
Matahari sudah sampai dimana ia akan tertidur, awan kelabu dengan semburat merah dan jingga menambah suasana yang suram dihutan yang sudah penuh dengan bau darah yang menyengat. Asap membumbung tinggi mencapai cakrawala dengan bau daging yang dibakar membuat para penghuni kerjaan Tayounokuni meringkuk ketakutan dengan tubuh bergetar.
Kepulan asap hitam dan nyala api terlihat dari kejauhan dengan bantuan sinar suram dari sang matahari, tanah tidak lagi berwarna hitam tetapi merah darah dengan bau anyir yang pekat membentuk sungai darah. Mayat manusia tergeletak tidak beraturan menciptakan harmoni neraka di dunia yang fana.
Enam sosok pria dewasa dengan balutan zirah perak dan emas dengan senjata yang sangat tajam digenggam erat ditangan mereka yang sudah gemetar karena pertempuran yang belum usai. Sedangkan yang mereka lawan masih tetap bugar meski jubahnya sudah terkoyak penuh sayatan pedang.
Matanya yang berbeda netra menatap tajam seperti tatapan sang elang yang mengintai mangasa dari cakrawala yang luas, tidak dapat bersembunyi dari pengawasannya. Rambutnya yang hitam pekat menyatu dengan malam namun gemerincing lonceng emas memberitahukan keberadaanya.
"I-iblis, kenapa kau tidak mati saja. Keberadaan mu di dunia ini hanyalah kotoran yang merusak pemandangan!" Hina seorang yang berada didepan Aquila yang tidak lain sang jendral kedua Zuwei.
"Aku belum puas bermain dengan nyawa kalian, aku hanya membalaskan dendam para manusia yang kau bunuh dan kau jadikan budak secara paksa. Bukankah sangat menyenangkan jendral?" Tanya Aquila dengan senyum sinis nada penuh hinaan.
"Jadi, siapa yang ingin merasakan mati dahulu? Atau bermain denganku? Ha ha ha..!!" Tanya Aquila dengan tawa yang tidak seperti biasanya, bahkan lebih mengerikan.
Mereka yang mendengar pertanyaan dan tawa Aquila mengidik ketakutan, sebab kali ini mereka salah menilai lawan bahkan meremehkan. Mereka juga serasa menyesali perbuatan buruk, membunuh, memperkosa, menjarah dan masih banyak yang lainnya. Namun semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki.
CRAS...
Sebuah kepala melayang dihadapan mereka dengan benang darah yang menggantung diudara, dan kemudian jatuh tepat didepan salah satu jendral yang melamun.
"Ahhhh...... kau iblis! Kau berani menyerang tanpa peringatan, aku akan membunuhmu untuk membalaskan dendam saudaraku!" Teriaknya tidak percaya karena yang baru saja dibunuh oleh Aquila adalah jendral ke tujuh.
"Heh, ini Medan perang, kau pikir ini rumahmu, sepertinya kau ingin bermain denganku jendral." Sindir Aquila yang biasa saja setelah memenggal jendral ketujuh tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Diam kau!" Ucapnya, lalu langsung berlari kearah Aquila dengan pedang berselimut cahaya merah membara.
"Lambat." Kata Aquila setelah jendral ketujuh sampai tepat dihadapannya, dan Uchikatana yang ada ditangannya langsung menembus zirah milik jendral ketujuh dan mengenai tepat di jantungnya.
"S-sialan, se-seharusnya kau t-tidak bisa me-menghindari serangan p-pamungkas ku, ke-kenapa ini bisa t-terjadi?" Ucapnya dengan suara yang terbata penuh ketidak percayaan.
"Kau tau, aku adalah iblis yang baru saja kau ucapkan dan aku mewujudkannya untukmu jendral." Bisik Aquila ditelinga sang jendral.
Setelah itu Aquila mencabut uchikatananya yang berlumuran darah, dan bersamaan juga dengan kematian yang menjemput orang yang tertusuk oleh pedang Aquila.
"Jendral.. Terkutuk lah kau iblis!!! Mati, dan kembalilah keneraka untuk perbuatanmu!!!" Ucap jendral kedua sambil menyerang Aquila dengan element besi miliknya yang berbentuk panjang dan runcing disalah satu ujungnya.
"Kali ini yang keempat, nyawa akan melayang." Ucap Aquila dengan senyum sinis dan memegang pedangnya dengan erat, setelah jarum besi sampai dihadapan Aquila langsung menebas semua jarum besi selain lambaian pedangnya.
Jendral kedua merasa sangat terpukul Karena serangannya tidak tidak bisa menyentuk Aquila meski hanya sebiji. Merasa putus asa, dia menyerang Aquila dengan tangan kosong dengan kekuatan penuhnya. Aquila hanya tersenyum meremehkan dengan serangan acak penuh kekuatan itu, setelah dirasa orang yang menyerangnya sudah kehabisan kekuatan.
Aquila langsung memukul zirah perak itu dengan tangan kosong dan bunyi pecahnya zirah itu sangatlah keras membuat ketiga jendral yang menonton pertarungan itu tidak percaya dengan kekuatan fisik dari seorang gadis yang terlihat sangat lemah itu.
"B-bagaima k-kau bisa menghancurkan z-zirahku?!"
"Mudah saja. Zirah yang kau gunakan sama dengan hatimu yang rapuh jendral." Setelah mengatakan hal itu, Aquila mencekik leher sang jendral kedua hingga terangkat dari tanah dan kakinya pun tergantung dan meronta-ronta untuk dilepaskan.
KRAK....
__ADS_1
Suara patah tulang terdengar samar, namun masih dapat didengar dan bersamaan juga dengan kaki sang jendral kedua tidak bergerak. "Satu nyawa melayang, tiga nyawa akan datang." Ucap Aquila setelah melemparkan tubuh yang tidak bernyawa itu.
"T-tolong m-maafkan a-aku, t-tolong b-biarkan aku p-pergi. A-aku be-berjanji ti-tidak a-akan me-melakukannya kembali." Pinta jendral kelima sambil melepaskan pedang yang ada di genggamannya.
"Bodoh! Apa yang kamu lakukan, buat apa kita menyerah pada iblis sepertinya...!" Ucap jendral ketiga dengan tidak suka.
"Buat apa kau menyerah, lebih baik mati untuk kerajaan dari pada hidup sebagai pengecut yang tidak berguna." Kata jenderal keenam dengan tegas.
"Wah, aku sangat tersentuh dengan apa yang kamu katakan jendral. Jadi, apa yang bisa aku perbuat untuk mu?" Ucap Aquila disela-sela perdebatan ketiga jendral yang tersisa itu.
"Diam kau iblis, itu tidak ada hubungannya dengamu!" Kata jendral ketiga dengan sengit.
Trang...
"He he, rencana yang sangat licik, musuh lengah kau menyerang. Bukankah itu lebih buruk dari apa yang aku lakukan?" Sindir Aquila yang memegang pedang yang sangat tajam dengan tangan kosong.
"Tapi sayangnya serangan diam-diam mu tidak berguna untuk ku jendral." Tambah Aquila sambil meremas pedang itu hingga terbelah menjadi dua bagian. Tentu saja sang jendral ketiga tidak menyangka kalau orang yang ia hadapi seorang memiliki element besi.
"Ke-kenapa bisa? Bu-bukankah kau h-hanya penyihir h-hitam?" Tanya nya tidak percaya.
"Aku akan memberi tahumu jendral, aku bukanlah orang yang kau katakan. Aku hanyalah iblis yang terbentuk karena ucapan mu." Jawab Aquila dengan senyum yang dingin dan kemudian langsung memelintir leher jendral ketiga hingga terdengar tulang yang patah.
"Dua nyawa yang tersisa, apa yang harus ku lakukan, bebaskan atau bantai?" Tanya Aquila pada diri sendiri namun masih dapat didengar oleh mereka berdua.
__ADS_1
"N-nona tolong lepaskan aku, a-aku masih memiliki seorang bayi yang memerlukan kasih sayangku, is-idtriku telah meninggal bersama terlahirnya anakku." Iba sang jendral kelima dengan berderai air mata.