Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 15


__ADS_3

pemuda berambut putih kebiruan, dan gadis bertanduk cabang hanya tersenyum, Aquila Aisar menautkan alisnya tak mengerti.


"nona, lebih baik anda sarapan dulu," saran perempuan elf yang membangunkan Aquila Aisar tadi. lalu menggeser kan bangku untuk diduduki Aquila Aisar.


Aquila Aisar duduk ditempat yang telah disediakan untuk nya, dan dan menatap tajam kearah kedua orang yang tersenyum tadi.


"kakak, apa tidak mengenalaiku?" pemuda yang duduk di samping kanan Aquila Aisar dengan raut wajah sedihnya.


"lalu, bagai mana dengan saya nona,?" tanya sang gadis bertanduk.


"suaramu mirip dengan kak Leave, apa benar kamu kak Leave?!" Aquila menebak.


"benar ini saya nona, bagai mana dengan tampilan baru saya nona?" tanya Leave dengan antusias.


"sangat cantik, dan aku tadi tidak bisa mengenali mu sama sekali kak."


"terima kasih nona," pipi Leave memerah karena dipuji Aquila Aisar.


"ahemmm." mereka berdua yang asik mengobrol dikejutkan oleh suara deheman pemuda yang diabaikan oleh mereka, lebih tepatnya Aquila.


"apa kalian akan terus mengabaikan aku yang tampan ini." kata pemuda berambut putih dengan pedenya.


Aquila Aisar serasa ingin mengeluarkan isi perutnya akibat sikap percaya diri pemuda itu sangat tinggi, tapi sayangnya dia belum sarapan.


"narsis sekali, memangnya siapa kamu?" Aquila sambil memalingkan muka tidak suka.


"kakak, padahal kita baru berpisah semalam. kenapa kakak sudah melupakan ku?" dengan nada yang dibuat-buat. rasanya Aquila Aisar ingin memukul muka yang menjelekkan itu.


"tidak, aku tidak mengenalmu. aku hanya mempunyai adik kecil yang imut, dan tidak narsis sepertimu."


"kakak tega sekali, padahal aku ini sangat imut." dengan muka cemberutnya, sedangkan Leave menahan tawa yang menurutnya lucu perdebatan pemuda tadi dan nonanya.


"kak Leave, bantu aku meyakinkan kakakku yang keras kepala ini." pemuda itu menatap penuh harap dan menunjuk kan jarinya kearah Aquila.


"aku rasa, tuan harus berusaha meyakinkan nona." Leave hanya pasrah, karena tatapan nonanya lebih mengerikan daripada pemuda yang meminta bantuan untuk menjelaskan siapa dirinya.


"nona, lebih baik anda sarapan dulu, dan tuan anda bisa menjelaskan kepada nona setelah selesai sarapan." akhirnya sang elf menengahi perdebatan mereka yang tidak berhenti.

__ADS_1


Aquila Aisar langsung mengambil pan cake yang ada didepannya dan langsung melahapnya dengan semangat. sedangkan pemuda berambut putih kebiruan mengambil salad sayur dan sepotong daging yang dipanggang. mereka makan dengan khidmat tanpa perdebatan seperti tadi.


setelah menyelesaikan sarapan mereka, pemuda tadi langsung duduk di sofa yang tak berjauhan dari meja makan, Aquila dan Leave duduk didepan pemuda tadi dengan tenang.


Aquila mengamati sekitar mencari keberadaan Shiro yang tidak terlihat sedari tadi. dan mengabaikan pemuda yang ada didepannya.


"nona mencari apa?" tanya Leave.


"aku mencari Shiro, sedari tadi aku tidak melihatnya." katanya sambil mengamati sekitarnya.


sedangkan pemuda tadi langsung mengembangkan senyumannya dengan lebar.


"kenapa nona mencari tuan Shiro, padahal tuan ada didepan anda."


"HHHAAAAHHHH....!!?" teriakan Aquila sukses membuat telinga leave atau pemuda yang ada didepannya berdengung dengan keras.


"yang benar saja, dia Shiro!!!" Aquila tidak percaya dengan yang diucapkan Leave barusan.


"hu...hu..., kakak benar-benar melupakan adiknya yang tampan serta imut ini." suara Shiro sambil menangis.


Aquila yang masih tidak percaya kalau pemuda didepannya adalah Shiro. "bagaimana mungkin, Shiro ku yang pendiam menjadi orang narsis sepertimu."


"apa kakak masih tidak percaya kalau aku adalah shiro?" tanya Shiro sambil menatap Aquila.


"baiklah, kalau kakak tidak percaya. lalu bagaimana dengan yang ini?" kata Shiro, kemudian cahaya putih menyelimuti tubuhnya. setelah cahaya itu menghilang dan menampilkan kucing putih dengan tanda yang sama dengan milik Aquila.


"ja-jadi kamu Shiro, lalu bagaimana kalian merubah tampilan kalian menjadi seperti ini?" tanya Aquila degan tidak percaya sekaligus kagum.


"nona, kalau tentang itu. tanya kan saja pada tuan Shiro. karena dialah yang memberitahuku." jelas Leave.


"huh, kenapa kakak menjadi bodoh seperti itu." tanya Shiro mengejek Aquila karena mulutnya yang masih terbuka.


"siapa yang kamu bilang bodoh!" Aquila tidak terima bila dia dibilang bodoh.


"baiklah kakakku yang pintar," kemudian Shiro merubah tubuhnya menjadi pemuda yang menurut Aquila sangat narsis.


"apa kakak ingin mengetauinya?" tanya Shiro dengan senyum jahil.

__ADS_1


"ya, bagaimana adikku yang narsis ini bisa berubah menjadi seperti ini?" tanya Aquila penasaran dengan nada cuek.


"huhh.. kakak jangan begitu. masa tidak penasaran dengan perubaha adikmu yang tampan dan imut ini." Shiro cemberut karena Aquila yang terkesan mengacuhkannya.


"lalu, bagaimana?" Aquila yang mulai jengah karena kelakuan Shiro yang sangat berbeda dengan sebelumnya.


Leave hanya bisa mendengarkan perdebatan nonanya dengan Shiro dengan sabar tanpa menengahi pertengkaran mereka.


"Shiro, tinggal memberitahuku saja susah."


"kalau kakak ingin tahu, ikutlah denganku. pasti akan mengeri." lalu Shiro berdiri dari duduknya.


"baiklah, daripada aku mati penasaran karena ulahmu yang tidak memberitahuku." Aquila sambil berdiri.


"kakak ikut aku." Shiro berjalan keluar ruangan yang mereka tempati sebelumnya. aquila hanya mengikuti Shiro dibelakang dan diikuti juga oleh Leave.


perjalanan mereka melewati taman yang ada didepan rumah Shiro, dan melalui lorong tumbuhan yang menutupi atapnya yang setengah lingkaran. serta cahaya yang melalui lubang kecil dari tanaman itu membuat lorong tumbuhan itu menjadi sangat indah.


sepanjang perjalanan mereka, Aquila merasa kagum karena bunga yang ada di sana didominasi warna putih. dan danau yang Aquila lihat tadi malam sangatlah indah.


hembusan angin yang sejuk, Aquila sangat menikmati udara yang sejuk. berbeda dengan didunia nya dulu, terlalu banyak polusi yang telah mencemari udara. dan membuat siapapun yang menghirup udara tercemar itu meninggalkan partikel berbahaya diparu-paru.


Dita atau Aquila saat ini mengingat tempat tinggalnya dan merindukan sahabatnya dibumi, siapa lagi kalau bukan si tomboi Rin.


Aquila hanya bisa memendam rindu nya dengan mengembuskan nafasnya dengan kasar. Shiro yang mendengar hembusan nafas Aquila menjadi penasaran.


"ada apa kak?"


"tidak ada, apa sudah sampai Shiro?" tanya Aquila sambil mengalihkan pembicaraan.


"sebentar lagi juga sampai kak." kata Shiro sambil terus berjalan.


sesaat kemudian, sampailah mereka didepan menara yang tadi malam Aquila lihat dari kejauhan. Dan ornamennya semakin jelas melihatkan keindahan dankemegahannya.


"kita sudah sampai, dan pertanyaan kakak akan terjawab di menara ini." kata Shiro sambil membuka pintu yang besar dengan ornamen pohon kembar yang sama seperti ditengah hutan.


Aquila yang melihat didalam menara itu hanya bisa terperangah dan kagum, sedangkan Shiro hanya tersenyum jahil.

__ADS_1


"kakak bisa mencari jawabnya didalam perpustakaan ini sampai puas." kata Shiro tertawa.


"yang benar saja.....!!!!!!" teriak Aquila Aisar tidak percaya


__ADS_2