
"Ha ha, ternyata masih ada orang yang rendah akhlak bahkan lebih rendah dari pada babi. Kau tau, orang-orang sepertimu yang ingin aku bantai." Senyuman Aquila mengembang sangat mengerikan dengan tatapan nya yang menusuk sampai kedalam jiwa orang yang menggunakan jubah hitam yang tidak lain adalah paman dari Lufni.
"Sangat menarik, aku sangat suka dengan wanita yang kejam. Tapi, kita harus bertempur dimedan nafsu yang menggelora, simpan saja tenagamu saat ini setelah aku menyelesaikan urusanku dengan kakak pertamaku dan anak terkutuk itu, cantik." Ucapnya dengan genit.
"Sepertinya, kamu benar-benar menjadi babi yang dungu. Baiklah, aku akan menurutimu setelah aku membunuhmu dan membakar jasadmu menjadi abu." Kata Aquila dengan memainkan pedangnya.
"Nona, lebih baik kamu duduk diam dan menonton. Aku akan memberikan kursi terbaik untukmu cantik." Ucapnya dengan senyuman genit, rasanya Aquila Ingin muntah dengan wajah genit dan mesum itu.
"Nona, biarkan aku saja menghadapi pamanku." Ucap Lufni dengan teguh, namun tangannya bergetar karena tidak kuat menahan berat pedang yang baru saja diberikan oleh ayahnya.
"Tidak perlu tuan muda. Aku sudah sangat muak dengan kelakuannya." Kata Aquila dengan wajah yang dingin.
"Archane, gold, lindungi mereka selama aku bertarung. Kak Nami, janganlah kedua adikku dan kak Leave."
"Laksanakan nona." Ucap mereka secara serempak. Orang-orang yang meyaksikan kejadian itu menjadi sangat terkejut karena magical beast bisa berbicara, sebab setau mereka magical beast tidak bisa berbicara bahkan hanya menampilkan kesombongan.
"Sangat menarik. Aku ingin sekali menjadikan budakmu sebagai milikku nona, serahkan pada ku dan aku akan melepaskan mu setelah puas menidurimu." Ucapnya dengan vrontal.
"Menjijikan! aku penasaran, berapa banyak orang yang sepertimu yang telah berubah menjadi babi dungu yang menyedihkan." Kata Aquila memprovokasi.
"Cantik, aku bukanlah babi dungu,aku adalah spinx yang agung. Jangan samakan aku dengan hewan rendahan itu." Ucapnya yang sudah memakan umpan provokasi Aquila.
"Spinx? apa aku tidak salah dengar. Mana mungkin Spinx mau disamakan dengan mu. Aku rasa mereka akan langsung meludahi mu." Kata Aquila sambil mengorek lubang telinganya dengan jari kelingkingnya.
__ADS_1
"Cantik, mulutmu itu sangat tajam. Sepertinya aku harus memotong lidahmu itu dan memakannya. Bagimana? Sangat bagus bukan?" Ucapnya dengan wajah yang memerah.
"Oh? apa aku harus perduli? memang siapa dirimu? bahkan kamu tidak layak untuk memberiku nasehat payah mu itu." Ucap Aquila sambil melepaskan jubah putih miliknya.
Setelah melepaskan jubahnya, aura milik Aquila keluar seperti bangsawan yang agung dan siapapun yang melihat Aquila tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada aurapesona dingin.
"Jaga ucapanmu bocah! Memnag siapa dirimu, berani sekali tidak mendengarkan nasehat ku bahkan mengatakan kalau aku payah!" Ucapnya dengan marah.
"Kau memang P-A-Y-A-H!" Ucap Aquila dengan menekan kata payah dengan jelas.
"Kau...!" Kata paman ketiga Lufni dengan memelototi Aquila, dan seakan bola matanya akan keluar dari tempatnya.
Amarah yabg sudah ditahan, kini sudah mencapai ubun-ubun kepalanya dan siapa untuk meledak kapan saja bila ditambah amunisi provokasi oleh Aquila.
"Aku kenapa? Aku memang pintar dan kau PAYAH!" Kata Aquila dengan senyum mengejek.
Sebuah mata pedang yang tajam langsung mengarah kepada Aquila yang masih berdiri dengan melipat tangan didadanya, "Kau tidak sopan sama sekali paman, ingat umur, kasihani tulang-tulang tua mu itu. Pasti akan kena osteoporosis, Huu.. kasian sekali." Aquila dengan terkikik geli.
"Diam bocah sialan! Kali ini kamu akan benar-benar mati!" Ucapnya dengan marah dan terus menyerang Aquila dengan pedangnya, namun dari semua serangannya tidak ada satu pun yang berhasil menggores tubuh Aquila bahkan sehelai rambut pun tidak terpotong.
Aquila masih terus menghindar dan mempermainkan paman ketiga Lufni, sebenarnya Aquila ingin langsung menghabisi orang yang merendahkannya bahkan mengatai kalau teman-temannya adalah budaknya.
Aquila hanya ingin membuat orang yang telah berani menghina bahkan memandanginya dengan tatapan nafsu, ia ingin memberi perasaan apa namanya dipermainkan, seperti landak yang lemah dan hanya bisa menghindar setelah sang predator lengah, si landa akan menghajar dengan duri-duri di punggungnya yang tajam dan beracun.
__ADS_1
Dalam pikiran Aquila itu sangat menyenangkan, andai saja orang yang ada dihadapannya tau apa yang ada dipikiran Aquila. Pasti dia akan lebih memilih mengalah dan pergi, tapi sayangnya dia tidak bisa melihatnya. Tragis.
Syuutt....!!!
Sebuah jarum kecil mengenai leher paman ketiga Lufni, rasanya seperti digigit semut sehingga diabaikan olehnya. Namun, rasa sakit yang tidak seberapa mulai terasa menyiksa di bagian yang terkena jarum kecil yang mengenainya.
"Apa yang kamu berikan padaku jalang!" Ucap paman ketiga Lufni yang sudah terduduk gemetar diubin yang dingin dan memengangi lehernya.
"Tidak ada. Hanya bermain dengan racun milik temanku saja, ternyata itu sangat berguna." Kata Aquila dengan santai, seakan itu hanyalah permainan anak-anak yang menyenangkan.
"Kau...!! Ughk..." Paman ketiga Lufni terbatuk dengan sepercik darah yang menghiasai sela-sela jarinya dan mengalir seperti alga merah yang terkena arus laut.
"Kau tau paman, racun yang aku berikan padamu itu adalah hasil eksperimen yang aku buat dengan batuan Archane. Dirimu harus berbahagia sebagai orang yang pertama jaki menjadi uji cobaku. Ha ha ha!" Ucap Aquila dengan tertawa bahagia. Namun orang yang melihat dan mendengar tawa Aquila menjadi takut dengan keringat dingin yang mengalir dipunggung mereka.
"J-jalang..! Dirimu be-benar-benar tercela, berani se-sekali kau me-menggunakan racun.. untuk me-membunuh ku..!" Ucapnya dengan terbata dan menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Sebenarnya kamu sedang membicarakan siapa, diriku atau dirimu?" Kata Aquila sambil mencengkram dagu paman ketiga Lufni dengan erat, bahkan terdengar suara retakan tulang.
"Kau mengakan kalau diriku tercela, lalu siapa kamu? Bahkan kamu lebih tercela dan bejat dari pada hewan liar. Kau ingin meniduri ku dan menjadikan teman-teman ku sebagai budak. Dan kau bahkan lebih memilih harta dari pada nyawa keponakanmu. Aku penasaran dengan isi otakmu itu, apa hanya berisi harta dan nafsu saja? Heh bahkan bajingan pun batasnya." Ucap Aquila menghina orang yang berada dalam genggamannya.
Aquila pun melepaskan cengkeramannya dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan orang yang sudah terkapar di lantai ubin.
"Lebih baik aku mati dan menyeret mu dalam neraka untuk menaiku!!" Teriak paman ketiga Lufni dengan melemparkan pedangnya kearah Aquila
__ADS_1
Orang-orang yang melihat kejadian itu menjadi terkejut, terutama Lufni dan ayahnya yang melihat sangat panik.
"Nona...! Awas...!" Teriak Lufni memperingati dengan perasaan yang was-was dengan kemungkinan yang terjadi. Namun, semua itu hanyalah menjadi buih dan menghilang digantikan dengan rasa kagum dan bersyukur.