Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 133


__ADS_3

Kejadian yang tidak terduga itu membuat suasana dalam rumah es itu menjadi canggung, Rin yang masih merasa bersalah kepada Minami yang ternyata adalah kakak angkat dari sahabatnya sendiri. Dia juga tidak bermaksud untuk menghina, sebab dia juga tidak tau sebenarnya karena dia baru saja datang ditempat yang tidak dia kenal.


Rin hanya menaruh rasa curiga dan waspada pada setiap orang yang dia temui, termasuk juga Minami yang hanya menjalankan tugasnya sebagai pelindung Aquila. Dan Leave terus saja merenung dengan wajah yang sedih.


"Eghem... Rin, Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Aquila mencoba mencairkan suasana yang canggung itu.


"Aku baik-baik saja Dita, aku hanya merasa tidak enak karena telah menghina kakakmu." Jawab Rin dengan nada yang bersalah.


"Aku tidak apa-apa nona, aku juga salah karena telah menyerangmu terlebih dahulu." Ucap Minami dengan menggelengkan kepalanya.


"Oh iya, dimana anjing kecilmu itu, aku tidak melihatnya?" Tanya Aquila kepada Rin prihal serigala es yang selalu menemani sahabatnya itu.


"Coco ada didalam istana kekaisaran. Coco menolak untuk ikut pergi denganku karena Coco tidak merasa nyaman di dunia ini. Jadi aku membiarkannya didalam kamarku yang aku pasang aray pelindung, sebab aku juga tidak percaya dengan manusia diistana kekaisaran itu." Jawab Rin dengan sedih.


"Jadi serigala itu ikut. Nona, aku ingin bertemu dengannya, aku merindukannya." Ucap Leave dengan berbinar bahagia.


"Siapa dia Dita?" Tanya Rin kepada aquila.


"Dia adalah hewan penjaga ku rin, dan namanya adalah Leave dan juga dia adalah kakakku." Kata Aquila dengan memperkenalkan Leave kepada Rin.


"Salam, nona Rin, sudah lama kita tidak bertemu." Ucap Leave dengan tulus.


"Salam juga kak Leave, benarkah?" Kata Rin dengan terkejut.


"Tentu saja, saya dulu sering mengobrol dengan serigala itu, bagaimana kabarnya?" Tanya Leave.


"Coco baik-baik saja kak." Jawab Rin dengan tersenyum.


"Syukurlah. Aku turut senang mendengarnya." Kata Leave ikut tersenyum.


"Nona Rin? Apa nona adalah saint yang dipanggil oleh kekaisaran samudra?" Tanya Minami penasaran.


"Saint? Bahkan aku pun enggan untuk dipanggil dengan nama itu." Jawab Rin dengan nada yang tidak suka.


"Bukankah itu bagus, kamu bisa memerintah pasukan kekaisaran itu dengan mudah." Kata Aquila dengan mengangkat salah satu alisnya.

__ADS_1


"Tidak sama sekali. Aku ingin seperti mu tidak ada yang mengatur atau membatasi kebebasan ku." Kata Rin dengan wajah masam.


"Apa mereka memperlakukanmu dengan buruk Rin?" Tanya Aquila kembali.


"Tidak, aku hanya tidak suka sikap bulus mereka yang selalu ramah di hadapanmu dan kemudian mencibir dibelakang ku." Jawab Rin dengan mengepalkan tangannya.


"Biarkan saja, mereka akan lelah sendiri membicarakan mu." Kata Aquila dengan memakan buah yang dia simpan didalam kalung dimensinya.


"Berikan aku satu, aku sudah lapar." Kata Rin dengan menyodorkan tangannya.


"Memangnya kamu tidak diberi perbekalan?" Tanya Aquila dengan heran.


"Hehe. Aku sudah menghabiskannya kemarin. Mereka memberikan ku perbekalannya sangat sedikit sekali." Jawab Rin dengan menampilkan giginya yang rapih.


"Sudah ku duga. Ini ambilah." Kata Aquila sambil melepaskan sebutir apel pada Rin.


"Terimakasih Dita." Kata Rin setelah berhasil menangkap apel yang dilemparkan oleh Aquila dan menggigitnya dengan cukup besar.


Setelah menghabiskan apel yang diberikan oleh Aquila, Rin melihat sekelilingnya dan mencari keberadaan kucing putih yang dulu dia temui. "Dimana Shiro berada, aku tidak melihatnya?" Tanya Rin.


"Tidur panjang, seperti hibernasi saja. Dia kan kucing bukan beruang." Tanya Rin dengan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aquila sebelumnya.


"Awalnya aku juga tidak percaya, namun setelah melalui waktu yang panjang bersama mereka aku sudah terbiasa." Kata Aquila.


"Oh iya, dimana tempat pilar itu dikurung?" Tanya Rin ketika dia mengingat tujuannya kemari.


"Dia ada dibawah bangunan ini, aku tidak tau dimana pintu masuk menuju bawah sana." Jawab Aquila dengan tersenyum canggung.


"Oh, jadi begitu, tenang saja. Aku juga diberikan sebuah petunjuk untuk memasuki pintu rahasia itu. Jadi kita bisa memasuki tempat itu tanpa ada kendala." Kata Rin dengan yakin.


"Baguslah kalau begitu. Dengan begitu nanti sore kita bisa memasuki tempat itu, dan juga Shiro dan yang lainnya sudah terbangun." Kata Aquila dengan tenang.


"Aku jadi penasaran, kenapa kak Leave bisa berubah menjadi manusia sedangkan Coco belum bisa, apa kau tau Dita?" Tanya Rin raut wajah serius.


"Aku juga tidak tau, saat kak Aquila berubah menjadi manusia pun aku sangat terkejut, dan juga mereka bisa berubah menjadi manusia." kata Aquila dengan semangat.

__ADS_1


"Benarkah, apa adik-adikmu itu imut Dita?"


"Tentu saja. Mereka sangat imut dan manis. Jika kamu ingin menanyakan cara Coco berubah menjadi manusia tanyakan saja pada Shiro, dialah yang membuat kak Leave berubah." Ucap Aquila memberikan saran pada Rin yang sudah sangat antusias itu.


"Dimana kak Nami dan kak Leave, aku tidak melihatnya." Kata Rin dengan memperhatikan sekelilingnya.


"Mungkin kak Leave dan kak Nami masih keluar untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan. Mereka selalu melakukannya selama itu masih dihutan." Kata Aquila yang terlihat sudah biasa ditinggalkan oleh kedua kakaknya itu.


"Kak Dita... siap dia?" Tanya Soleil sambil menatap Rin penasaran.


"Ah, Soleil, kamu sudah bangun. Bagaimana tidurmu?" Tanya Aquila pada Soleil yang merangkak untuk lebih dekat dengan Aquila.


"Tidur Leil sangat nyenyak kak, lalu siapa manusia itu?" Tanya Soleil kembali.


"Dia adalah sahabat kakak di dunia dulu, Soleil perkenalkan namanya Rin, dan Rin ini adalah Soleil." Ucap Aquila memperkenalkan.


"Senang bertemu denganmu adik kecil" Kata Rin sambil mengelus kepala kura-kura Soleil.


"Jangan sentuh Saudaraku....!!!" Teriak Vent Leger dengan menerkam tangan Rin.


"Auuu.... Dita, anak anjingmu sangat nakal ya.." Ucap Rin dengan melepaskan gigitan Vent Leger di tangannya.


"Maafkan Eger Rin, dia sangat membenci manusia, apa lagi dengan orang yang tidak dia kenal." Kata Aquila yang merasa bersalah dengan tingkah Vent Leger yang sangat tidak suka dengan kehadiran orang yang tidak dia kenal.


"Tenanglah, ini hanya luka kecil, nanti bisa sembuh dengan sendirinya." Kata Rin dengan santai, seolah itu bukanlah hal yang sulit.


"Dia sangat mirip dengan Coco, hanya warnanya saja yang berbeda." Ucap Rin dengan mengelus kepala Vent Leger dengan gemas.


"Jangan sentuh aku!!!" Teriak Vent Leger galak.


"Wah, namun sifatnya sangat berbeda." Ucap Rin dengan tertawa kecil.


"Apa yang kamu tertawaan, tidak ada yang lucu."


"Eger, tenanglah, dia sahabatku, dia tidak akan melukaimu." Kata Aquila menenagkan.

__ADS_1


__ADS_2