
Semua orang yang berada dibawah Aquila merasakan ketakutan, karena biasanya para penyihir hanya bisa membuat ramuan penyembuh dan dilarang membuat racun dan bila diketahui melanggar akan dieksekusi mati pada hari yang sama.
"Pe-penyihir Hi-hitam...!" Ucap salah satu prajurit dengan tubuh bergetar dan langsung terjatuh ditempat karena ketakutan.
"Cepat, panggil para pemanah dan beritahu jendral tentang hal ini!." Teriak salah satu prajurit dengan panik, dan salah satu dari mereka langsung berlari menuju barisan paling belakang yang berisikan para jendral dan tentu saja ada raja Zuwei dengan zirah emasnya.
"Ya-yang m-mulia, gawat! Hos... ga-aawat....!!" Ucapnya dengan nafas tersengkal-sengkal, dan tentu saja dia menjadi perhatian dari orang-orang yang berada dibarisan belakang yang mayoritas para pengguna element alam.
"Ada apa? kenapa kau sangat panik?" Tanya salah satu jendral yang berdiri disampingnya raja Zuwei.
"Gawat ya-yang Mulia, ada hah.... ada penyihir hitam. Dia menggunakan racun untuk melawan kami." Lapornya dengan nafas yang tercekat dan pucat.
"Penyihir hitam? Apa kamu sedang bercanda. Bukankah mereka berada di kekaisaran Zemlya dan tidak pernah keluar dari tanpa izin dari sang kaisar." Ucap sang raja zuwei dengan terheran.
"Kalau itu memang terjadi, saya harap yang mulia mengerahkan para penyihir element, bukankah dia hanya sendiri pasti akan mudah mengalahkan nya." Saran salah satu jenderalnya.
"Benar juga, Jendral pertama kau pimpin para penyihir untuk mengalahkan penyihir hitam yang telah telah memihak kerajaan ini." Perintah sang raja dengan wajah geram.
"Hamba akan laksanakan yang mulia." Ucap jendral dengan penuh wibawa. Lalu langsung berjalan bersama para penyihir element kerajaan zuwei yang tidak lebih dari lima puluh orang ditingkat sakral.
Dan setiba tempat yang dituju, tempat itu sudah penuh dengan tulang belulang berpakaian zirah yang berlumur darah dan dan terdapat seorang perempuan yang tengah duduk ditumpukan kerangka manusia.
"Jadi dia adalah penyihir hina itu. Tidak aku sangka kalau aku akan menghabisi penyihir gelap pengguna racun. Cih.." Kata sang jendral pertama sambil meludah.
__ADS_1
"Apa yang akan kita lakukan padanya jendral?" Tanya salah satu penyihir berelement tanah.
"Tentu saja bunuh dia dan serahkan kepalanya kepada yang mulia raja." Ucapnya penuh ambisi.
"Akan kami laksanakan tuan." Ucap penyihir element tanah. Dan mereka mulai membentuk formasi penyerangan.
"Heh? Bermain keroyokan. Siapa takut." Tantang Aquila yang masih duduk ditumpukkan kerangka manusia, dan dalam sekejap panah api berjumlah banyak langsung menyerang Aquila dan membakar tumpukan tulang manusia.
"Apa segitu saja kemapuan kalian?" Tanya Aquila yang mengejek para penyihir itu yang berada dibalik kepulan asap pembakaran.
Para penyihir api yang sebelumnya menyerang Aquila merasa sangat terkejut karena mereka kira sudah mengalahkan Aquila ternyata dapat dihindari.
"Apa dia iblis, kenapa dia tidak terluka dengan serangan api yang sangat begitu banyak!" Tanya para penyihir yang lain dengan menetap penuh kegerian kepada Aquila.
"Kalian terkejut? Baiklah akan aku kembalikan api kalian dengan senang hati." Ucap Aquila dengan tersenyum cerah dengan kepulan asap dibelakang tubuhnya dan seakan itu adalah bagian dari tubuhnya.
"D-di-dia bisa menggunakan element api, bu-bukankah dia hanya bisa menggunakan racun saja?!" Tanya salah satu pengguna element api dengan menatap Aquila dengan gemetar.
"Apa prajurit itu telah menipu kita? bagai mana ini jendeal?" Tanya penyihir yang berdekatan dengan jendral pertama.
"Cepat bentuk perlindungan dengan element tanah!" Perintah sang jendral, dan langsung para pengguna element tanah maju dibarisan depan dan membuat sebuah benteng terbuat dari tanah dan batu.
"Apa kalian ingin bersembunyi dari ku? Bukankah kalian datang kemari untuk menghampiri ku? Ha ha sangat lucu sekali." Ucap Aquila dengan nada mengejek, kemudian Aquila melemparkan sebuah bola api biru ke benteng buatan.
__ADS_1
BUUMMM.....
Benteng itu langsung hancur sebagian dan melukai hampir seluruh pengguna element tanah. Dan sebagian kecil terluka parah karena tidak mampu menahan sebuah serangan.
"Apa kalian masih ingin bermain petak umpet seperti itu, namun sayangnya aku tidak memiliki waktu yang banyak, jadi maafkan aku...?" Tangan Aquila terulur dan sebuah api biru yang ada dibelakang Aquila langsung melesat dengan cepat membakar para penyihir element yang tingkatnya sangat jauh dari Aquila dan seorang jendral sebagi pimpinan mereka.
Panasnya api biru itu membuat mereka menjadi abu, dan Aquila tersenyum puas dan berjalan dengan santai kearah rombongan prajurit yang sangat jauh dari lokasi pembantaian yang dilakukannya.
Sedangkan Minami dan Leave berusaha mengamankan anak-anak yang tersisa saat Minami menyelamatkan mereka. Minami tidak sempat untuk menyelamatkan mereka semua dalam sekali gerak, alhasil dia meniggalkan mereka dan kemudian datang kembali bersama dengan Leave untuk menyembunyikan anak-anak dari pembantai para prajurit yang sudah membunuh orang-orang yang berada diluar ruangan, dan tak segan-segan langsung mendobrak pintu geser dan membunuh penghuninya.
Dan dirasa telah menyelesaikan penyelamatannya terhadap anak-anak negeri Tayounokuni, Minami dan Leave langsung membunuh para prajurit yang berada didepannya. Lokasi Minami dan Leave sangat bersebrangan, karena penyerangan itu terdiri dari dua arah agar tidak ada yang melarikan diri dari sana.
Kini Aquila telah sampai dimana pasukan inti dari kerajaan Zuwei, dan Aquila langsung disambut dengan hujanan anak panah yang sangat banyak dan memungkinya untuk selamat mendekati nol persen.
Tapi bagi Aquila itu bukan lah ancaman, api biru yang berada dibelakangnya langsung melahap habis panah itu dan tidak menyisakan sebiji anak panah. Tentu saja para pemanah dan prajurit yang lain merasa sangat terancam dengan kehadiran Aquila.
"Ara, ternyata kalian langsung menyambutku, aku sangat tersentuh dengan sambutan kalian yang sangat istimewa ini." Kata Aquila dengan tersenyum manis setelah padamnya api biru miliknya.
"Bukankah kamu adalah dermawan dari bangsawan Sehetpra, kenapa kamu berada disini?" Tanya sang raja dengan penuh selidik.
"Oh.... Jadi kamu mengenal diri ku." Ucap Aquila berpura-pura terkejut.
"Tentu saja, apa kau adalah mata-mata yang ditempatkan oleh kerajaan Tayounokuni untuk mengambil budak hewanku?" Ucap sang raja dengan menatap Aquila penuh kebencian.
__ADS_1
"Apa maksudmu Helios, tapi sayangnya dia bukanlah hewan budakmu, tetapi salah satu adikku. Jadi, dengan senang hati aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku." Kata Aquila menaggapi sang raja dengan santai dan acuh.
"Kau.... Tangkap dia dan penggal kepalanya...!" Perintah raja Zuwei dengan amarah yang meluap.