
Malam masih menemani, bintang dan bulan kembali muncul dari balik awan pekat, angin tidak seperti sebelumnya namun alunannya begitu pelan membuai siapa pun yang ingin tidur.
Baik hewan maupun manusia tertidur dengan lelap memimpikan impian dalam malam yang tenang nan indah. Buaian sinar bulan dan bintang menjadi pelita ditengah malam yang gelap. Jangkrik tidak mengeluarkan suara seperti biasanya karena tempat mereka untuk menarik suara sudah hilang dan menjadi tanah yang berlumpur dengan bagian pinggirnya sudah mengering dan membentuk retakan kecil.
Burung malam masih berkeliaran sambil mengeluarkan suara lengkingan yang khas, hewan nokturnal yang lain pun langsung bersembunyi untuk menghindari si pemangsa malam.
Seekor rubah berwarna jingga dan serigala abu-abu telah kembali dari perjalanan mereka yang panjang dan beresiko, kancil telinga daun dan beberapa burung pelatuk langsung menyambut nya dengan hangat untuk mengurangi malam yang dingin.
Burung raja udang nan biru dengan burung kakatua yang hitam pekat tidak ikut menyambut pemimpin mereka karena sedang bersama Messiah didalam tenda yang terdapat budak wanita sebagian pemuas nafsu para lelaki hidung belang.
"Jadi, kenapa kalian tidak memakai pakaian. Atau kalian ingin aku lempar keluar." Ancam Aquila yang jengah dengan mereka yang ada dipojokan dengan telanjang.
"ka-kami akan segera me-memakai segera nona." Ucap salah satu dari mereka dengan gemetar.
"Cepatlah pakai. Aku tidak punya banyak kesabaran."
"Ah, nona. Jangan terlalu memaksa. Mereka ketakutan." Ucap Leave kepada Aquila dengan wajah dingin dan sangarnya meski hanya sebuah api kecil yang menerangi bagian dalam tenda itu, wajah Aquila sangat lah terlihat mengerikan bagi mereka.
"Terserah kakak, hei hitam! Kembalilah kehutan light elf, katakan kepada mereka untuk kemari saat fajar menyingsing." Ucap Aquila dengan menyangga dagunya dengan tangan kanannya.
"Akan saya sampaikan nona." Kata burung kakatua dengan hormat. Lalu melesat dari dalam tenda itu dan segera menyatu dengan gelapnya hutan untuk memberitahukan kepada teman mereka yang tinggal sementara dihutan light elf.
"Ka-kami menghadap kepada nona." Ucap mereka serempak dengan bersujud dilantai yang terbuat dari kulit beruang coklat yang lembut.
"Begini lebih baik, bangun lah." Mereka semua langsung bangun dari sujud mereka yang tertekan dan ketakutan. Sebab baru pertama kali melihat seorang wanita yang sangat berani untuk menyakiti seorang bangsawan dan membuatnya cacat.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kalian menjadi budak manusia bejat itu?" Tanya Aquila dengan tatapan yang seperti biasanya, tajam dan menusuk.
"....."
"Kenapa kalian membisu? Apa kurang jelas pertanyaanku ini!" Suara Aquila menjadi dingin karena kebisuan mereka.
"Ha-hamba sudah lama mengikuti tuan, n-namun budak lainya belum lama dibeli dari pasar budak kerajaan Zuwei." Ucap seorang wanita yang ada didepan yang lainya. Pakaiannya terlihat minim seperti pakaian Mesir kuno yang menutupi bagian inti saja.
"kerajaan Zuwei ya, apa hal itu umum di negerimu?" Tanya Aquila kembali.
"Benar nona, kami para budak dibeli di pasar budak atau lelang." Jawabnya, namun suaranya terlihat sedikit berani daripada sebelumnya yang terlihat ketakutan.
"Lelang, sepertinya menarik. Apa saja yang dijual dalam lelang itu?" Tanya Aquila penasaran.
"Umumnya yang dijual diperlelangan seperti artefak, senjata sihir, magical beast atau budak dengan kualitas bagus seperti tawanan perang dari bangsawan atau putri raja dari kerajaan lain." Jelasnya.
"Itu..... Hamba tidak terlalu mengerti tentang yang mulia pilar Soleil nona. Hanya dari pihak kuil saja yang boleh mengetahui tentang yang mulia pilar Soleil." Katanya dengan rasa bersalah.
"Aku tidak memerlukan detail kecil tentang Soleil. Aku hanya ingin tau saja dimana dia ditempatkan. Karena aku harus membebaskannya." Aquila mengatakannya dengan penuh semangat.
"Yang mulia Soleil berada disebuah kuil yang berada ditengah gurun Aglis. Namun nona harus berhati-hati, karena digurun itu terdapat banyak magical beast tingkat raja dan yang terlemah ditinggat senior nona, dan juga didalam kuil itu terdapat banyak sekali jebakan, agar tidak dapat dimasuki oleh orang asing." Wanita itu menjelaskan semua yang ia ketahui dengan tempat mengurung sang pilar Soleil.
"Terimakasih nona, lalu setelah ini apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Aquila dengan nada yang datar namun tidak sedingin sebelumnya.
"Untuk saat ini kami semua tidak tau nona, sebab kami masih terikat kontrak budak." Ucap wanita itu dengan getir dan sedih.
__ADS_1
"Baiklah, untuk saat ini kalian istirahatlah lebih dahulu. Besok aku akan mencari cara untuk membatalkan budak kalian."
"Apa nona yakin, ingin membebaskan kami semua dari siksaan bangsawan kejam itu?" Tanya mereka dengan penuh harapan.
"Aku tidak yakin, kalian jangan terlalu banyak berhadap pada ku."
"Nona, kami semu-"
"Lebih baik, kalian semua beristirahatlah. Nona kami juga perlu beristirahat." Leave mengatakan dengan wajah yang terlihat jengkel karena mereka para budak terlihat akan memaksa Aquila untuk membantu mereka.
Dengan kecewa, mereka langsung bersujud lalu pergi ketempat lain dari bagian tenda itu yang hanya sebuah penyekat dari kain terbuat dari bulu kambing yang di sulam rapih dan elegan.
"Apa nona ingin beristirahat?" Tanya Minami yang masih setia berdiri di samping Aquila yang menyangga dagu dengan tangan dan sesekali menguap lebar.
"Ah... Rasanya hari ini terlalu melelahkan. Dan tentu saja aku ingin tidur, tapi dimana? Tempat ini terlalu menyengat." Aquila mengatakannya dengan nada malas dan sedikit manja kepada kedua kakaknya itu.
"Tenang saja nona, aku akan membersihkan tempat ini dengan cepat. Sebelum itu, nona Aquila dan nona Leave terlebih dahulu keluar, agar aku dapat memberikan dengan sempurna." Ucap Minami sambil mendorong Aquila dan Leave keluar dari dalam tenda itu.
"Huh..! kak Nami selalu saja begitu. Aku juga kan ingin membantu." Ucap Aquila dengan cemberut.
"Nona, jangan begitu. Biarkan Minami menyelesaikan pekerjaannya." Ucap Leave dengan pandanganya kearah tenda yang ada dihadapannya.
"Ya, setidaknya ada yang aku kerjakan. Tidak seperti ini hanya berdiam diri dan mematung." Kata Aquila sambil menendang batu kecil dibawah kakinya untuk melampiaskan rasa jengkelnya.
Leave hanya bisa mendengarkan kata-kata Aquila dengan penuh kesabaran. Karena yang diucapkan Aquila hanyalah keluh kesahnya terhadap Minami yang tidak mau dibantu olehnya dan malah dilarang untuk membantu, seakan dirinya adalah sebuah barang yang berharga yang tidak boleh kotor.
__ADS_1
Setelah lama menunggu, akhirnya Mianmi keluar untuk memberitahukan kepada Aquila dan Leave bahwa tenda itu telah dibersihkan dan siap untuk digunakan. Aquila yang masih cemberut langsung masuk dalam tenda yang diikuti juga oleh Minami dan Leave yang setia mengikutinya.