Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 72


__ADS_3

Derap langkah terdengar samar karena pasir dan angin yang beterbangan mengikuti langkah kaki berjalan. Sinar matahari begitu terik menyengat kulit tanpa pelindung.


Secuil awan tidak terlihat di langit yang luas hanya mentari sendiri berjalan cakrawala biru. Pekikan elang terdengar dengan nyaring dan kemudian tengelam dalam suasana yang sepi digurun yang tenang.


Perjalan sekelompok manusia dan magical beast terlihat tenang, tanpa percakapan hanya hembusan nafas bersatu dengan semilir angin gurun yang kering. Matahari telah sampai di singgasananya dan memancarkan sinarnya dengan bangga, seakan dialah yang menguasai daratan gurun dan menyingkirkan awan yang akan berlabuh, sehingga dia sendiri mengarungi langit yang biru.


Anak manusia beristirahat sejenak untuk mengisi energi yang sebelumnya terkuras dan hanya menyisakan keringat yang menghiasi wajah yang kelelahan. Setelah dirasa cukup, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan untuk kembali dalam dekapan hangat orang tua yang telah menunggu dirumah.


Senja kini sudah menyapa, dan mereka sudah sampai ditepi sungai yang luas dengan jembatan yang sangat indah dan berbalut emas. Sehingga memantulkan cahaya senja yang berwarna jingga dipermukaan sungai yang tenang.


Dipinggiran sungai tumbuh rumput cattails dengan daun yang memanjang dengan bunga yang seperti ekor kucing berwarna coklat tertata rapih dipinggir sungai. Jarak dari tepi sungai ketepi yang lain sangatlah luas seperti laut dengan air keruh kecoklatan.


Lalu, sekelompok manusia dan magical beast mulai melalu jembatan yang mewah seperti itu. Seorang gadis dengan jubah putih yang mengendong kucing dan Griffin terperangah mengagumi jembatan yang sangat indah dan mewah itu.


Setiap sisinya berlapis emas dan bertahtakan permata bening dan lantainya terbuat dari marmer berkualitas tinggi, sehingga banyangan orang yang berdiri terlihat jelas seperti memiliki kembaran.


Para magical beast berubah menjadi bentuk kecil, karena peraturan yang tertera dinegeri emas sangatlah ketat terhadap budak manusia atau magical beast. Mereka pun menyebrangi jembatan itu untuk sampai di ibukota kerajaan Zuwei yang sangat indah akan kekayaan negerinya.


Kerajaan Zuwei terlihat makmur dan sejahtera, itu terlihat jelas dijalan utama yang dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang menikmati suasana sore yang ramai.


Namun, dibalik itu semua tersembunyi sebuah kekejaman dan keserakahan akan harta dunia dan penindasan. Itu lah yang Aquila rasakan saat menginjakkan kakinya di tanah dengan seribu kemewahan, kerajaan Zuwei.


"Kakak, terimakasih telah mengantarkan kami sampai disini, kami semua akan mengingat kakak sebagai penolong kami dari penculikan itu." Ucap seorang gadis yang sangat cantik dengan mata seindah Rubi merah yang menyala dengan sinar senja.

__ADS_1


"Em, pulanglah. Ayah dan ibumu pasti menantimu." Kata Aquila dengan wajah datarnya.


"Terimakasih kak. Aku akan mengingat kebaikan kakak. Apa kita akan bertemu lagi?" Kata seorang gadis kecil dengan wajah yang mengais memeluk Minami.


"Jangan menangi. Kalau Dewi mengizinkan, kita pasti akan berjumpa lagi." Ucap Minami dengan senyuman yang indah dan ketulusan.


"Kakak, apakah kami boleh membawa ini?" Tanya seorang anak laki-laki sambil mengangkat tangannya yang terdapat magical beast berukuran kecil berbentuk kadal gurun dengan tanduk di keningnya.


"Terserah kalian, tapi tanyakan dahulu kepadanya apakah mau ikut denganmu." Kata Aquila yang terdengar tidak perduli.


"Dan ingat. Jangan menjadikan mereka sebagai pelayan kalian dan anggap mereka seperti sahabat kalian sendiri. Jika ada yang menerapkan segel perbudakan, kalian akan mendapatkan hukuman dariku." Aquila memberi peringatan kepada anak-anak itu yang sebelumnya bahagia karena mendapatkan magical beast dan kini menjadi ketakutan karena aura yang dipancarkan oleh Aquila.


"Nona, kamu membuat takut anak-anak itu. Kasian mereka." Kata Minami dengan wajah memohon.


"Aku tidak perduli. Aku hanya melakukan apa yang ku anggap benar." Kata Aquila dengan acuh.


"Bagaimana menurutmu kak Nami?" Tanya Aquila kepada Minami yang masih menenangkan anak-anak itu yang masih ketakutan akan aura Aquila.


"Bagiku tidak masalah nona, kita juga belum tau tentang negeri ini." Ucap Minami tidak keberatan.


"Baiklah tuan muda, aku akan bersinggah ditempatmu." Kata Aquila menerima permintaan Sehetpra Lufni.


"Nona jangan panggil aku dengan sebutan tuan muda, panggil saja Lufni. Jujur itu tidak membuatku nyaman karena nona adalah penyelamatku." Lufni menyatakan keengganannya karena panggilan Aquila yang terkesan menjaga jarak.

__ADS_1


"Terserah diriku. Dan kalian bisa kembali, dan tenang saja magical beast yang kalian bawa akan melindungi kalian dari orang berniat buruk." Kata Aquila, lalu berjalan mendahului Sehetpra Lufni yang masih terdiam ditempatnya.


"Kalian pulang lah, orang tua kalian pasti sedang mencemaskan kalian." Kata Minami dengan penuh kasih sayang.


"Kakak, kami akan pulang, dan jaga diri kakak." Ucap anak-anak itu secara serempak dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


Minami pun ikut melambaikan tangganya, dan kemudian berjalan dan berdiri disamping Aquila yang membawa dua hewan berbulu tengah tertidur lelap.


"Tuan muda, tolong tunjukan jalan." Kata Minami yang memecahkan lamunan Lufni.


"Baiklah, tolong ikuti saya." Ucapnya dengan sopan. Lalu mereka berlima dan dengan lima magical beast berjalan beriringan dijalan yang penuh dengan manusia yang menatap penuh keserakahan ingin memiliki rusa putih yang bersinar seperti kristal dengan cahaya senja yang lembut.


Di sebuah tempat yang jauh dari pusat kerjaan, terdapat sebuah tempat yang penuh dengan hamparan pasir terdapat kuil yang sudah rusak.


Raungan rendah terdengar nyaring di keheningan gurun Agris yang sunyi. Seekor hewan buas berbentuk kura-kura namun berukuran sangat besar, dengan rantai emas yang mengikat setiap kakinya.


Rantai emas itu terus berbunyi karena perjuangan hewan itu lepas dari belenggu yang Indah dan mewah. Raungannya terus menggema meski teredam oleh kesunyian malam di gurun yang sepi.


Hewan-hewan kecil sudah bersembunyi di liang masing-masing untuk beristirahat dan menjalani hari esok yang penuh dengan keputusasaan akan kekeringan tanpa makanan yang cukup.


Ya, memang sangat putus asa bagi sebuah pilar yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan alam yang sudah menderita karena ulah manusia yang terus menumpahkan darah dari saudaranya demi harta dan tahta.


Setitik air keluar dari pelupuk mata sang kura-kura, meratapi kesedihannya karena kegagalannya menjaga wilayahnya dan terkurung ditempat yang menyiksanya sejak lama oleh manusia yang mengambil pilar dari wilayah lain yang tidak lain adalah saudaranya sendiri.

__ADS_1


Namun, mata saudaranya itu sudah tidak memiliki kasih sayang dan hanya haus darah ingin membunuh dan terus membunuh manusia yang menantang sang tuan.


Itulah sang pilar Soleil yang tidak bisa mengembalikan saudaranya sang matahari Helios si burung cahaya matahari kini menjadi bencana kekeringan diwilayah asalnya.


__ADS_2