
Bulu putih bergeradasi biru pucat, kumis yang panjang melambai-lambai terkena tiupan angin malam yang dingin. Mata yang berbeda warna memantulkan cahaya api unggun didekatnya dan memandang kearah yang berseberangan dengan api unggun.
Aquila menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan memperhatikan hewan suci dalam bentuk kucing besar yang tengah menatap dirinya dengan penuh tanya.
"Kenapa Shiro?" Ucap Aquila membuka pembicaraan mereka.
"Apa yang kakak bicarakan dengan mereka?"
"Mereka meminta bantuan kita untuk mengusir manusia yang menebang dan membakar tempat tinggal mereka. Jujur saja, aku benci penebangan liar dan pembakaran hutan secara liar."
"Lalu, kenapa kakak terlihat sangat marah?"
"Nona terlihat marah karena mereka mengabaikan nona, dan menyebutnya yang mulia." Jawab Leave menyela pembicaraan mereka.
"Tuan tau sendiri, kalau ucapan nona diabaikan pasti akan marah." Timpa Minami.
"Ha ha, kalau itu aku sangat tau, pantas saja kakak ku yang imut ini marah." Kata Shiro sambil tertawa kecil.
"Apa manusia di Callista sudah melampaui batas, sampai memburu hewan buas dan magical beast secara berlebihan?" Tanya Aquila heran.
"Kakak tahu sendiri dengan manusia Callista, mereka sudah dibutakan oleh keserakahan akan kemewahan dunia sehingga mereka mengabaikan tatanan alam dan malah merusaknya." Ucap Shiro yang terlihat kecewa dan marah secara bersamaan.
"Aku tahu, tetapi kita hanya bisa memperingati mereka dan memperbaiki alam yang rusak. Selebihnya dari itu, biarkan alam yang berbicara dan menghukum mereka dengan tepat." Kata Aquila sambil memasukan ranting kecil kedalam api unggun.
Setelah mengatakan hal itu, Aquila teringat dengan sambaran halilintar yang hampir mengenainya dan malah membuat lubang besar dipermukaan tanah. Aquila mencari tanah yang berlubang namun yang ia lihat hanyalah hamparan kosong dengan selimut kegelapan yang menutupinya.
"Kurasa akan memperbaikinya besok saja." Aquila berguman lalu memainkan api yang ada dihadapannya itu.
Aquila membuat seekor kucing dan berputar dan menari dipinggiran api unggun, gerakan lincah dan penuh semangat membuat Aquila merasa terhibur begitu pula dengan Shiro, Leave dan Minami yang juga terhibur dengan permainan yang Aquila buat.
__ADS_1
"Sudah larut malam, sebaiknya nona beristirahat dan memulihkan mana nona yang telah terkuras banyak sebelumnya." Kata Minami yang telah menguasai element gelap dan dapat menentukan waktu dimalam hari.
"Aku rasa benar, mataku juga sudah terasa berat dan lengket. Tapi aku tidur dimana?" Tanya Aquila dengan bodoh.
"Nona bisa tidur denganku, atau dengan tuan." Saran Leave.
"Tidak bisa kak, kalau aku tidur dengan Shiro pasti akan mengganggu Rugiel, bila aku tidur dengan kak Leave pasti kakak tidak akan nyaman." Tolak Aquila.
Aquila mengambil selimut tebal dan menyelimuti Rugiel dan mengeluarkan beberapa selimut untuk digunakan untuk dirinya dan kedua kakak angkatnya.
"Kak, mana selimut buatku?" Tanya Shiro dengan protes.
"Kamu sekarang tidak memerlukan selimut Shiro, apa harus aku cukur semua bulumu itu agar dapat selimut yang aku kenakan." Seketika Shiro menggelengkan kepalanya keras tanda menolak saran Aquila.
"Baguslah kalau begitu. Selamat malam." Mereka pun tertidur didalam keheningan alam dengan suara jangkrik yang berderik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arang hitam menyisakan bara api kecil dengan abu disekitarnya yang berwarna abu-abu. Kicauan burung gagak dan pekikan burung elang menghiasi di seluruh alam yang terjangkau oleh suara mereka. Burung hantu kembali ke sarang mereka untuk beristirahat dan menghangatkan anak-anak mereka yang kedinginan.
Suara alam seperti alarm ditelinga Aquila, ia membuka mata yang indah dan menyesuaikan fajar yang akan terbit dari ufuk timur. Semburat warna merah muncul sedikit demi sedikit dan menjadi warna jingga.
Suara hiruk-pikuk binatang yang tidak jauh dari mereka menambah suasana alam liar yang nyata. Air danau yang keruh sedikit terlihat karena kabut di permukaannya menghilang dan digantikan pantulan sinar matahari yang hangat.
Shiro membuka matanya dan meregangkan badannya yang kaku akibat posisi tidurnya yang kurang nyaman kemudian meletakkan tubuh Rugiel ditanah. Shiro berdiri dan merubah wujudnya menjadi manusia dan melakukan olahraga kecil untuk meluruskan ototnya yang kaku.
"Selamat pagi, tumben sekali bangun lebih awal Shiro?"
"Apa salahku kak, aku juga ingin menikmati cahaya pagi." Ucap Shiro dengan muka yang sebal.
__ADS_1
Aquila berdiri dari duduknya dan melipat selimutnya kemudian memasukkannya kedalam kalung dimensinya. Minami dan Leave masih tertidur dengan menyangga punggung satu sama lain, mereka terlihat sangat nyaman.
Aquila menghampiri Rugiel dan mengangkat kepalanya yang tergeletak ditanah dan memindahkannya dipangkuan nya. "Dia terlihat mirip sekali denganmu Shiro. Apa semua saudaramu hampir semuanya sama?" Tanya Aquila kagum dan terheran sekaligus.
"Ya, tidak semuanya kak. Kami memiliki perbedaan yang nyata dan mudah dibedakan. Misalanya aku dan Rugiel, meski kita terlihat sama namun rambut dan warna kita berbeda." Jelas Shiro.
"Jadi begitu, lalu apa diantara kalian memiliki saudara permpuan?" Aquila mengeluarkan pertanyaan yang sudah lama ia pendam.
"Tidak kak, semua saudaraku adalah laki-laki."
"Aku kira kamu memiliki saudara perempuan." Kata Aquila dengan kecewa.
Tangan Aquila membelai rambut kuning emas Rugiel dengan lembut membuat Shiro langsung melangkahkan kakinya kearah Aquila yang tengah terduduk dengan Rugiel yang tertidur dalam pangkuannya.
Shiro duduk didekat Aquila dengan muka yang cemberut dan pandangan mata yang berkaca-kaca, Aquila hanya bisa mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan kelakuan adiknya yang menurutnya aneh itu.
"Ada apa denganmu?" Tanya Aquila.
"Kak, aku juga ingin." Jawab Shiro dengan muka memelas.
"Ingin? ingin apa?" Ucap Aquila tidak paham dengan apa yang diinginkan oleh Shiro.
Muka memelas Shiro terlihat menggemaskan sekaligus menyebalkan bagi Aquila yang tidak paham dengan Shiro.
"Kakak..... Aku juga ingin dielus seperti Rugiel." Ucap Shiro manja.
Aquila ingin sekali memukul wajah bocah yang ada disampingnya, namun Aquila lebih menuruti keinginan adiknya yang sudah jarang ia mengelus rambut putih dan biru pucat milik Shiro.
Shiro memejamkan matanya dengan suara dengkuran khas kucing yang membuat Aquila meleleh didalam hatinya. Aquila masih terus mengelus rambut Shiro dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih mengelus rambut Rugiel dengan tempo yang sama dengan Shiro.
__ADS_1
"Aku rasa sudah cukup." Kata Aquila mengakhiri.
"Kakak, aku masih belum puas. Tolong elus aku lagi." Ucap Shiro protes. Kedutan disudut bibir Aquila menghiasi wajahnya yang cantik, menandakan kalau ia tengah menahan emosinya yang memuncak akibat sikap manja yang berlebihan dari adiknya yang imut itu.