
Mereka Aquila dan Rin berlari menembus hembusan angin kencang yang tiada berhenti, dan akhirnya mereka berdua sampai dimana tempat yang dibicarakan oleh Aquila sebelumnya. Yaitu sebuah sungai dengan pohon besar namun tidak ada cahaya diatasnya, sebab hari masih siang meski dengan cuaca yang buruk.
Minami yang merasakan kehadiran orang asing langsung keluar dari rumah es yang dibuat oleh Leave dan sembunyi dibalik bayang pohon dan siap untuk menyerang. Dan dalam waktu sekian detik, sebuah belati langsung menghunus tubuh Rin dengan sangat cepat namun ditangkis dengan mudah oleh Rin.
Minami yang melihat serangan diam-diamnya gagal, dia langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan muncul dihadapan Rin dengan aura yang suram.
"Wah.. aku tidak menyangka kalau tempat ini dijaga oleh antek-antek kaisar keparat itu." Ucap Rin dengan wajah menghina.
"Siap yang anda sebut seperti itu. Saya tidak mengenal kaisar manapun. Jadi saya harap jaga mulut anda." Kata Minami dengan datar.
"Lalu, kenapa kau berada disini kalau bukan anjing penjaga miliknya yang menjaga barangnya." Kata Rin dengan nada yang sengit.
"Maaf, saya bukan anjing penjaga orang, saya hanyalah pelayan yang melindungi tuannya." Ucap Minami dengan suara yang dingin sebab baru kali ini terdapat orang yang mengatainya dengan tidak sopan.
"Kalau begitu, bukankah sama saja kalau dirimu itu hanyalah anjing penjaga?" Tanya Rin dengan senyum sinis meski tidak terlihat karena tertutupi helem zirahnya.
"Jaga ucapan anda, nona. Saya bukanlah orang yang baik hati yang dapat anda hina sesuka hati." Ucap Minami dengan memegang salah satu belatinya dengan erat.
"Aku tidak menghinamu, tapi itu adalah kenyatannya bukan..?" Kata Rin dengan tidak perduli dengan apa yang barusan dia katakan.
Minami langsung menyerang Rin dengan belatinya yang sudah diberikan sedikit mana kegelapan yang bersifat merusak meski hanya sebuah goresan kecil mampu membuat kulit yang terkena belatinya melepuh dan berdarah.
"Lumayan juga, tapi sayang sekali. Serangan mu sangat lemah.." Ucap Rin dengan menangkis belati Minami dengan pedangnya.
"Kalau begitu, jangan salahkan saya bila anda menderita." Kata Minami dengan suara yang serius dengan ancaman dari auranya.
__ADS_1
"Aku sangat menantikannya." Kata Rin menantang.
Rune gelap muncul di tanah yang diinjak Minami dan sebuah sulur tanaman gelap langsung menyerang Rin tanpa jeda, dan tentu saja membuat Rin kewalahan. Sedangkan Aquila sudah kembali kedalam rumah es buatan Leave dan tidak menyadari kalau diluar ruangan itu terjadi sebuah pertemuan yang sangat dahsyat bahkan mempora-porandakan sekitarnya dengan sangat parah.
Pepohonan berjatuhan dan hancur tidak berbentuk akibat tebasan pedang Rin untuk menangkis dan menyerang setiap sulur Minami yang terus menyerangnya.
"Ternyata kau pengguna element kegelapan, kalau begitu biarkan aku memberikanmu sedikit element cahaya milikku." Ucap Rin dengan nada yang sinis.
"Silahkan saja, kalau anda bisa mengalahkan element kegelapan milik saya." Kata Minami menantang.
Aquila terlihat kebingungan didalam rumah es itu, sebab sahabat yang baru saja dia bawa tidak ada dan juga kakaknya Minami menghilang tidak diketahui keberadaanya.
"Nona, nona mencari siapa?" Tanya Leave yang terlihat penasaran dengan tingkah nonanya yang sering berubah dalam sehari.
"Aku tadi membawa Rin kemari, tapi kenapa dia malah menghilang? Aku berencana mengenalkannya pada kak Nami dan saudara Shiro yang lain. Tapi, kemana mereka berdua pergi?" Kata Aquila dengan kebingungan.
"jangan-jangan.... Gawat... Bisa hancur hutan ini bila mereka saling bertarung..." Kata Aquila dengan panik, dan segera keluar dari rumah es itu bersama Leave yang juga penasaran dengan apa yang terjadi diluar sana.
Dan benar yang Aquila khawatirkan, mereka berdua tengah bertarung dengan sengit dan tidak memperhatikan sekitarnya yang sudah hancur tidak berbentuk dan lubang-lubang yang menganga siap untuk menelan mahluk hidup yang akan melewatinya.
"N-nona... Mereka benar-benar bertarung... Apa yang harus kita lakukan..?" Tanya Leave dengan sedih, sebab hutan adalah salah satu bagian dari diri Leave.
"Aku tidak menyangka kalau akan terjadi seperti ini. Kak Leave, maafkan Rin dan kak Nami, aku akan memperbaikinya nanti." Kata Aquila dengan merasa bersalah.
"Jangan pikirkan itu nona, tapi bagai mana cara agar mereka berdua tidak bertarung dan kehancuran hutan tidak semakin meluas." Kata Leave dengan memohon.
__ADS_1
"Baiklah kak, kak Leave tetaplah disini, aku akan mengurus mereka yang sudah terlanjur bertarung." Kata Aquila, kemudian langsung menghilang dari hadapan Leave dan tiba-tiba berdiri diatas pertempuran Minami dan Rin yang masih memanas.
"B-E-R-H-E-N-T-I........!!!!!!" Teriak Aquila dengan mengunakan sedikit mananya dan juga mengunakan sihir gravitasi element tanah yang sudah dia kuasai. Dan dalam sekejap, Minami dan Rin berhenti tidak dapat bergerak sekedar hanya jarinya saja.
"Begini lebih baik.." Ucap Aquila yang mulai perlahan-lahan turun dan melepaskan sihirnya yang mengekang mereka berdua.
"Nona, biarkan aku membunuh manusia kurang ajar itu, dia telah berani menghinamu dengan mengatakan kalau aku adalah anjing peliharaan mu." Kata Minami dengan penuh kebencian.
"Rin...???" Ucap Aquila dengan menatap tajam Rin yang masih terkejut dengan apa yang barusan di katakan oleh lawannya itu.
"Aku tidak tau kalau dia adalah kakakmu, sebab dia tiba-tiba menyerang ku dengan brutal." Kata Rin dengan membela dirinya.
"Berkah kak Nami?" Tanya Aquila pada Minami yang sudah terlihat tenang.
"Itu benar nona, aku kira dia adalah orang yang ingin mencelakai nona, jadi aku menyerangnya, tapi aku tidak terima bila aku disamakan dengan manusia penjilat yang menginginkan pangkat." Ucap Minami dengan mengakui perbuatannya dan juga membela dirinya.
"Baiklah, Rin, kau tau harus berbuat apa kan? Dan kak Nami, tolong mintalah maaf pada Rin." Kata Aquila dengan penuh pengertian.
"Baiklah, ini juga salahku yang berkata kasar. Maafkan aku nona Nami karena telah menghinamu tadi." Kata Rin dengan menundukkan tubuhnya untuk meminta maaf pada Minami.
"Maafkan aku juga nona Rin atas serangan yang aku lakukan barusan." Kata Minami dengan meminta maaf secara tulus.
"Nah, kalau begitu bukankah sangat bagus bila kita saling memaafkan?" Ucap Aquila dengan tersenyum lembut dan merangkul kakaknya dan sahabatnya itu.
"Lalu, bagaimana dengan hutan ini nona, aku tidak mau hutan ini hancur begitu saja." Kata Leave dengan sedih.
__ADS_1
"Tenanglah kak, aku akan memperbaikinya setalah badai ini mereda." Ucap Aquila dengan senyum meyakinkan.