
Lorong gelap nan sunyi, derap langkah kaki terdengar samar dari kejauhan. Sebuah tangga menurun menuju bawah tanah yang bertempat di bawah istana nan megah yang menyembunyikan kekejama yang tersimapan di balik kemegahan yang memanjakan mata.
Udara lembab nan pengap dengan bau anyir darah menjadi satu di lorong yang penuh dengan jeruji besi yang terisi oleh manusia yang kurus kering. Deretan lampu minyak berjajar rapih di sisi lain dari lorong menambah kesuraman dari tempat yang penuh dengan hawa keputusasaan yang tidak berakhir.
Tulang belulang tergeletak tidak beraturan terbalut dengan baju Kumal nan kotor yang sudah tidak berbentuk. Bau busuk daging seketika menyeruak menusuk Indar penciuman dari ketiga penyusup yang bersembunyi dibalik bayangan.
Penjagaan di dalam penjara itu sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah tahanan yang sudah tertidur terbalut dengan hawa dingin yang menyelimuti kulit yang penuh dengan luka yang masih mengeluarkan darah yang sudah mengering. Pintu besar dengan rantai tebal setebal lengan menghias pintu itu dengan rune pengunci.
Dengan susah payah penuh usaha dari kedua penyusup untuk membobol rune pengunci dan menghancurkan rantai yang terpasang di pintu besar itu. Usaha keras tidak akan menghianati hasil akhir, usaha mereka membuahkan hasil dengan terbukanya pintu besar itu.
"Haahh... Akhirnya terbuka juga, Adrian apa tempat ini?" Tanya Shiro kepada Adrian yang dibawa oleh Vent leger, desisan samar keluar dari mulut Adrian dengan lidah bercanbangnya menandakan kalau itu adalah tempatnya.
"Baguslah, ayo kita masuk. Aku sudah tidak tahan dengan bau menyengat ini." Kata Vent Leger dengan menutup hidungnya yang sensitif dengan bau.
"Sabar sedikit Eger, kau kira dirimu saja yang tidak kuat dengan bau ini." Kata Shiro dengan memasuki pintu yang sudah terbuka lebar itu.
Shiro langsung membuat penerang dari element api dan menerangi setiap seluk beluk tempat yang sebelumnya gelap. Dan dihadapan mereka bertiga terpampang jelas tubuh utama Adrian yang terkulai lemah dengan dengan luka yang nyata membentuk garis lurus di perutnya dan mengeluarkan darah ungu yang masih menetes di sebuah wadah.
"S-sangat kejam, Adrian, apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Shiro dengan cemas.
__ADS_1
Adrian langsung turun dari pundak Vent leger dan menuju pada tubuh utamanya yang sudah tidak berdaya dengan luka yang selalu terbuka setiap saat. Pecahan tubuh Adrian langsung menuju pada permata kehidupannya yang tersembunyi di balik sisik kepalanya yang sangat keras dan melebur menjadi satu.
Mata ular yang sebelumya terpejam langsung terbuka dengan pupuk vertikal penuh dengan kebencian dan rasa sakit dari luka yang masih mengelukan darah itu.
"Adrian, berubahlah menjadi kecil." Pinta Shiro dengan kekhawatiran di matanya yang bernerta biru dan kuning.
"Ya, kita sudah terlalu lama disini, aku tidak mau kalau kakak kita yang kejam itu menyusul kemari. Pasti akan membuat keributan yang lebih besar." Kata Vent Leger dengan serius dan diangguki oleh Shiro meski memperotes apa yang baru saja dikatakan oleh Vent Leger.
Kabut ungu langsung menutupi tubuh Adrian yang besar yang masih terikat dengan rantai yang membelenggu nya, suara dentingan rantai bertumbukan menandakan kalau proses pelepasan tubuh Adrian telah selesai. Dari balik kabut ungu yang sudah menipis terdapat sosok yang remaja namun dengan rambut panjang berwarna ungu.
"Akh... Sakit sekali...!" Kata Adrian sambil memegangi perutnya yang masih mengeluarkan darah berwarna ungu.
"Hem.. kita harus secepatnya pergi sebelum hal yang tidak kita inginkan datang." Kata Shiro sambil mengendong Adrian.
Mereka bertiga langsung meninggalkan tempat dimana dulunya Adrian dikekang dan secepat hembusan angin langsung meninggalkan tempat itu dan hanya menyisakan gelombang hembusan yang menggoyang kan api yang menerangi penjara bawah tanah itu.
Tentu saja itu adalah ulah dari Vent Leger yang sangat ahli dalam memanipulasi angin sesuai dengan keinginannya. Dan dalam sekejap, mereka bertiga telah sampai dimana Helios bersembunyi dan terus mengawasi Aquila yang menggila menyiksa jendral kekaisaran Zemlya dengan kejam.
"Ha ha ha..!!! Bagaimana rasanya, sangat menyenangkan bukan..!!" Kata Aquila dengan terus menerus menyerang Jendral kekaisaran Zemlya tanpa jeda, sedangkan magical beast milik sang jendral hanya terdiam tidak tau harus berbuat apa.
__ADS_1
"K-kau... Akh...!!! Kau benar-benar iblis...!!!" Kata sang jendral sambil menahan rasa sakit dan perih dari setiap goresan belati milik Aquila.
"Tidak, aku masih manusia tapi aku di buat dari ekspetasi kalian yang sering mengataiku sebagai iblis. Maka nikmati saja dan aku melakukannya dengan sesuai dengan keinginanmu, JENDRAL." Kata Aquila dengan menekan kata terakhir dan tentu saja tidak ada jeda dalam memberi luka.
"He-hentikan...! To-tolong hentikan...!" Ratapnya sambil menahan rasa perih dari setiap luka yang digoreskan oleh belati Aquila, namun tidak ada rasa kasihan yang terlihat hanyalah wajah datar tidak perduli.
Kiiikkkk......!!!
Lengkingan tajam terdengar nyaring di langit yang berwarna gelap, dan Aquila dengan sigap memberhentikan kegilaannya yang ingin menyiksa sampai korbannya tanpa ampun. Aquila langsung melirik pepohonan menyembunyikan empat tubuh anak remaja yang bersembunyi.
"Kali ini kau bebas, namun akan aku ambil peliharaan mu sebagai ganti nyawamu." Kata Aquila dengan dingin dan tidak memandang orang yang memiliki magical beast yang sudah terkulai lemas bersimbah darah. Aquila langsung menyalurkan mananya pada komodo berwarna hitam ungu dan memecahkan rune perbudakan yang terlihat jelas di kepalanya.
"Kau pergilah kehutan, dan temui aku besok." Kata Aquila memberikan perintah pada komodo itu.
"Akan hamba laksanakan wahai Messiah." Kata komodo itu dengan hormat, dan kemudian pergi dengan cepat membobol tembok yang menghalangi nya.
Sedangkan para prajurit yang melihat kejadian itu hanya bisa termangu dalam ketidak percayaannya akan magical beast yang bisa berbicara, dan apa lagi magical beast komodo itu berkata kalau gadis pembuat onar dan dianggap sebagai iblis ternyata adalah seorang Messiah yang sangat dihormati melebihi Sorang kaisar.
"Kali ini aku melepaskan mu jendral kekaisaran Zemlya, aku telah mengambil apa yang aku inginkan. Bila kita bertemu kembali, maka persiapkanlah liang lahat dengan benar." Kata Aquila sebelum pergi meninggalkan tempat yang penuh dengan kerusakan akibat pertempuran mereka dengan Aquila dan juga gumpalan hitam yang masih terlihat jelas dan menggerogoti setiap inci dari dinding atau lantai yang ternoda oleh gumpalan nan hitam bersifat korosif itu.
__ADS_1