Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 116


__ADS_3

Timbunan salju telah menebal, membentuk hamparan putih menyelimuti sekitarnya yang bernuansa gelap nan pekat. Hari tidak diketahui, entah itu siang atau malam, yang terlihat hanyalah bulan purnama ungu dengan cahaya suram.


Aquila hanya bisa terduduk terdiam di jendela mengamati sekitarnya dengan perasaan kalut tidak menentu, lambat laun semua pikirannya menghilang dengan tatapan kosong terarah pada pemandangan di luar jendela yang suram.


Rasa marah, sedih, kecewa menjadi satu dan dipancarkan dengan wajah yang datar dan dingin sesuai dengan musim yang sangat dingin yang sedang k


berlangsung. Leave hanya bisa terdiam di pintu dan enggan untuk menganggu nonanya yang sedang melamun di depan jendela yang bergaya Eropa klasik.


Tanpa disadari olah Aquila, buliran air mata mengalir membentuk anak sungai di pipinya, dan kemudian terjatuh dengan tetesan beku dalam udara yang hangat. Api yang masih menyala di perapian hanya menyisakan bara kecil yang mengepulkan asap yang terbang kecerobong yang berada tepat di atap.


"Apa yang sudah aku lakukan sudah tepat?" Tanya Aquila dengan suara rendah memancarkan hati yang terluka.


Leave yang masih diambang pintu tidak tau harus berbuat apa untuk menghibur nonanya sekaligus sebagai adiknya sendiri yang sedang berkecamuk dalam duka lara yang jarang diperlihatkan pada Shiro dan yang lainnya.


"Apa aku sudah benar kak Leave? Melakukan semua ini, maksudku aku hanya ingin menepati janjiku pada shiro meyelamatkan saudaranya saja. Tapi kenapa mereka selalu menghalangiku dan memaksaku untuk berbuat kejam." Kata Aquila kembali sambil terus menatap jendela dengan tatapan kosong namun penuh dengan duka.


"Nona, kamu sudah melakukan yang terbaik. Aku tau kalau dirimu hanya ingin menepati janji pada tuan Shiro untuk menyelamatkan saudaranya yang dikendalikan dalam kontrak perbudakan. Aku tau kalau nona sangat tertekan dengan semua ini, tapi percayalah semua ini akan segera berlalu dengan akhir bahagia tanpa pertumpahan Darah seperti di kerajaan Tayounokuni dahulu." Kata Leave dengan suara yang lembut namun menenangkan.


"Itu menjadi keinginanku kak, tapi apa kah semua itu akan berjalan dengan keinginan kita? Aku telah dicap sebagai iblis, apa kah aku pantas untuk gelar yang sangat bertentangan dengan sifat asliku?" Tanya Aquila mencurahkan kegelisahan yang selama ini dia pendam sendiri.


"Nona, tidak perduli yang mereka katakan. Yang nona anggap benar maka lakukan, jika tidak maka jangan lakukan. Nona, bersikaplah seperti biasa seperti nona berada di bumi dulu saat bersama nona Rin, hangat dan ceria." Kata Leave dengan memeluk Aquila.

__ADS_1


"Jika aku bisa kak, akan aku lakukan. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu dengan mudah, aku tau kalau aku hanyalah pengecut yang bersembunyi diwajah datar dan dingin, aku takut bila aku tidak bisa menepati janjiku dan Shiro akan kecewa denganku dan berbalik membenciku karena perbuatanku yang terlalu tidak berperasaan membantai manusia waktu itu." Kata Aquila dengan kalut.


"Kak Aquila, apa yang kamu katakan..!! Tentu saja aku tidak akan membencimu apapun yang terjadi." Kata Shiro yang tiba-tiba muncul dengan tangan terkepal erat hingga terlihat urat nadinya yang menonjol.


"S-shiro..? sejak kapan kau kembali?" Tanya Aquila sambil menghapus kasar sisa air matanya.


"Kakak, aku tau kalau keinginanku membuatmu merasa terbebani, aku minta maaf." Kata Shiro dengan nada menyesal.


"T-tidak Shiro, kau bukan beban bagiku. Percayalah." Kata Aquila dengan nada yang terbebani dengan ucapan Shiro sebelumnya.


"Aku sangat percaya dengan kak Aquila, apa pun yang kak Aquila lakukan, aku dan para saudaraku yang lain akan selalu mendukungmu." Kata Shiro dengan percaya diri.


"Misalkan suatu saat nanti aku berubah menjadi sangat kejam dan tidak perasaan memukul gendang perang apa kalian akan tetap mendukungku?" Tanya Aquila memastikan.


"Ya, aku tidak masalah tentang itu. Dan juga, kekuatan dari pengendali musim dingin dan element air itu sudah berada diatas tingkat dewa, lebih tepatnya berada ditingkat Aditama yang sangat mustahil untuk ditaklukkan." Kata Vent Leger yang tiba-tiba muncul.


"Eger, kau tau itu dari mana?" Tanya Shiro heran dengan apa yang diucapkan oleh Vent Leger sang penguasa elemnt angin.


"Jangan kau lupakan apa peranku Rino, aku adalah pengendali angin di dunia Callista. Tentu saja aku tau kondisi ketebalan mana yang ada di dunia ini dan siapa saja yang sudah mencapai tingkat tertinggi, meski mereka bersembunyi dibalik bayangan yang tidak bisa ditembus oleh cahaya. Selama mahluk itu bernafas, maka dia tidak akan bisa lepas dari pengawasanku." Kata Vent Leger dengan nada bangga.


"Kalau itu aku sudah mengatahuninya sebelum kau diciptakan Eger. Kau pikir aku tidak tau." Kata Shiro dengan nada sedikit tidak suka.

__ADS_1


"Aku kira kau akan melupakan peranku di dunia ini, jadi apa salahnya bila aku memberi tahu mu sekali lagi." Kata Vent Leger dengan santai dan tidak memperdulikan perubahan wajah Shiro yang terlihat jengkel dengan ucapan Vent Leger yang seolah mengatakannya pikun.


"Kau pikir aku melupakan peran mu Eger. Tapi jangan lupakan kalau aku juga bisa mengendalikan angin seperti mu juga." Kata Shiro dengan masam.


"Tapi tidak sebesar dengan apa yang aku miliki." Kata Vent Leger dengan santai.


"Sudah lah, kenapa kalian menjadi ribut seperti ini?" Kata Aquila melerai.


"Dia yang mulai duluan kak." Kata Shiro dengan menunjuk Vent Leger.


"Aku tidak melakukan apa pun." Kata Vent Leger dengan santai.


"Baiklah, aku harap kalian tidak akan bertengkar seperti ini. Kalian ini saudara, dan sebagai saudara kalian harus saling mendukung bukan malah seperti ini." Kata Aquila menasehati.


"Ya, aku mengerti kak." Kata Vent Leger dan Shiro bersamaan.


"Bagus, lalu apa yang kamu dapatkan setelah berkeliling Shiro? Aku harap itu hal yang baik tentang Adrian." Tanya Aquila tentang penyusuran Shiro dan Helios yang bisanya mencari informasi tentang sang pilar yang berada di kekaisaran Zemlya.


"Tentang itu, kak Aquila tenaga saja. Aku dan Lio telah menemukan tubuh utama dari Adrian. Tubuh utamanya dipenjarakan dibawah tanah istana kekaisaran Zemlya." Jelas Shiro dengan serius.


"Dan juga beberapa hari kedepan ada festival penerbangan lampion untuk menghormati dewa Khronos sebagai penguasa malam dan waktu." Tambah Shiro kembali.

__ADS_1


"Bagus, kalau kita akan bergerak saat festival itu dilaksanakan." Kata Aquila dengan senyum miring.


"Ah, kak Aquila, bisakah kak Aquila tidak tersenyum seperti itu?" Tanya Shiro dan Vent Leger merinding, sedangkan Leave hanya tersenyum kecil melihat nonanya kembali pulih sepeti biasa.


__ADS_2