
Dentingan lonceng angin yang menggantung ditepi jendela yang berbentuk persegi, mengalun dengan nyaring seperti alarm yang bersuara nyaring untuk membangunkan sang empu yang masih bergulat dengan alam mimpi.
Rambut hitam seorang gadis yang masih tertidur tersebar di bantal yang empuk dan kasur, dan ditempat yang sama tertidur juga seekor kucing, Griffin dan rusa kristal yang masih tertidur nyaman dan tidak menghiraukan si lonceng angin yang bergetar nyaring.
Bulu mata yang lentik seperti sayap kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di atas bunga yang segar dengan embun sejuk yang menempel di setiap kelopak dan daun bunga.
Kicauan burung mulai terdengar merdu menandakan kalau sang matahari akan terbit dari peraduannya. Dua ekor burung dengan warna putih keluar dari dalam lonceng emas dengan ekor yang menjuntai panjang dengan bagian ujung ekor berbentuk motif mata seperti burung merak.
Cahaya matahari yang hangat menerobos masuk melalu jendela yang terbuka untuk menghangatkan sisa hawa dingin malam yang masih terjebak dalam ruangan itu.
Aquila membuka kelopak mataanya secara perlahan, ketiga hewan yang tidur disampingnya masih tertidur nyenyak membentuk pola yang teratur.
Kicauan burung yang sangat akrab ditelinga Aquila membuatnya menaglikan perhatiannya terhadap suara kicauan burung putih yang cantik.
"Nona, akhirnya nona bangun." Sapa salah satu diantara kedua burung itu yang tidak memiliki jambul.
"Emm, apa kalian sikecil jingga?" Tanya Aquila menebak.
"Nona, kenapa kamu melupakan nama kita? Apa nona sudah pikun?" Ucapnya dengan nada menuduh.
"Tak! Kau sungguh tidak sopan Doujo. Maafkan ucapan adikku nona."
"Kak Douji, kenapa kamu memukulku!" Ucapnya perotes.
"Apa kalian ini kembar, nama kalian sama. Dan kenapa warna dan tubuh kalian berubah?" Tanya Aquila penasaran.
"Hehe, sebenarnya warna bulu kita menyesuaikan musim nona, tapi entah kenapa kami bulu kita berubah dimusim dingin." Jelas Douji.
"Oh... Kalian terlihat cantik dengan warna putih." Ucap Aquila memuji.
"Aku bukan betina, jangan mengatakan kalau aku ini cantik!" Ucap Doujo sambil mengepalkan sayapnya ditelinga Aquila. Sedangkan Doujo hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan adiknya yang berapi-api.
"Ya, ya. Aku tidak akan mengatakannya lagi. Tumben sekali kalian berdua keluar."
"Apa nona akan pergi kekuil dewa Orunmla?" Tanya Doujo.
"Benar, kenapa?" Tanya Aquila yang tengah duduk disamping kedua burung putih itu.
__ADS_1
"Huh, pantas saja warna buluku berubah. Apa kita akan menjadi peralatan suci lagi?" Douji mengatakan dengan kebencian.
"Kenapa kamu terlihat sangat tidak suka? Bukankah itu menyenangkan." Ucap Aquila heran.
"Nona, sebenarnya kita berdua adalah roh artefak dari kuil dewa Orunmla, tapi kami melarikan diri karena kami tidak suka dimanfaatkan secara berlebihan, yang mengakibatkan tuan Soleil terpenjara kan dikuil dewa Ra karena kita berdua." Doujo menjelaskan dengan suara yang terdengar menyedihkan.
"Siapa yang melakukan hal keji seperti itu!" Teriak Shiro dan Rugiel secara bersamaan.
"Tenanglah, kenapa kalian terlihat sangat marah?" Kata Aquila menangkan.
"maafkan kami tuan Catarino dan tuan Rugiel, sebenarnya kami tidak mau melakukan hal seperti itu. Tapi Panasea kuil dewa Orunmla yang melakukan hal itu karena tuan Soleil tidak mau mengikuti keinginan mereka untuk menjadi bawahan mereka." Doujo mengatakan hal yang sebenarnya.
"Panasea? Bukankah itu orang yang mengatakan kalau penyakit tuan muda Lufni sebagai kutukan?" Ucap Aquila dengan mengerutkan keningnya.
"Panasea sekarang adalah murid dari Panasea sebelumnya nona, dia tidak tau tentang tuan Soleil." Kata Doujo.
"Apa kalian tau caranya untuk melepaskan Soleil dari tempat yang mengurungnya?" Tanya Shiro dengan antusias.
"Tentu saja tuan, kita bisa membuka segel yang mengurung tuan Soleil sehari setelah festival doa."
"Terimakasih nona. Ayo Douji, kita kembali." Setelah itu, kedua burung itu terbang dan masuk kembali kedalam lonceng emas yang tergeletak dimeja yang berdampingan dengan ranjang.
"TOK-TOK!! Nona, apa nona sudah bangun?" Suara Minami terdengar dari balik pintu.
"Masuklah kak Nami. Ada apa?" Tanya balik Aquila sambil melihat pemandangan diluar jendela.
"Nona, apa nona akan ikut dengan tuan besar dan putranya pergi kekuil?" Tanya Minami mengatakan tujuannya.
"Sepertinya menarik, aku akan mengikuti mereka. Shiro, Rugiel kalian bebas mau melakukan apa. Asalkan jangan membuat kekacauan."
"Benarkah kak, kita bermain secara bebas?" Tanya Shiro dengan semangat.
"Tentu saja. Bukankah kamu sudah berjanji kepada Rugiel untuk berkeliling?" Ucap Aquila yang mengingat percakapan Shiro dan Rugiel malam tadi.
"Wah ternyata kak Aquila mengingatnya, kenapa Giel tidak mengingatnya ya?" Rugiel menatap Aquila dengan kagum.
"Sudahlah. Aku akan bersiap dulu, kalian bisa memakan sarapan yang sudah disiapkan kak Nami. Kak Leave, kakak mau ikut atau tetap disini?" Tanya Aquila mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Aku akan disini saja nona, aku tidak mau menjadi pusat perhatian seperti pertama kali masuk dalam kota kerajaan ini." Tolak Leave.
"Baiklah. Archane, kamu disini bersama kak Leave." Kata Aquila pada laba-laba Aechane.
"Dengan senang hati nona, aku juga tidak suka dengan keramaian." Kata Laba-laba Archane dengan bahagia, sebab dia kira dia akan ikut pergi ke kuil yang penuh sesak manusia yang akan berdoa.
"Ternyata, kebiasaan mu sama dengan kak Leave ya." Ucap Aquila tidak menyala dengan hal itu.
"Hehe."
"Nona, ini pakaian yang akan dikenakan nanti." Kata Minami yang sudah memakai pakaian yang akan digunakan untuk kekuil.
"Kak Nami, apa bajuku sama dengan baju yang kakak kenakan?" Tanya Aquila dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Hampir sama nona, tenang saja, milik nona lebih bagus daripada yang aku kenakan." Kata Minami tersenyum meyakinkan.
"Kenapa perasaanku menjadi tidak enak ya, apa kakak yakin pakaian itu tidak seperti kemarin?" Tanya Aquila memastikan.
"Sseettt, nona, mereka sudah menunggu kalian." kata Ular kecil mendesis yang tidak lain magical beast king of gold.
"Nona, cepatlah pakai, aku akan menunggumu didepan." Kata Minami dengan sedikit memaksa.
"Baiklah, baiklah aku akan memakainya." Kata Aquila pasrah.
"Kak Aquila?" Kata Shiro.
"Hemm? kenapa?" Jawab Aquila.
"Tadi malam aku merasakan kalau Helios sang matahari ada disini, aku dan Giel akan memeriksanya sebentar. Aku tidak akan yakin kalau akan berjalan lancar." Kata Shiro seperti sedang meminta izin.
"Lakukanlah, jika memang dia ada disini. Buat kekacauan dan jangan libatkan orang yang tidak bersalah." Kata Aquila dengan mengelus kepala Shiro.
"Giel, ayo kita pergi." Ajak Shiro yang sudah berdiri ditepi jendela.
"Ayo, Giel ingin bermain bersama Rino." Kata Rugiel, kemudian Rugiel melipat di jendela yang Shiro tepati lalu melompat keluar bersama Shiro.
"Kak, kita pergi dahulu...!" Teriak mereka berdua bersamaan.
__ADS_1