
Bintang fajar telah muncul, mengeluarkan cahayanya yang agung menyinari seluruh daratan tandus, sebagian langit masih gelap namun rona jingga kemerahan terlihat disebagian langit timur mengatakan kalau sang Surya akan muncul dan berjalan kearah singgasana nya di cakrawala yang luas.
Pekikan elang terdengar keras untuk memberikan peringatan kepada sang masa agar tetap waspada agar tidak tertangkap didalam cakar tajam miliknya.
Kadal gurun keluar dari persembunyiannya dan berkeliaran di tanah gersang nan kering untuk mencari makan berupa semut atau serangga lainnya. Kalajengking bersembunyi dibalik bebatuan kering untuk menunggu mangsa datang menghampirinya dan menjadi santapan dihari yang panjang.
Dipinggir oase, sekelompok manusia telah bangun dari mimpi indah yang membelai dalam keheningan malam yang tenang. Anak-anak yang ikut dalam korban penculikan terbangun satu per satu dan bingung, dari mana asalnya semua selimut yang mereka kenakan.
Seorang pemuda yang tinggi semampai dengan rambut hitam panjang sepunggung, kulit sehat berwarna gandum dengan tatapan yang cerah mulai menyesuaikan cahaya yang memasuki matanya. Para pengikutnya sudah bangun sejak awal dan membawakan nya air di telapak tangan mereka, alhasil air pun jatuh melalui celah jari.
"Terimakasih, tapi kalian tidak perlu melakukan hal ini, biarkan aku mengambil air itu disana." Ucapnya yang tidak lain Sehetpra Lufni kepada para bawahannya.
"Tidak tuan, ini sudah tugas kami melayani mu." Katanya dengan yakin.
"Aku mengerti, untuk saat ini kalian tidak perlu menyusahkan diri kalian, aku bisa melakukan nya sendiri." Ucap Sehetpra Lufni lalu beranjak dari tempat tidurnya yang terbuat dari daun palem dengan anyaman seadanya.
"Tuan, bukankah kutukan tuan kambuh semalam, bagaimana keadaan tuan?" Tanya salah satu pengikutnya itu.
"Kutukan sudah sembuh, kalian tidak perlu khawatir dengan kondisiku sekarang." Ucapnya dengan senyum mengembang diwajahnya yang tampan.
"Bagaimana bisa tuan, saya ingin mengetahuinya." Ucap salah satu diantara mereka dengan antusias.
"Tidak, itu akan menjadi rahasiaku." Ucap Sehetpra Lufni sambil memukul lemah kepala pengikutnya yang ingin tahu.
"Tuan pelit." Ucapnya sambil mengelus kepalanya yang baru saja dipukul.
__ADS_1
"Ha ha ha, adik ketiga kamu jangan membuat tuan tidak nyaman." Ucap seorang pria yang terlihat lebih dewasa yang tidak lain kakak pertama diantara saudara yang mengikuti Sehetpra Lufni.
"Ya, ya. Aku mengerti." Ucapnya dengan cemberut. Lalu mereka pun melakukan apa yang mereka mau.
Minami dan Leave sudah terbangun sedari tadi, tetapi nona mereka yaitu Aquila Aisar masih terlelap dalam tidurnya bersama Shiro dan Rugiel serta dua magical beast berupa ular coklat keemasan dan laba-laba ungu.
Matahari mulai muncul sedikit demi sedikit dan kemudian menjadi bulat sempurna dengan warna jingga cerah dan mulai beranjak menaiki tangga langit untuk mencapai cakrawala yang tinggi.
Sinar matahari yang hangat mulai mengusik Aquila yang masih terlelap, kelopak mata Aquila mulai terbuka meski pandangannya buram karena menyesuaikan cahaya yang masuk.
Setelah kepadanya telah pulih, Aquila bangun dari tempatnya tidur dan beranjak kepinggir oase untuk mencuci muka agar menjadi segar. Setelah itu Aquila berjalan kearah Minami yang sedang dikerumuni oleh anak-anak yang tadi malam diselamatkannya.
Leave yang tidak jauh dari Minami langsung menghampiri Aquila yang tersenyum samar melihat tingkah laku anak-anak yang sangat polos dan murni.
"Selamat pagi nona, apa nona ingin sarapan?" Tanya Leave yang membawa air didalam botol air minum terbuat dari kulit binatang.
"Mereka belum makan nona, mereka langsung mendatangi Minami seperti melihat induknya sendiri." Kata Leave, kemudian Aquila memberikan wadah air itu kepada Leave.
"Oh, jadi biarkan kak Nami yang mengawasi mereka, lebih baik kita yang membuat makan pagi untuk anak-anak itu dan empat pemuda itu." Kata Aquila, kemudian mengeluarkan buah dan daging yang terdapat didalam kalung dimensinya.
"Nona, biarkan aku saja yang memasak." Kata Leave sambil mengambil daging yang masih ditangan Aquila.
"Kak Leave, aku juga ingin membantu. Aku tidak mau jadi penonton, kalau kak Leave memasak sendiri pasti kerepotan." Tolak Aquila sambil membawa daging yang lain dan buah-buahan.
"Nona, aku tidak ingin nona sakit lagi, lebih baik nona melihat saja."
__ADS_1
"Kak, aku hanya ingin membantumu saja, mengupas buah pun tidak apa." Kata Aquila dengan wajah memelas.
"Baiklah, hanya mengupas saja, jangan mendekati api." Leave hanya bisa pasrah dengan nonanya yang keras kepala melebihi batu yang dapat dipecahkan.
Kemudian, mereka berdua mulai asik dalam kegiatan yang mereka lakukan. Namun seorang pemuda tengah mengamati Aquila dengan sangat intens yang tak lain adalah Sehetpra Lufni.
Rasa penasaran membuat dirinya tidak dapat mengalihkan perhatiannya kepada Aquila. Sebenarnya Aquila dan Leave mengetahui bahwa ada orang yang mengintip mereka, namun mereka mengabaikan pemuda itu dan terus melakukan membuat sarapan.
Setelah cukup lama berkutik dengan api dan pisau, akhirnya sarapan yang dibuat oleh Aquila dan Leave telah selesai.
"Nona, aku akan memanggil anak-anak dan Minami untuk sarapan, dan nona tolong panggilkan para pemuda itu agar ikut sarapan dengan kita." Kata Leave.
"Kenapa tidak kak Leave saja, aku akan memangil Shiro dan Rugiel serta dua hewan kecil yang masih tertidur." Tolak Aquila dengan memberi alasan.
"Nona, apa kamu malu karena baru pertama kali bertemu dengan seorang pemuda selain dari kakak nona Rin dan tuan Erlando?" Tanya Leave dengan senyum menggoda Aquila.
"Huh, bukan masalah itu kak. Aku, aku hanya tidak kenal dengan dia." Kata Aquila dengan memalingkan muka untuk menutupi rona wajahnya.
Sehetpra Lufni yang mendengarkan pembicaraan Aquila dan Leave meski hanya suara samar yang dia dengar, namun perkataan Leave terdengar jelas di telinganya.
"Baru pertama kali, ya? Kenapa perasaanku menjadi hangat?" Ucap Sehetpra Lufni sambil memegang dadanya seakan dipenuhi oleh bunga.
"Tuan.. Tuan..?!" Teriak seorang pemuda yang sedang membawa sarapan yang sudah dibagikan oleh Leave dengan Minami.
Anak-anak pun sudah mendapatkan sarapan lebih dahulu dan kemudian disusul oleh tiga pemuda dan salah satunya membawa dua buah sarapan untuk tuannya yang tengah duduk dibawah pohon kurma dengan tersenyum sendiri dengan memegang dadanya dan tentu saja dengan muka yang memerah.
__ADS_1
"Tuan.. Apa kamu sakit?!" Teriak pemuda itu dengan keras dan menggoyangkan bahu Sehetpra Lufni, namun tatapnya terlihat kosong hal itu membuat mereka bertiga menjadi panik.
"Tuan....!!" Teriak mereka bersamaan. Dalam seketika Sehetpra Lufni langsung terbangun dari khayalannya dan secara spontan tubuhnya langsung terjatuh kebelakang, namun keberuntungan telah memihaknya karena batang pohon kurma menahan tubuhnya agar tidak terjatuh kebelakang.