Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 118


__ADS_3

Hayalan selalu menjadi impian dalam lamunan dalam diam. Alunan lagu angin musim dingin membawa hawa tidur bagi mahluk hidup yang ber hibernasi tidur dalam kenyamanan.


Minami berjalan dalam ramainya hiruk pikuk aktifitas manusia di kerajaan Zemlya yang berteriak menjajakan dagangan mereka yang masih memupuk di kios mereka. Tidak ada tawa anak-anak yang terdengar hanyalah tangis bayi yang tidak diketahui asalnya.


Tawa burung gagak bersama tangis para bayi menjadi hal yang sangat biasa bagi rakyat Zemlya yang senantiasa dihantui dengan suara yang tidak biasa bagi pendatang baru. Begitu juga dengan Aquila yang selalu terduduk ditepi jendela dengan ditemani buku yang diberikan oleh Vent Leger dan Helios yang belum sempat Aquila baca dan ditemani tawa gagak yang tidak diketahui asalnya.


"Kakak, bolehkah Leil di sini?." Tanya seorang anak kecil dengan Surai coklat muda dengan netra mata berwarna madu.


"Masuklah." Jawab Aquila sambil membaca buku yang ada di tangannya.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Aquila setelah melihat tangan Soleil yang gemetar.


"Tidak kak, Leil hanya merasa tidak nyaman karena suara gagak yang jelek itu." Jelas Soleil mengucapkan apa yang tidak membuatnya tidak nyaman sendirian.


"Lalu, dimana Rugiel dan Adrian, bukankah mereka berdua selalu bersamamu?" Tanya Aquila kembali.


"Leil tidak tau, saat Leil bangun Giel dan Adrian sudah menghilang. Maka dari itu, Leil kemari." Jawab Soleil yang sudah tiduran di kasur milik Aquila.


"Oh, kalau begitu, maka tidurlah disini. Aku akan menemani mu." Kata Aquila yang masih terduduk didepan jendela dengan tumpukan buku yang sudah usang termakan waktu.


"Terimakasih kak Dita." Ucap Soleil, kemudian mulai tertidur kembali.


"Tidak perlu dipikirkan. Tidur lah." Kata Aquila sambil melirik anak remaja yang sudah terlelap.


"Cepat sekali tertidur. Apa cuma dia saja yang suka tertidur. Mirip sekali dengan dongeng putri tidur." Gumam Aquila lalu melanjutkan membaca buku yang sempat terhenti.


Sekian waktu terlah berlalu, keadaan sekitar masih tetap sama seperti sebelumnya, cahaya ungu suram masih menyinari kekaisaran Zemlya diiringi dengan kicauan burung gagak yang tidak tau kapan akan berhenti bersuara. Serta tangisan bayi yang selalu menghiasi menjadi iringan lagu ratapan kesedihan dari seorang anak yang di tinggalkan oleh sang bunda.

__ADS_1


"Kak Aquila, aku masuk." Teriak seseorang dari balik pintu kamar Aquila yang senantiasa ditutup, dan orang yang meminta izin itu tidak lain adalah Shiro


"Masuklah." Sahut Aquila.


"Kak, apa kak Aquila tidak merasakan hal yang aneh akhi-akhir ini?" Tanya Shiro langsung tanpa berbasa-basi seperti biasa.


"Tentu saja. Apa ada orang di kekaisaran ini melakukan ritual pengorbanan bayi untuk memperpanjang umur mereka?" Tanya Aquila seakan tidak perduli.


"Ya, tapi aku belum mengetahui nya kak. Para saudaraku yang lain sedang mencari keberadaan manusia keji itu." Kata Shiro geram.


"Tidak perlu terbutu-buru. Saat festival nanti dia akan menunjukan batang hidungnya." Kata Aquila yang seakan mengetahui peristiwa di masa yang akan datang.


"Apa benar, bukankah kita akan membebaskan tubuh utama Adrian kak?" Tanya Shiro yang mengingat rencana awal mereka yang akan membebaskan tubuh utama Adrian yang terkurung di istana kekaisaran Zemlya.


"Tidak perlu, nanti kita akan membebaskan tubuh utama Adrian." Kata Aquila dengan menutup buku yang dia baca dengan keras hingga membuat suara yang seakan menegaskan ucapannya.


"Baiklah, aku akan memberitahukan kepada mereka yang sedang berdiskusi di ruang utama." Kata Shiro sambil berjalan keluar dari kamar Aquila.


"Tidak ada, kamu tidurlah di sini. Aku akan mengurus suatu hal yang penting. Bila kak Nami dan kak Leave bertanya tentang keberadaan ku katakan saja pada mereka kalau aku pergi sebentar." Jawab aquila sebelum meninggalkan ruangan yang itu.


"Em... Leil akan menyampaikan pesan kak Dita." Kata Soleil dengan patuh.


"Kalau begitu, aku pergi." Kata Aquila sambil tersenyum menyakinkan sebelum menutup pintu.


Aquila berjalan meninggalkan kamar yang dia tempati dan menuju tempat para pilar berkumpul diruang tamu yang sedang membahas hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia yang berada di naungan para pilar yang tinggal di wilayah kekuasaan Adrian.


Mereka berlima terlihat serius membahas yang terjadi pada saat mereka datang di kekaisaran Zemlya yang sudah mengusik para ibu yang mempunyai bayi. Tidak perduli perempuan atau laki-laki, mereka kan di ambil secara paksa dan bahkan tidak segan untuk membunuh orang tua sang bayi.

__ADS_1


"Jadi, Eger apa kamu tau keberadaan dari pelau utama dari semua kekacauan ini?" Tanya Helios.


"Auranya sangat samar, aku tidak dapat mendeteksinya sama sekali." Jawab Vent Leger dengan menggelengkan kepala tanda dia tidak menemukan pelaku dari penculikan para bayi yang tidak berdosa.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Rugiel sambil menatap satu persatu para saudaranya yang berwajah masam.


"Kalian tidak perlu memikirkan hal itu untuk sementara ini, yang sekarang kita lakukan adalah membebaskan tubuh utama Adrian." Kata Aquila yang tiba-tiba muncul.


"Kak Aquila, sejak kapan kak Aquila ada disini?" Tanya Helios terkejut.


"Sejak kalian membahas menghilangnya para bayi." Jawab Aquila sekenannya.


"Tapi kak, istana kekaisaran ini dijaga dengan ketat. Bahkan terdapat jebakan di setiap sudut dimana tubuh utama Adrian di kurung." Kata Vent Leger.


"Hem, bukankah itu akan menyenagkan?" Kata Aquila dengan senyum mengembang. Akan tetapi tidak dengan wajah Vent Leger yang tidak menyangka kalau orang yang dianggap sebagai kakak oleh mereka sangat menyukai hal yang berbahaya.


"Kak Aquila, apa kita langsung menerobos begitu saja?" Tanya Helios memastikan.


"Tentu saja. Aku akan menjadi umpannya, sudah lama aku tidak menggerakkan otot-otot ku yang kaku ini, dan kalian membebaskan Adrian saat itu terjadi." Jawab Aquila sambil merentangkan tangannya.


"Kak, bukankah itu akan membayarkan identitas kakak, dengan penampilan kakak yang seperti ini pasti mereka akan tahu kalau kita yang melakukannya." Kata Shiro menimbang kan keamanan mereka semua.


"Tenang saja Shiro, aku tidak akan melakukan hal yang ceroboh seperti itu." kata Aquila, kemudian langsung berubah menjadi tampilan sebelumnya dengan rambut hitam legam dengan netra mata biru dan merah.


"Haa.... A-apa aku tidak salah lihat, kak Aquila adalah iblis yang dirumorkan itu?!" Tanya Vent Leger tidak percaya.


"Tentu saja ini adalah tampilan pertamaku sebelum aku berubah tingkat menjadi tingkat dewa." Kata Aquila.

__ADS_1


"T-tidak mungkin?!"


"Eger, itu benar. Inilah kakak kita semuanya, Sang Messiah yang di rumorkan iblis itu." Kata Helios dengan wajah tegas.


__ADS_2