Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 104


__ADS_3

Setelah kepergiannya Shiro dan Rugiel, Aquila membenamkan dirinya pada air sungai yang dangkal untuk mendinginkan kepalanya yang panas karena terlalu banyak pikiran yang hanya bisa ia pendam sendiri.


Aquila merasa kesejukan sesaat sebelum rasa sakit mengoyak tubuhnya yang letih, rasa sakit seperti dicabik-cabik dan ribuan jarum yang seakan menusuk. Rasa sakit itu masih dapat Aquila tahan, namun kali ini rasa sakitnya bertambah kali lipat dan Aquila sudah tidak sanggup untuk bertahan.


"Agghhhhh........!!!" Lolongan teriakan Aquila tidak terbendung dan menyatu dikehebingan malam, dan entah kepana Minami, Leave dan yang lainnya tidak mendengar teriakan kesakitan dari Aquila seperti ada penghalang yang menghalangi.


'Sakit... Sangat sakit.. Ada apa denganku...' Batin Aquila yang berbicara karena sudah tidak mampu untuk berbicara setelah berteriak sebelumnya.


Dan secara perlahan, mata Aquila mengeluarkan darah dengan sangat deras seperti air mata yang deras dan tentu saja dengan rasa perih yang menyertainya.


"Uhuk.. Uhuk..." Aquila terbatuk dengan darah hitam keluar dari mulutnya yang ternyata adalah sisa racun yang terhirup oleh Aquila, kemudian tercampur dengan air yang dingin dengan nafas yang tercekik di tenggorokannya.


'Ke-kenapa ini sangat menyakitkan?" Tanya Aquila dalam benaknya sendiri.


Dan tanpa disadari oleh Aquila karena rasa sakit yang menyerang tubuhnya dengan bertubi-tubi, tubuhnya terangkat dari sungai ke udara bebas dan cahaya putih langsung menyelimuti Aquila dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.


Rasa sakit yang Aquila rasakan secara bertahap mulai reda dan digantikan rasa hangat yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Darah yang keluar dari matanya telah hilang dan netra mata aquila berubah menjadi merah darah semua dan tatapan yang tajam serta menusuk lawan yang melihatnya.


Warna rambutnya yang sebelumnya berwarna hitam kelam kini berubah menjadi putih keperakan. Zirah Wister yang sebelumnya berwarna hijau kehitaman kini berubah menjadi putih dengan jubah berwarna pink keunguan seperti bunga Camellia yang segar.

__ADS_1


Tingkat sihir Aquila pun meningkat yang sebelumnya ditingkat adiraja menjadi dewa, bahkan aura penekanan milik Aquila lebih pekat dan berat dari sebelumnya serta hawa dingin seperti di kutub es yang penuh dengan gleser yang beku.


Setelah perubahan yang sangat signifikan itu usai, Aquila turun secara perlahan dengan sangat anggun dan dedaunan kering berterbangan untuk menyingkir dari pijakan kaki Aquila.


"Haaahhh.... Syukurlah... Aku kira aku akan mati, baru kali ini aku merasakan sakitnya naik tingkat. Kenapa dulu aku tidak merasakan hal ini? Apa Shiro juga merasakan hal yang sama denganku saat menerobos tingkat dewa?" Ucap Aquila sambil terduduk lemas, dan mengatur nafasnya yang masih terburu-buru.


Aquila masih bergelut dengan pertanyaan yang mengiangi di benaknya, dan semua itu dihancurkan oleh suara desisan ular yang menggelitik di telinganya.


Ssseeessstttt.....


Dan secara spontan Aquila langsung melemparkan ular kecil berwarna ungu yang berada di bahunya itu. Sebenarnya Aquila tidak lah terlalu takut pada ular, akan tetapi karena kemunculannya yang mendadak itu membuat tangan Aquila langsung menjauhkan bahaya dari dekatnya walau itu tidak berbahaya dan terlempar di tanah dengan menggeliat kesakitan.


"Hhiiihhh.....!!! Membuat kaget saja..!" Teriak Aquila yang terkejut itu.


"Ah, maafkan aku. Kau membuatku terkejut dan apa kita pernah bertemu? Rasanya auramu sama dengan Shiro dan yang lain." Kata Aquila sambil mengambil ular yang mendesis protes karena dibuang secara paksa dan kini di ambil seperti memungut sampah.


"Ya, ya. Aku tau aku salah. Jadi jangan terus mendesis seperti itu, suaramu sangat mengganggu dari pada suara Shiro saat mengerutu." Kata Aquila dengan tersenyum geli karena teringat ulah Shiro yang mengemaskan saat marah padanya.


Pada akhirnya hanya suara desisan yang menyahuti perkataan Aquila sebagi ungkapan rasa jengkelnya. Dan Aquila pun kembali ketempat dimana Shiro dan yang lainnya beristirahat. Setibanya ditempat yang sudah disediakan oleh Leave, Aquila langsung mengistirahatkan dirinya yang sedikit lelah karena kurang tidur bersama ular ungu yang baru saja Aquila jumpai.

__ADS_1


Alam mimpi pun langsung menjemput Aquila yang sudah terkulai dalam buaian sang malam. Dan tentu saja dengan ular ungu yang ikut tertidur di samping Aquila dengan bentuk seperti gulungan benang.


Malam telah berlalu, pagi telah datang bersama sang matahari yang bersinar terang dengan udara kesejukan pagi hari. Burung-burung bercicit riang mengiringi sang pergantian musim menjadi musim gugur yang akan datang dalam beberapa hari lagi.


Aquila masih terbenam dalam tidur dan mimpi indah yang menghiasinya, namun suara berisik yang menjengkelkan bagi Aquila masuk dalam pendengarannya seperti dengungan lebah yang mencari nektar.


"Ughh.... Berisik.... Bisakah kalian tenaga. Aku hanya ingin tidur." Keluh Aquila meski dengan mata yang tertutup.


"Huh, kenapa kakakku tidur dengan ular bau itu. Seharusnya aku yang tidur dengannya." Kata Helios dengan nada yang kesal.


"Suuttt..., diam lah Lio, apa kamu mau menanggung keganasan kak aquila?" Kata Soleil memperingati Helios yang sangat bermusuhan dengan semua ular dan terutama dengan saudara mereka yang memiliki wujud ular yang tidak lain adalah Adrian sang malam.


Sifat dan element yang mereka wakili juga sangat bersebrangan namun mereka juga saling melengkapi seperti siang dan malam. Tentu saja mereka memanglah sang pilar yang ditugaskan untuk menjaga keseimbangan alam.


"Aku belum pernah tidur dengan kakakku, kenapa malah ular bau itu mencuri kebersamaan ku dengan kakakku. Sangat tidak adil.... Kau...! kemari kau ular bau...! Aku akan mengahajarmu karena telah mencuri star dari ku.....!!!" Teriak Helios dengan keluhan terarah pada Ular ungu yang tidak lain adalah serpihan jiwa Adrian yang terbawa didalam racun yang dia keluarkan.


Ssseeettttt.....!!!!


Desisan keras terdengar, ular ungu yang sebelumnya tertidur berbentuk gulungan benang dan menampakkan kepalanya dan memamerkan taring yang runcing untuk mengancam Helios. Helios yang sudah teramat kesal langsung berpekik nyaring menanggapi ancaman Adrian.

__ADS_1


"Berisik.....!!!!" Teriak Aquila yang sedari tadi berusaha menahan kekesalannya, namun peringatain yang dia berikan hanya dianggap angin lalu dan kini malah berteriak keras di telinganya yang sensitif.


Alhasil ular ungu yang tidur disebelahnya langsung dilempar kearah Helios yang sedang ditahan oleh Rugiel dan Soleil, sedangkan Shiro dengan santainya menonton tontonan gratis pertengkaran saudara yang tidak pernah akur sejak awal mereka diciptakan.


__ADS_2