Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 79


__ADS_3

Krakk...


Suara benda keras yang patah menjadi dua hanya karena sebuah tebasan dari pergelangan tangan halus milik seorang gadis yang menampilkan senyum sinis penuh hinaan kepada sang penyerang yang sudah pucat dengan darah yang mengalir dari bibirnya yang pucat.


Orang-orang yang menyaksikan hal itu hanya bisa menatap ngeri dan kagum secara bersamaan. Sedangkan orang yang menyerang Aquila gemetar menahan ketakutan yang merayap dalam hatinya seperti lipan yang menyerang mangsanya.


Suara langkah terdengar sangat nyaring diruang yang penuh dengan manusia yang membisu tidak berani mengeluarkan suara meski hanya hembusan nafas saja. Seolah nafas enggan meninggalkan paru-paru yang penuh dengan udara keruh yang dapat membunuh kapan pun.


BANG....!!!


Sebuah tendang langsung bersarang didada paman ketiga Lufni dan kemudian langsung menabrakkan dirinya didinding yang berlapis ubin marmer yang kini retak dan hancur dan menimbulkan debu yang berterbangan.


"Aku sudah berbaik hati untuk melepaskan mu, heh! maaf saja. Kali ini kamu akan merasakan namanya penyiksaan sesunggugnya!" Ucap Aquila dengan mata yang berbeda warna mengeluarkan warna yang kejam.


"K-kamu... i-iblis..!!" Teriaknya dengan frustasi dan ketakutan yang ekstrim.


"Asal kau tau saja, aku berubah menjadi iblis karena kau mengingnkanku berubah menjadi Iblis." Kata Aquila dengan senyum lembut yang tidak sampai ujung matanya.


"Kakakku sangat mengerikan. Bahkan lebih mengerikan daripada saat itu." Ucap Shiro dengan bulu tubuhnya yang berdiri ketakutan.


"Rino benar. Bahkan seratus kali lebih mengerikan. Giel takut dengan kak Aquila." Ucap Rugiel menyembunyikan wajahnya ditubuh Shiro yang sedang duduk manis ditempat duduk yang lembut.


"Aku rasa, kita tidak bisa menghentikan nona yang sudah terpancing amarahnya." Ucap Leave yang duduk di samping Shiro dan Rugiel.

__ADS_1


"Kita hanya bisa mengawasi keadaannya saja, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap Minami yang masih mengawasi keadaan yang sedikit mengerikan.


Namun, bagi orang yang belum terbiasa, perbuatan Aquila dianggap sangat tidak wajar. Karena Aquila adalah seorang gadis yang terlihat lugu dan lembut namun sedikit pendiam, tapi kenyataanya sangat terbalik dengan kenyataan.


"A-apa y-yang ka-kamu lakukan?!" Tanyanya dengan negri kepada gadis yang berjalan perlahan kearahnya dengan memainkan belati hitam ditangannya yang putih.


"Apa yang akan aku lakukan? Kau ingin seperti apa. Menguliti kulitmu atau memotong nadimu?" Ucap Aquila sambil mengoreskan belatinya di pipi yang sudah memutih, dan luka yang ditimbulkan mengeluarkan darah dan perih secara bersama.


"Ka-mu.... ka-mu...!!" Belum sempat menyelesaikan ucaoanya, Seketika bola matanya langsung memutih dan tidak sadarkan diri dengan wajah pucat seperti mayat.


"Ah, sudah berakhir? ya sudahlah. Kalian bisa membawanya." Kata Aquila dengan riang, seakan itu bukan perbuatannya.


Lufni dan ayahnya sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Aquila, apa gadis yang ada dihadapan mereka hanya ingin bermain dengan menyiksa orang hingga tidak sadarkan diri dan melepaskan begitu saja?


"Nona, lebih baik beristirahat. Biarkan mereka mengurus manusia biadab itu." Kata Minami dengan mendorong Aquila yang berwajah malas dan mengantuk.


"Ma-maaf atas perlakuan saudaraku nona, biarkan kami mengurus kekacauan yang dibuat oleh saudara saya. Dan nona silahkan kembali untuk beristirahat." Ucap ayah Lufni dengan rasa bersalah.


"Benar juga, dan maaf bila aku membuat kalian takut. Aku hanya tidak suka dengan orang sepertinya." Ucap Aquila dengan permintaan maaf yang tulus dan mengatakan apa yang ada dibenaknya.


"Tidak apa nona, saya sangat berterimakasih dengan bantuan nona yang telah memberi pelajaran pada saudaraku yang telah menyakiti anakku. Sebenarnya aku juga tidak percaya dengan adik ketiga ku yang melakukan hak keji seperti ini." Ucap ayah Lufni dengan nada kekecewaan yang mendalam.


"Jangan dipikirkan pak tua. Terimakasih atas perjamuannya." Kata Aquila dengan sopan dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu yang penuh kekacauan akibat ulahnya.

__ADS_1


Semua orang yang berada dalam tempat itu masih menjadi patung hidup karena tidak percaya dengan pandangan yang tertangkap Dimata mereka, gadis yang sebelumnya sangat kejam kini berubah menjadi orang yang lembut dan sedikit tidak sopan dalam ucapannya.


"Apa yang kalian lihat. Cepat bereskan tempat ini!" Tegur ayah Lufni kepada bawahannya yang ikut perjamuan atas kembalinya putra semata wayangnya dari insiden penculikan.


"Ti-tidak ada tuan besar, ka-kami akan segera melaksanakannya." Ucap para bawahannya dengan suara yang terkejut.


"Kau kembalilah anakku, beristirahat. Besok akan menjadi hari yang panjang. Kita akan pergi ke kuil Orunmla untuk memanjatkan doa." Ucap ayah Lufni dengan penuh pengertian dan kasih sayang.


"Baiklah ayahanda. Aku akan kembali untuk beristirahat. Dan jaga kesehatan ayahanda." Kata Lufni lalu memberikan hormat dan berjalan kembali ke kediamannya.


Dalam sekejap, tempat yang penuh kekacauan dengan ubin yang berdarah dan dinding hancur, kini menjadi bersih dan hanya menyisakan dinding yang berlubang dan retak.


Setelah semua telah usai, semua orang kembali untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah dan menyelami dunia mimpi yang indah dan penuh dengan kemustahilan yang menakjubkan sebagain tempat penghibur pikiran yang kacau.


Rembulan yang berbentuk separo telah bertengger di singgasana sang malam dengan sang bintang sebagian teman untuk mengarungi langit malam yang tenang.


Kicauan burung malam menjadi saksi dengan keindahan bulan dan bintang yang menghiasi langit malam yang gelita dan lentera yang menghiasi sisi bangunan untuk menjadi sumber penerangan dimalam hari yang sepi dan hanya sang penjaga yang berlalu-lalang untuk mengamankan lingkungan mereka yang penuh kekayaan duniawi berupa emas dan permata yang tertanam didinding rumah setiap warganya.


Baik bangsawan dan rakyat biasa sangat senang menghiasi rumah mereka dengan hal yang berharga dan berkilau. Untuk menyaingi Sang penerang siang dan malam yang bersinar dengan agung dan anggun.


Gemuruh tanah terdengar di kejauhan dari pusat kerajaan Zuwei, namun goncangannya sampai ke ibukota kerajaan namun tidak terlalu kuat. Goncangannya seperti ayunan sang bunda yang sedang menidurkan anaknya yang rewel.


Sangat lembut dan penuh kasih sayang meskipun hati sang bunda penuh dengan luka didalam hatinya yang rapuh. Seperti Soleil yang sangat mendambakan kebebasan dari kemewahan yang membelenggunya selama seratus tahun lebih.

__ADS_1


__ADS_2