Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 149


__ADS_3

"Kalau begitu dengan senang hati aku akan menemani mu." Kata Leave sembari mengeluarkan tombak yang senantiasa menjadi teman dalam setiap pertempurannya.


"Nona, biarkan aku ikut membantumu." Ucap Minami yang juga ikut bersiaga menggenggam kedua belatinya.


"Tentu saja, lagi pula dia bukan lawan yang lemah." Kata Leave sambil menatap penuh kewaspadaan terhadap orang yang ada didepannya yang tidak lain adalah sang kaisar Samudra itu sendiri.


"Wah, ternyata pengamatan mu cukup tajam juga nona. Akan tetapi, kalian berdua tidak cukup kuat untuk mengalahkan yang mulia ini." Ucap sang kaisar Samudra dengan membanggakan dirinya sendiri.


"Kita lihat saja nanti, setelah semua kekacauan yang kau buat selesai." Ucap Minami.


"Apa yang kau katakan nona, yang mulia ini bukan pembuat kekacauan. Tetapi penegak keadilan." Ucapnya dengan bangga.


"Oh... Benarkah? Lalu kenapa terjadi peperangan disini?" Tanya seorang gadis dengan rambut berkibar menyatu dengan asap kobaran api.


"Bukankah itu disebabkan olehmu, wahai sang iblis?" Kata sang kaisar Samudera dengan penuh ejekan diwajahnya.


"Aku? Apa aku salah dengar? Bagaimana menurutmu Rin?" Kata sosok gadis itu yang tidak lain adalah Aquila.


"Hee..? Apa kau barusan mengatakan kalau sahabatku ini adalah iblis?" Tanya Rin dengan suara yang dingin yang berada dibelakang tubuh Aquila.


"Ah, apa aku tidak salah dengan wahai sang pahlawan? Apa kau sedang membuat lelucon disaat seperti ini?" Tanya sang kaisar Samudra dengan wajah tidak kalah dingin dari Rin.


"Apa aku pernah membuat lelucon? Apa wajahku terlihat sedang bercanda? Ah.. atau matamu sudah buta akan keinginan menguasai dunia ini?" Tanya Rin mengejek.


"Jaga ucapanmu!! Kau pikir siapa dirimu yang sangat berani mengatakan hal itu pada kaisar Samudra!" Teriak seseorang yang menunggangi seekor kadal gurun yang tidak lain adalah raja dari kerajaan Zuwei.


"Apa aku menegenalmu?" Tanya Rin acuh.


"Aku harap kau tidak akan mengenalnya, sahabatku. Dan aku harap kau tidak mengikuti jejaknya yang suka merenggut kebebasan kerajaan lain." Kata Aquila dengan mata yang tertutup dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"KAU...!!! KENAPA KAU ADA DISINI?" Tanya sang raja Zuwei yang sangat terkejut dengan suara Aquila, yang jelas-jelas ada di depan Rin, namun hawa keberadaannya tersembunyi oleh lingkungan sekitarnya yang suram.


"Itu bukan urusanmu. Lebih baik kau diam saja." Kata Aquila dengan melambaikan tangannya, dan dalam seketika hembusan angin kencang langsung menghempaskan tubuh Sanga raja Zuwei yang berada di atas tubuh kadal gurun itu.


BUUMM...!!


Tubuh sang raja Zuwei langsung menabrak sebuah bangunan yang jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka berada sebelumnya.


"Uhukk...!!" Raja Zuwei terbatuk dengan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Begini lebih baik." Ucap Aquila dengan santainya.


"Nah... Sekarang adalah giliran mu WAHAI YANG MULIA." Tambah Aquila dengan menekan kata terakhirnya dan aura yang tidak dapat dijelaskan.


"Ha..? Apa yang kau katakan wahai iblis jahanam? Aku tidak mendengar dengan jelas." Ucap sang kaisar Samudra sambil meletakkan tangannya di daun telinga, seakan dia benar-benar tidak bisa mendengar.


Setelah mengatakan kata yang baru saja dia katakan, terdengar sebuah pekikan keras memenuhi angkasa yang suram. Warna jingga kemerahan terlihat jelas meski tertutupi oleh awan asap pekat. Lalu seekor burung dengan keindahan surgawi yang terjatuh di dunia yang fana.


"Aku tidak menyangka kalau seorang kaisar dari negeri lautan datang dimana lahar panas mengalir dari gunung berapi yang membara." Sapa seorang perempuan yang menunggangi burung tersebut.


"Sebenarnya aku tidak Sudi menginjakkan kakiku di negeri penuh dosa ini." Kata kaisar Samudra yang tidak suka dan penuh penghinaan.


"Cih..! Bukankah itu dirimu sendiri?" Kata Aquila menyela pembicaraan perempuan yang menunggangi burung Phoenix dengan sarkas.


"DIAM KAU...!!" Teriak kaisar Samudra tidak suka.


"Kau tidak bisa melarang ku yang mulia, aku memiliki mulut untuk berbicara dan juga telinga untuk mendengar." Kata Aquila menyahuti perkataan kaisar Samudra dengan dingin.


"Percuma saja kamu berbicara pada dia Dita. Dia hanyalah orang bodoh dan egois." Kata Rin dengan santai sembari membelai Surai serigala es yang tidak lain adalah Coco.

__ADS_1


"Diam..!! Kau tidak punya hak untuk berbicara kepadaku penghianat..!" Ucap kaisar Samudra yang sudah diliputi amarah.


"Diam..?! Kau saja yang diam..!" Teriak Rin sengit.


"Rin, kamu tidak perlu membuang tenaga mu untuk orang sepertinya. Yang ada didalam pemikirannya hanyalah keserakahan akan kekuasaan." Kata Aquila yang seakan mengetahui niat asli dari kaisar Samudra.


"Kamu benar Dita. Rasanya tenagaku terbuang dengan percuma karena berbicara pada orang sepertinya." Kata Rin dengan menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Nona, terima kasih telah membantu kekaisaran ku memerangi musuh yang tidak tidak terduga seperti ini. Aku dan rakyatku mengucapkan terima kasih dengan sangat tulus." Kata perempuan itu yang tidak lain adalah maharani dari kekaisaran Dahana.


"Simpan terima kasihmu nanti." Kata Aquila dengan dingin seperti biasa pada orang yang tidak dia kenal.


Wajah kecewa terlihat jelas dari sang kaisar wanita itu, namun segera sirna menjadi wajah penuh pertanyaan untuk kaisar Samudra yang menatapnya penuh ke irian dan kebencian yang mendalam.


"Kenapa yang mulia kaisar Samudra terus mengganggu kedamaian negeriku, bukankah engkau sudah berjanji tidak akan mengganggu ketenangan negeriku bila negeriku tidak mengganggu kekaisaran Samudra?" Tanya sang Maharani.


"Omong kosong! Lalu kenapa kau menyembunyikan sosok iblis yang mengancam kedamaian dunia ini!!" Ucap sang kaisar Samudra sambil menunjuk Aquila yang masih asik bermain dengan Phoenix yang menjadi tunggangan Maharani Dahana.


"Bukankah kau yang berbicara omong kosong? Padahal kau dengan jelas mengatakan kalau kau ingin menguasai kekaisaran ini dan memperbudak penduduknya demi kekayaan bumi mereka?" Kata Rin dengan raut wajah sedang bertanya akan hal itu.


Tentu saja apa yang dikatakan Rin membuat wajah sang kaisar samudra menjadi merah padam, dan mengepalkan tangannya yang bergetar ingin menutup mulut Rin.


"Jaga bicaramu sang pahlawan..!! Yang mulia ini tidak pernah mengatakan hal yang sangat hina dan licik seperti yang kau katakan...!!!" Bantahnya dengan cepat.


"Lalu? kenapa kau menyerang tempat yang damai ini dan bukan menyerang ku secara langsung? Atau hanya alibi mu saja?" Tanya Aquila langsung, meski Aquila terlihat tidak memperhatikan sekitarnya namun telinganya yang tajam mendengarkan setiap gerakan dan suara meski pun sangat kecil.


"Diam kau...!!! Kau tidak punya hak untuk berbicara bedebah...!"


"Apa kah ini sifat asli dari seorang kaisar yang disanjung rakyatnya? Aku punya nama. AQUILA AISAR, ingat itu." Kata Aquila yang sudah mulai kesal, sebab Aquila merasa namanya bukan bedebah.

__ADS_1


__ADS_2