Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 71


__ADS_3

Wajah Aquila menjadi penuh tanda tanya, sebab selama ini Minami tidak pernah memukulnya meski hanya seujung kukunya. Bahkan Minami sangat menyayanginya seperti adiknya sendiri. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir didalam kepalanya yang sedang berpikir.


"Nona, jangan dipikirkan ucapan tuan Shiro. Lebih baik nona sarapan terlebih dahulu setelah itu kita berangkat menyelusuri gurun pasir ini untuk menuju kerajaan Zuwei." Kata Leave yang memecahkan lamunan Aquila tentang ucapan yang terlontar dari mulut Shiro yang terlampau jujur itu.


"Ah, bener juga. Apa anak-anak itu sudah makan?" Tanya Aquila sambil melihat anak-anak yang berkerumun menjadi satu dengan selingan canda tawa sebagai bentuk keakraban.


"Mereka sudah makan nona, tapi aku tidak bisa memberi makan pada magical beast itu. Mereka menolak makanan yang aku berikan." Kata Leave sambil melihat segerombolan magical beast yang berdiri dengan tatapan kosong seperti boneka.


"Nona mah kemana?" Tanya Leave.


"Tentu saja melepaskan mereka kak, aku merasa tidak enak kalau mereka masih seperti itu." Jawab Aquila berjalan kearah rombongan magical beast.


"Nona lebih baik memakan sarapan dahulu." Pinta Leave yang cerewet tentang kesehatan Aquila yang belum sepenuhnya pulih.


"Aku tida apa kak, percayalah." Kata Aquila meyakinkan.


Aquila berdiri dihadapan para magical beast yang seperti boneka, kemudian Aquila mulai merapatkan mantra yang sama saat melepaskan belenggu perbudakan pada ular yang masih disembuhkan oleh Minami.


Dalam seketika, sebuah rune besar melayang diudara tepat berada diatas magical beast. Sebuah cahaya putih keluar secara perlahan dan diikuti cahaya ungu ikut menguap dari bagian tubuh yang terdapat rune perbudakaan.


Dalam sekejap, para magical beast kembali sadar dan membuat anak-anak dan empat pemuda itu terperangah dengan aksi yang dilakukan oleh Aquila. Sebab baru kali pertama mereka melihat orang yang mampu melepaskan segel budak sebanyak itu.


Bahkan para Panasea hanya mampu melepaskan segel budak sebanyak lima orang saja, dan bahkan paling mengejutkan para magical beast meyebut Aquila dengan hormat sebagai Messiah.


"Messiah? Apa aku sedang bermimpi bertemu dengan sang penyelamat?" Kata seorang anak laki-laki dengan tidak percaya.


"Aku rasa bukan, Auw.... ini sangat sakit." Ucap seorang anak perempuan sambil menyubuit lengannya sendiri.


Suara ribut anak-anak itu semakin jelas, tentu saja dalam sekejap langsung terdiam karena tatapan tajam dari orang yang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Ternyata dirimu seorang Messiah, pantas saja kutukan yang sudah lama bersarang didalam tubuhku langsung menghilang dalam sekejap mata." Kata Sehetpra Lufni dengan suara lirih dan tentu saja dengan senyum yang terpasang diwajahnya yang tampan.


"Aku harap kalian dapat merahasiakan siapa sebenarnya diriku, dan anggap pertemuan kita hanya sebagai orang yang kebetulan menyematkan kalian. Setelah aku mengantarkan kalian di kerajaan Zuwei anggap lah pertemuan kita tidak pernah terjadi." Ucap Aquila dengan wajah yang dingin.


"Nona Messiah, tentu kami semua akan merahasiakan Tetang dirimu. Sebenarnya dikerajaan Zuwei telah tersebar tentang dirimu yang membuat Duke Ansol terluka dan menjadi cacat. Sebenarnya kami sangat bersyukur dengan karma yang diterima olehnya yang semena-mena meminta pajak yang tinggi." Kata seorang gadis kecil dengan wajah rupawan meski terdapat debu.


"Bagus lah kalau begitu. Kalian, para magical Beast! Tugas kalian membawa salah satu anak atau empat pemuda dengan selamat dan kalian bisa mengikuti mereka atau kembali ketempat asal kalian." Kata Aquila dengan penuh berwibawa meski dengan wajahnya yang datar.


"Keinginanmu adalah perintah bagi hamba yang mulia Messiah." Ucap mereka para magical beast dengan serempak.


Setelah dirasa cukup, Aquila langsung kembali di samping Leave yang sedang membawakan sarapannya yang sudah dingin. Aquila langsung memakan sarapannya dengan lahap tanpa memperhatikan sekitarnya.


Minami pun sudah selesai memberikan perawatan pada ular kecil yang sebelumnya masih tidak sadarkan diri, kini sudah kembali sadar dan bergerak dengan lincah dan bermain dengan Shiro dan Rugiel sedangkan laba-laba Archane merebahkan dirinya dibawah pohon palem.


Magical beast yang sudah mendapatkan orang yang ingin diikutinya dan hanya tinggal seorang saja yang belum mendapatkannya. Dia hanya bisa tersenyum tidak mengerti dangan apa dia sendiri yang tidak mendapatkan tumpangan.


"Tuan, anda bisa ikut denganku." Kata seorang yang selalu ada disisinya dan seekor magical beast berbentuk kuda hitam dengan Surai berwarna putih.


"Apa semuanya telah siap, kita akan segera pergi dari tempat ini.!" Ucap Aquila yang sudah menaiki seekor rusa kristal yang tidak lain adalah Leave, sambil melihat sekitarnya.


"Hei tuan muda, segeralah bergegas. Apa kamu ingin tinggal disini?" Tanya Aquila.


"Nona jangan panggil aku tuan muda, panggil saja Lufni. Dan tentu saja aku tidak mau tinggal disini." Ucapnya dengan tersenyum canggung.


"Lalu kenapa kau tidak segera naik?"


"Aku tidak mendapatkan tempat nona, bahkan kuda pun menolak saat aku akan naik." Kata Lufni dengan jujur.


"Oh, kak Nami! Kamu bawa tuan muda ini." Teriak Aquila dengan santai.

__ADS_1


"Baiklah nona." Ucap Minami menerima, namun tidak dengan laba-laba Archane.


"Nona, tubuhku masih sakit sejak mengendong ular besar itu dan aku juga tidak bisa menampung lebih." Ucap laba-laba Archane dengan sedih seakan dirinya dianiaya.


Aquila hanya memandang laba-laba Arcane dengan datar seakan ucapan nya adalah lelucon garing untuk menghindari beban berlebih.


"Nona, kenapa dia tidak bersamamu saja?" Saran laba-laba Archane.


"Benar nona, dan tentang tubuh Archane memang tidak berbohong. Aku sudah memeriksanya." Ucap Minami dengan penuh keyakinan.


"Sejak kapan kalian menjadi akrab? Ah, sudahlah. Kak Leave tidak apa kalau dia ikut dengan kita?" Tanya Aquila kepada Leave.


"Tidak apa nona. Aku tidak keberatan." Jawab Leave dengan ringan.


"Um, baiklah, kau! ikut denganku!" Ucap Aquila sambil menunjuk Sehetpra Lufni.


"Nona, tidak apa-apa. Aku bisa berjalan kaki." Tolaknya.


"Kalau berjalan kaki, sampai kapan kita sampai. Aku tidak memiliki banyak waktu disini." Kata Aquila mengatakan dengan serius. Memnag benar dia tidak memiliki waktu digurun gersang dan panas itu.


"Tuan, ikuti saja. Aku rasa tidak buruk untuk dekat dengan seorang wanita." Kata pengikutnya dengan berbisik.


"Kalian, kenapa malah menjerumuskan ku pada hal canggung seperti ini." Ucap Lufni menanggapi perkataan pengikutnya itu.


"Tuan, apa tuan ingi melihat tuan besar cemas dengan mu? Lebih baik tuan bersama nona itu." Ucapnya membujuk.


"Baiklah. Aku juga mencemaskan ayahku." Kata Lufni, lalu berjalan dimana Aquila berada.


"Maaf, aku akan merepotkan mu." Ucap Lufni dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


"Tidak masalah, naiklah." Kata Aquila dengan suara yang datar. Lalu Lufni menaiki punggung seekor Rusa kristal yang sudah diduduki oleh Aquila.


Akhirnya, mereka semua mulai berjalan mengarungi gurun yang gersang itu untuk mencapai sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh Padang pasir dengan sungai yang membelah dalam samudra pasir yang panas.


__ADS_2