
Hembusan angin pelan meniup butiran salju putih yang terlihat samar di hari yang gelap. Bulan purnama ungu bersama awan gelap menggantung di cakrawala menjadi saksi apa yang terjadi di bumi yang mereka naungi.
Nafas tercekat dari para prajurit terdengar samar bahkan sang jendral pun tidak dapat bergerak terperangkap dalam tatapan penuh kekejaman dari manusia yang akan dia bunuh sebelumnya. suara tangis bayi terdengar kembali bersama dengan tawa gagak yang menggema di hari nan gelap gulita itu.
"Tch, apa manusia itu kembali berbuat ulah lagi?" Kata Aquila dengan nada malas dan tidak perduli dengan orang yang ada dihadapannya yang sudah bergetar ketakutan.
"B-bukankah k-kau y-yang me-melakukan hal keji itu ke-kepada para bayi..??" Tanya sang Jendral dengan suara bergetar ketakutan.
"Tidak. Merepotkan sekali. Dan juga hal itu tidak ada gunanya bagiku." Jawab Aquila dengan acuh dan tidak perduli.
"La-lalu s-siapa yang melakukannya kalau bu-bukan diri mu..?" Tanya Sang jendral kembali.
"Bukankan kah aku sudah mengatakannya, apa kau tuli?" Tanya Aquila dengan nada menghina.
"Lalu a-apa tujuanmu kemari?" Tanya sang jendral memberanikan diri.
"Aku? Aku hanya mengambil apa yang seharusnya tidak kalian ganggu dan kalian gunakan sesuka hati." Jawab Aquila sekenanya dan membuat jendral kekaisaran Zemlya kebingungan.
"Apa yang kau inginkan ?!" Tanya sang jendral menebak.
"Bukankah aku sudah mengatkannya? Apa kamu itu tuli dan pikun. Tch..! Kenapa kekaisaran ini memiliki jendral yang sudah tua dan bau tanah seperti mu." Kata Aquila dengan menghina jendral yang ada dihadapannya itu.
"K-kau...! Berani sekali menghina jendral besar dari kekaisaran Zemlya. Akan ku bunuh kau iblis...!" Kata sang Jendral Zemlya dengan tatapan kebencian dan amarah yang terlihat jelas di matanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku menantikan keberhasilan mu jendral tua." Ucap Aquila dengan riang tidak terbebani.
"Datanglah wahai kegelapan, jatuhkanlah musuhku dan jadikan dia pengorbanan untuk kekuatanmu!" Ucap sang jendral dengan penuh keyakinan, dan rune ungu langsung terbentuk di lantai ubin batu alam.
Dari dalam rune ungu itu gumpalan hitam ungu merayap keluar dan kemudian gumpalan hitam ungu berubah menjadi kadal besar dengan lidah bercabang yang sangat mirip sekali dengan komodo hanya berbeda pada warna nya saja.
"Apa kau ingin mengunakan kadal itu untuk menagkapku?" Tanya Aquila dengan menajamkan penglihatanya.
"Diam kau...! Bunuh gadis kurang ajar itu dan persembahkan kepalanya untukku...!" Perintah jendral kekaisaran Zemlya pada magical Beast mirip komodo itu.
Komodo hitam ungu itu langsung berlari dengan gesit kearah Aquila yang masih bersikap santai dengan memainkan jarum kecil yang sudah dilumuri racun milik Adrian. Komodo itu langsung membuka mulutnya dan kemudian cahaya ungu keluar membentuk gumpalan hitam dan langsung tertembak dimana Aquila berdiri.
"Heh...?? Ternyata cukup bagus juga peliharaan mu pak tua, aku menginginkannya." Kata Aquila sambil terus menghindari dari serangan komodo yang tidak berhenti meluncurkan serangannya.
"Kau pelit sekali, padahal kau sudah akan memasuki liang lahat.." Kata Aquila dengan santainya.
Sedangkan sang jendral kekaisaran Zemlya kebingungan dengan apa yang di katakan oleh Aquila, karena dia baru mendengar kata liang lahat yang tidak diketahui apa artinya itu yang dia ketahui hanyalah kremasi.
Saat tengah asik bergulat dengan pikirannya sendiri, tanpa disadari oleh sang jendral Aquila telah berada di belakang jendral kekaisaran Zemlya itu.
"Fokuslah jendral, atau kau mati." Kata Aquila di telinga sang jendral yang masih melamun itu. Dan tentu saja sang jendral langsung terbangun dari lamunannya dan menyerang Aquila dengan belati yang tersimpan di balik armor yang dia gunakan. Namun Aquila dengan cepat pula menghindar dari serangan menyelinap itu.
"Bedebah, apa apa yang kalian lihat..!! Cepat bantu aku untuk menangkap pengacau itu...!!" Teriak sang Jendral kekaisaran Zemlya yang geram dengan tingkah para bawahannya yang hanya melihat saja tanpa niat membantu.
__ADS_1
"Pak tua, apa kau ingin menambah orang untuk ikut bermain..? Ha ha.. Bukankah itu sangat tidak sesuai dengan wajahmu yang garang itu?" Tanya Aquila yang duduk di tembok pembatas istana yang tinggi dan mengayunkan kakinya seperti anak kecil yang sedang duduk bermain air dengan kakinya.
"Diam kau pembuat onar, seharusnya iblis seperti mu segera dilenyapkan dari muka dunia Callista agar tidak membuat kekacauan..!!" Ucapnya dengan kebencian terpancar dari mata sang jendral meski tertutupi oleh lingkungannya yang gelap.
"Ups... Apa aku salah, aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Ucap Aquila hanya menanggapi perkataan jendral kekaisaran Zemlya dengan wajah datar dan suara acuh.
Raut wajah kesal langsung terlihat dengan urat biru menjalar di wajah sang jendral yang sudah muak dengan ucapan Aquila yang seperti meremehkannya dan menghinanya secara halus. Para prajurit juga bingung untuk menghadapi gadis yang ada dihadapan mereka yang seakan mencari kesenangan di atas keresahan yang ditimbulkan akibat ulahnya.
Tentu saja, Aquila hanya ingin mengulur waktu agar para adiknya bisa membebaskan tubuh utama Adrian yang terkunci di istana bawah tanah kekaisaran Zemlya. Helios hanya bisa mengawasi Aquila dari balik rimbunnya ranting pohon, dan tentu saja memberitahukan Aquila bila para saudaranya yang bertugas membebaskan tubuh utama Adrian telah usai.
Namun, permainan Aquila masih terus berlanjut dengan komodo hitam terus meludahkan gumpalan hitam yang mengeluarkan bau busuk yang menyengat terarah pada Aquila layaknya anak panah yang terlepas dari busurnya. Sedangkan para prajurit terus berusaha untuk menangkap Aquila yang berlarian dengan ringan tanpa beban namun hanya gumpalan hitam menjadi tangkapan yang mereka dapatkan.
Gumpalan hitam itu bersifat korosif sehingga mampu melelehkan besi seperti margarin yang terkana panas dan langsung mencair dan mengenai kulit dan menimbulkan luka bakar dan melepuh. Tentu saja para prajurit menjerit kesakitan terdengar sangat nyaring menusuk telinga.
"Pak tua, apa kau tidak kasihan dengan bawahan mu itu. Lihatlah mereka, mereka terluka karena hewan peliharaan mu itu." Kata Aquila seakan memberikan perhatian kepada para prajurit yang terluka dan menyalahkan magical beast yang masih terus menyerangnya dengan ritme tetap.
"Apa peduliku, Meraka hanya bawahan yang harus berkorban untuk atasannya apapun yang terjadi. Semua itu tidak ada hubungannya denganmu." Kata sang Jendral dengan nada sinis.
"Hooo.... Jadi begitu. Kalau begitu, Jagan salahkan aku bila aku berbuat sedikit berlebihan." Kata Aquila dengan senyum miring dan kemudian mengeluarkan belati yang selalu ada di pinggang Aquila.
"Apa yang kau akan lakukan?" Tanya jendral kekaisaran Zemlya dengan tatapan ngeri terarah pada Aquila.
"Tentu saja memberimu pelajaran." Kata Aquila dengan nada dingin nan menusuk.
__ADS_1