dari incaran sang predator yang telah menunggu mereka dari bawah pohon, namun kelinci berbulu coklat dengan tanduk tunggal melopat dengan riang mencari rumput segar tanpa disadari sang kelinci menuju persembunyian dari rubah dengan warna jingga yang menyala.
Dan sekali sergap sang kelinci sudah berada didalam mulut rubah dan membuat para burung yang hinggap di dahan pohon berterbangan karena terkejut akibat suara pekikan sang kelinci yang malang.
Rubah jingga dengan senang hati langsung kembali lubang yang digali untuk menyembunyikan anak-anak rubah yang masih belum mengenal kekejaman sang alam yang keras. Dan tidak jauh dari tempat tinggal anak-anak rubah itu terlihat perkelahian antara seekor burung Garuda dengan ular ungu berukuran kecil yang berjuang melepaskan cengkraman kuku tajam dari sang burung Garuda.
Sedangkan tiga ekor hewan dengan jenis yang berbeda dan dua diantaranya berusaha melerai pertengkaran itu dan satunya lagi asik menonton pertunjukan gratis yang sangat jarang dia lihat.
Aquila yang sudah berusaha sebisa mungkin untuk tidak melempar sesuatu untuk menghentikan suara berisik yang menganggu tidur paginya. Namun semua itu sia-sia, karena suara perkelahian itu masih terngiang dan semakin lama semakin keras hingga membuat Aquila terpaksa membuka matanya yang masih berat.
"B-E-R-I-S-I-K!!!!!" Nada yang sangat berat dan dengan kabut putih yang tidak diketahui asalnya menyelimuti Aquila yang sudah diambang kemarahannya itu.
Sontak saja mereka langsung terdiam karena menggigil ketakutan dan terutama Helios dan Adrian sebagai biang keladinya. Netra Aquila yang berwarna merah menyorot dengan tajam penuh dengan peringatan.
"Apa kalian tidak bisa tenang untuk satu waktu saja hah?! Aku hanya ingin tidur, apa susahnya untuk diam, atau kalian semua ingin aku lempar dalam sungai yang dingin baru kalian bisa diam....!!" Teriak penuh amarah Aquila yang sudah sedari tadi Aquila tahan karena sudah mencapai batas kesabaran.
Helios dan Adrian langsung berpelukan karena menggidik ketakutan begitu juga dengan Soleil. Namun Shiro dan Rugiel sudah terbiasa dengan sikap meledak penuh amarah dari seorang gadis yang ada dihadapan mereka yang mereka anggap sebagai kakak nya itu.
"Sss-sangat m-menakutkan, a-aku tidak m-menyangka kalau kak Aquila akan marah besar seperti i-ini." Kata Soleil dengan suara yang bergetar menandakan kalau dia sangat terkejut sekaligus takut.
"Ya begitulah, awalnya juga Giel merasa hal yang sama dengan Leil. Giel dulu bertengkar dengan Rino dan hasilnya Giel dan Rino langsung dimarahi oleh kak Aquila. Tapi sebenarnya kak Aquila itu sangat baik pada kita tapi kak Aquila tidak bisa mengungkapkannya secara langsung." Kata Rugiel sambil menenangkan soleil yang gemetar ketakutan.
__ADS_1
"Bukankah begitu Rino?" Tanya Rugiel pada Shiro yang masih asyik melihat Helios dan Adrian yang sedang dimarahi oleh Aquila.
"Yang dikatakan Giel itu benar, kita hanya bisa menonton saja dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka." Kata Shiro sambil menatap kasihan pada dua saudaranya yang berpelukan dan menggigil ketakutan karena tidak bisa mengelak dari ocehan Aquila.
Namun, ocehan penuh amarah Aquila hilang dalam sekejap tatapan yang berkaa-kaca dari kedua adiknya yang menatapnya penuh penyesalan. Dan Aquila dengan kasar membuang nafasnya untuk menuntaskan unek-unek yang belum tersampaikan.
"Lain kali jangan lakukan hal yang tidak berguna seperti itu, kalian itu saudara bukan musuh. mengerti?!" Kata Aquila sambil berkacak pinggang.
"Ka-kami m-mengerti k-kak..." Kata Helios dengan suara bergetar ketakutan sedangkan Adrian yang melilit erat tubuh Helios hanya bisa menganggukan kepalanya sebagi tanda mengerti.
"Nona kau sudah bangun. Apa kita melanjutkan perjalan menuju kerajaan Candana atau beristirahat disini selama sehari?" Tanya Leave bersama Minami yang dengan membawa buah-buahan.
"I-iya..." Kata Helios yang merasakan firasat buruk sedangkan Adrian biasa saja.
"Uhh... aku yakin, mereka berusia akan dimandikan oleh kak Aquila." Kata Shiro sambil meringis karena mengingat ketika dia terakhir kali dilempar dalam bak mandi bersama Rugiel dan Soleil.
"Ya, Rino benar. Aku rasa Dria akan baik-baik saja." Kata Rugiel dengan wajah terlihat kasihan.
"Tuan Catarino, siapa ular ungu itu, kenapa dia sangat dekat dengan nona aquila?" Tanya Minami penasaran dan disetujui juga oleh Leave yang sedari tadi ingin bertanya.
"Oh, dia adalah salah satu dari pilar Minami, dia adalah Adrian sang malam." Jawab Shiro sambil melihat kearah perginya Aquila bersama Helios dan Adrian.
__ADS_1
Minami dan Leave manganggukan kepala tanda mengerti dan juga mengatakan pandangan mereka kearah dimana Aquila tengah memandikan Helios yang meronta sedangkan ular kecil berwarna ungu tengah asik berenang kesana kemari tanpa ada beban.
Tentu saja, Adrian adalah seekor ular berdarah dingin dan mempunyai kekebalan terhadap hawa dingin dan berbeda dari saudara yang lain yang rata-rata semuanya berdarah panas.
Teriakan permohonan untuk segera dilepaskan terdengar sangat nyaring dari Helios yang sedang dimandikan oleh Aquila. Sedangkan orang yang menyiksanya didalam air dingin hanya tersenyum samar. Setelah dirasa cukup, Aquila langsung membalut Helios dengan handuk yang tersedia dalam kalung ruang dimansinya.
Dan kini giliran Adrian yang terlihat menikmati layanan dari Aquila dengan sangat sumringah bahagia tanpa mengeluh dan meronta seperti Helios yang kini menggigil kedinginan.
"Bagaimana? sangat segar bukan?" Tanya Aquila pada Helios yang mengigil.
'Kakakku sangat mengerikan, kenapa hukuman nya sangat tidak adil..." Keluh Helios dalam batin dan tentu saja tidak berani menyuarakannya, takut kalau akan diceburkan kembali dalam air yang dingin.
Tangan Aquila terulur untuk mengambil Helios yang terbalut handuk dan Adrian yang sudah menggelayut manja di bahu Aquila dan mendesisi mengejek kearah Helios yang kedinginan. Dan tentu saja Helios ingin membalas perbuatan Adrian, namun ia tahan karena masih dalan gendongan Aquila yang berjalan kearah Minami dan Leave yang telah menunggunya bersama dengan Shiro dan yang lainnya.
Setalah sampai, Aquila langsung duduk dibatang kayu yang tumbang dan mulai mengeringkan bulu Helios yang lepek karena basah.
"Kak Nami, kak Leave, apa kalian tidak merasa aneh dengan penampilanku sekarang?" Tanya Aquila dengan penasaran.
"Tidak, tampilan nona sama sekali tidaklah aneh. Dan nona sangat cocok dengan warna hitam atau rambut perak seperti ini." Jawab Minami dan di setujui juga oleh Leave yang sesekali melahap potongan buah persik berwarna kuning pucat.
"Terimakasih Kak." Kata Aquila dengan tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putih yang rapih.
__ADS_1