
Susunan anak tangga terlihat suram karena hari telah malam dengan cahaya sang rembulan berbentuk senyum bulan sabit yang terpancar bersama dengan sekelompok bintang yang bercahaya lemah. Langit memperlihatkan keindahan dari sang maha kuasa yang ditunjukkan kepada seluruh mahluk hidup yang melihatnya.
Kepakan sayap burung hantu terdengar senyap bersama hembusan angin malam yang tenang setelah badai salju berlalu membawa duka nestapa. Permukaan sungai membeku menyembunyikan derasnya air yang mengalir menuju lereng bukit penuh dengan kesenyapan.
Hewan-hewan kecil bersembunyi dalam lubang yang mereka gali dan tertidur lelap bersama malam dengan tenang. Namun tidak dengan rumah yang terbuat dari bongkahan es yang terdengar sangat ramai entah membicarakan apa.
"Yang, benar saja!!!! Aku tidak mau ikut dengan manusia ini!!!" Teriak penuh penolakan dari sesosok macam tutul salju yang berukuran tubuh kecil kepada seekor kucing putih.
"Aku tidak bermaksud begitu, aku juga tidak mau berpisah denganmu Nix." Kata Shiro dengan sabar menangani keteguhan dari saudaranya itu yang terlihat sangat membenci Rin.
"Lalu, kenapa aku harus ikut dengannya?!" Tanya Nix dengan menunjuk wajah Rin dengan Kaki depannya.
"Ya, agar kak Rin tidak mendapat masalah saat kekaisaran samudra nanti, dan aku hanya meminta sedikit mana milikmu agar Adrian dapat membuat dirimu yang lain." Jelas Shiro.
"Benar, aku dulu melakukan hal yang sama saat melarikan diri dengan meninggalkan tubuh utamaku dan berubah menjadi pecahan jiwa dan pergi mencari Rino, tapi aku malah masuk dalam botol racunku sendiri yang dijual oleh manusia dari kekaisaran Zemlya." Kata Adrian dengan percaya diri dengan apa yang dia lakukan saat melarikan diri dari rasa sakit yang mendera tubuhnya selama bertahun-tahun, namun sepenuhnya diabaikan bahkan dianggap angin lalu oleh para saudaranya sebab suaranya yang kecil.
"Benarkah? Apa jaminannya bila aku ikut dengannya tanpa ada masalah atau penyiksaan seperti sebelumnya?" Tanya Nix.
"Tentu saja aku yang menjadi jaminannya." Jawab Aquila dengan yakin, tentu saja membaut mereka para pilar terkejut dengan Aquila yang tiba-tiba buka suara, sebab setelah keluar dari dalam ruang bawah tanah Aquila tidak bersuara sama sekali seakan kesal dengan sesuatu.
"Kau? Aku tidak percaya denganmu." Katanya dengan membuang muka mengacuhkan Aquila.
"Nix..!! Apa yang kamu katakan kepada kak Dita. Itu tidak sopan." Tegur Soleil pada sosok macan tutul kecil itu.
"Bukankah itu wajar bila dia tidak percaya dengan kak Aquila, apa kamu lupa saat aku dibebaskan oleh kak Aquila, bukankah aku dulu hampir mencelakainya?" Kata Vent Leger membela Nix, sebab dia pernah merasakan krisis kepercayaan kepada semua manusia termasuk juga yang menyelamatkan mereka dari jurang keputusasaan.
__ADS_1
"Benar juga yang dikatakan Eger, lalu bagaimana?" Tanya Helios yang telah mengingat pertama kali dia bertemu dengan Vent Leger yang mengarahkan cakarnya pada Aquila yang tidak sadarkan diri.
"Bukankah aku sudah memberi tahukan kepadamu caranya?" Kata Adrian denga. wajah memerah.
"Kapan? Aku tidak mendengar mu berbicara tadi." Kata Shiro menatap heran Adrian yang terlihat menahan kejengkelannya.
"Giel pun tidak mendengar suara mu, jika Adrian berbicara bukankah akan terdengar jelas?" Kata Rugiel yang menyetujui apa yang dikatakan Shiro barusan.
"Kenapa kalian selalu saja mengabaikan aku, apa karena suaraku yang terlalu kecil atau Karen telinga kalian yang tertutupi bulu kalian yang tebal?" Kata Adrian penuh dengan emosi dan jengkel kepada seluruh saudaranya itu.
"Leil tidak memiliki bulu, tapi kenapa Leil tidak mendengarkan suaramu bila tadi Adrian berbicara?" Kata Soleil menatap Adrian dengan wajah yang tidak bersalah.
"HA HA HA..... Adrian.... Sudahlah, jangan marah. Lihatlah wajahmu itu, seperti tomat yang matang...." Tawa pecah Helios menertawakan saudaranya sekaligus rivalnya itu dengan sedikit meledek Adrian yang tengah marah.
"Kak Aquila.... Kenapa kakak diam saja, aku bisa melakukannya itu dengan mudah.." Kata Adrian sambil berjalan menuju Aquila yang tengah menutupi bibirnya yang menahan tawanya agar tidak keluar.
"Jadi, Adrian, apa yang kamu bisa lakukan?" Tanya Shiro penasaran.
"Tentu saja dengan manekin. Aku bisa membuat manekin berbagai bentuk, akan tetapi aku membutuhkan mana dari mahluk yang ingin aku buat dan menyisipkan sedikit pecahan jiwa agar manekin yang aku buat bisa bergerak sesuai dengan apa yang diinginkan pecahan jiwa yang aku masukan." Kata Adrian menjelaskan apa yang bisa dia lakukan.
"Kenapa kamu tidak berbicara dari awal, kan kita tidak perlu berdebat tidak berguna seperti ini." Kata Helios.
"Bukankah Lio hanya diam saja, yang terus berbicara itu kan Nix, Eger, dan Rino saja?" Kata Soleil dengan santainya, namun tidak dengan Helios yang terlihat sedikit memerah karena malu meski tertutupi bulu putih diwajahnya.
"Hahaha.... Lio, lain kali jangan banyak omong kosong, kalau tidak Leil akan membuatmu semakin malu." Kata Adrian dengan tertawa puas karena ada yang mewakilinya untuk membuat Helios terdiam menahan malu.
__ADS_1
"Diam kau ular kecil. Kemari kau....!!!! Jangan bersembunyi dibelakang kak Aquila.....!!!" Teriak Helios sambil mengepalkan sayapnya untuk terbang kearah Adrian yang bersembunyi dibelakang Aquila untuk menghindari amukan dari Helios.
Namun sayang, niat Helios harus kandas karena tubuhnya menabrak tangan Aquila dengan keras.
BRUUKKK....!
Tubuh Helios langsung terjatuh di samping Aquila yang terdapat selembar kasur tipis tempat mereka beristirahat.
"Kak Aquila, kenapa kakak menghalangi ku untuk memberi pelajaran pada ular kecil kurang ajar itu...!!" Protes Helios kepada Aquila yang terlihat santai saja.
"Duduk, diam dan jangan bertengkar, setelah masalah ini selesai kalian bisa bermain kejar-kejaran sesuka hati kalian." Kata Aquila dengan wajah serius tidak dapat dibantah.
"Baik...." Kata Adrian dan Helios bersamaan.
"Jadi bagaimana, apa kamu mau memberi sedikit mana mu pada Adrian agar bisa dibuatkan manekin dan mengikuti Rin kekaisaran samudra?" Tanya Aquila pada Nix.
"Tidak masalah, ini lebih baik dari pada aku ikut dengan manusia berambut pendek itu." Kata Nix dengan menatap Rin yang bermalas-malasan.
"Hei...! Aku punya nama tau..!" Kata Rin dengan sedikit menaikan suaranya sebab dia merasa tidak dihargai oleh macan tutul kecil yang akan mengikutinya itu.
"Apa peduliku!" Kata Nix acuh.
"Kau..."
"Sudahlah Rin, jangan hiraukan dia. Nanti kamu juga akan terbiasa dengan setiap ucapannya." Kata Aquila menyela Rin yang akan mengikat.
__ADS_1
"Baiklah, Nix kemari dan ulurkan tanganmu pada ku." Kata Adrian dengan menjulurkan tangannya pada sesosok macan tutul kecil yang tengah terduduk di samping Shiro yang berupa wujud kucing putih dengan bulu yang lebat.
"Baik." Kata Nix dengan mengulurkan tangannya pada tangan Adrian.