Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 50


__ADS_3

Tatapan tidak sabar sudah terlihat jelas di mata Aquila, dan menatap tajam kepada Rugiel dan Shiro yang terus mendorong satu sama lain agar masuk kedalam kolam air yang dibuat oleh Aquila dengan mana nya. Kedua burung yang mengikuti Aquila bertengger di ranting yang tidak terlalu jauh dari mereka, agar tidak terkena imbas dari kemarahan nonanya.


Perdebatan masih terus berlanjut, karena keduanya sangat benci dengan air yang membuat bulu mereka lepek dan membuat tubuh mereka kedinginan. Aquila yang sudah tidak sabar langsung mengangkat Shiro dengan Rugiel dengan tangannya dan langsung memasukkannya kedalam kolam buatan yang ia ciptakan.


"Ngeooonnnggggg........!!!!!!"


"Kiiiiikkkkk.......!!!!"


Ngeongan dan pekikan terkejut langsung keluar dari mulut Shiro dan Rugiel, karena tubuh mereka tersentuh langsung dengan dinginnya air yang menyentuh kulit yang terbalut bulu halus mereka.


"Begini adil bukan, tidak ada yang mengawali atau mengakhiri." Aquila tersenyum puas.


"S-sangat d-dingin....." Kata Shiro dengan gemerutuk suara gigi yang menandakan kalau airnya sangat dingin.


"Giel s-sangat benci air hiks..." Sambil terisak, namun tanpa hujan yang menemaninya seperti biasa, setelah Rugiel mengikuti Aquila hujan sudah tidak menitik dengan tangisan Rugiel.


"Jadi itu masalahnya, pantas saja kalian saling mendorong." Kata Aquila sambil menyikati bulu Shiro yang sebelumnya sudah diberikan sabun alami yang dibuat oleh minyak bunga dengan buah dan dibuat oleh Leave yang sangat dekat dengan alam.


Setelah selesai memandikan Shiro, Aquila langsung meminta tolong Leave yang sedang mengawasi mereka semua. "Kak Leave, tolong keringkan Shiro dengan selimut itu." Ucap Aquila sambil menunjuk selimut yang ia gunakan yang tergantung di ranting karena kibasan tangan Aquila saat Shiro mengatakan kalau ia sama dengan orangutan.

__ADS_1


"Baik nona." Leave langsung mengambil selimut itu dengan bantuan ranting pohon yang langsung memanjang untuk mengantarkan selimut yang dimaksud.


Shiro yang sudah menggigil dengan kaki kecilnya yang bergetar langsung diselimuti dengan selimut yang baru diambil oleh Leave. Air yang ada ditubuh dan bulu Shiro langsung terserap dengan baik, dan membuat Shiro tidak terlalu kedinginan.


Kini giliran Rugiel untuk dimandikan, pekikan terdengar dari paruh Rugiel yang tajam. Namun Aquila dengan santainya masih terus menyikati bulu Rugiel dengan teliti. Persis seperti Shiro yang baru pertama kali dimandikan oleh Aquila penuh dengan penolakan dengan kaki yang menendang-nendang air, membuat air yang digunakan terciprat kemana-mana.


Setelah selesai memandikan Rugiel, Aquila langsung mengangkat Rugiel dari dalam air itu dan kemudian hilang tidak meninggalkan jejak, seakan tidak ada kolam air seukuran bak mandi yang digunakan.


Rugiel menggigil, namun selimut yang mengeringkan tubuh Shiro belum lepas dari tubuh Shiro. Leave tersenyum canggung ke nonanya yang terlihat menagih selimut itu. "Kak, gunakanlah selimut yang lain. Kenapa harus selimut yang aku kenakan?" Tanya Shiro dengan penuh protes.


Aquila yang tidak ingin menunggu lama, langsung mengeluarkan selimut yang lain untuk mengeringkan tubuh Rugiel yang sudah menggigil. Setelah dirasanya cukup kering, Aquila langsung mengeluarkan Rugiel dan mengeringkan langsung buku Rugiel yang lepek.


"Nona, biarkan aku merapihkan rambutmu, dan nona bisa mengeringkan tuan Rugiel dengan santai." Ucap Leave sambil mengeluarkan sisir yang terbuat dari kayu Cendana yang sangat harum.


Rambut hitam malam milik Aquila langsung tersebar namun dengan beberapa bagian yang kusut karena terkena hembusan angin malam serta beberapa kelopak bunga yang telah layu yang terpasang di rambut Aquila. Leave langsung menyisir rambut Aquila dengan hati-hati agar tidak menyakiti sang pemilik rambu.


Rugiel yang duduk dipangkuan Aquila menikmati hembusan angin hangat yang keluar dari tangan Aquila yang mengeringkan bulunya secara cepat. Shiro merasa iri dengan Rugiel yang mendapatkan jatah pengeringan pertama sedangkan dirinya yang terlebih dahulu beranjak dari air dan masih ada sisa kedinginan yang bersarang ditubuh kecilnya itu.


Shiro langsung keluar dari bungkusan selimut yang melilitnya dan langsung keluar dari dalam sarang burung dan kemudian duduk disampingnya Aquila yang tengah disisir oleh Leave dan di pangkuannya terdapat Rugiel yang sedang dikeringkan.

__ADS_1


"Kenapa Giel yang dikeringkan dulu, kan aku yang terlebih dahulu keluar dari dalam air. Dan sekarang aku kedinginan kak Aquila." Protes Shiro dari samping Aquila dengan bulunya yang acak-acakan dan lepek sedangkan Rugiel menikmati angin hangat yang keluar dari tangan Aquila.


"Siapa suruh kamu tidak mau bergantian dengan Rugiel, dan juga kamu yang pertama dimandikan dan sekarang giliran Rugeil yang jadi pertama dikeringkan." Aquila terus mengringkan Rugiel sampai kering sepenuhnya.


Setelah agak lama Shiro menunggu Rugiel dengan tatapan protes kepada Aquila dan iri terhadap Rugiel. Rugiel telah selesai dikeringkan dan langsung turun dari pangkuan Aquila, kini bulunya terlihat sangat cerah dan mengkilap serta sayapnya juga ikut kering dan warnanya terdapat sedikit kebiru-biruan diujung bulu sayapnya.


Rugiel berlompat riang dan terkadang mengepakkan sayapnya terbang di sekeliling mereka yang tegah duduk didahan pohon yang rata. Sekarang giliran Shiro yang dikeringkan, Shiro yang sudah terbiasa langsung duduk dipangkuan Aquila tanpa disuruh. Rasa hangat langsung menyentuh rambutnya yang sedari tadi lepek dan dingin.


"Sangat nyaman. Kak Aquila sedari tadi aku sangat kedinginan. Menunggu Rugiel sangat lama dan membuatku sangat kedinginan." Keluh Shiro dipangkuan Aquila.


"Seharusnya kamu bisa mengerti Shiro, itu adalah hukuman mu karena telah berani mengataiku sebagai orangutan. Lain kali, jangan mengatakan hal buruk lagi tentang kakakmu." Aquila sambil menasehati Shiro, padahal dirinya sendiri sering mengatai orang dengan buruk juga.


"Aku mengerti kak,aku berjanji tidak akan mengulangi kembali perkataan ku seperti tadi." Shiro mengucapkan janjinya.


"Shiro kenapa kamu tertidur lagi, apa hutan light elf wilayah saudaramu yang lain?" Tanya Aquila sambil menyisir bulu Shiro yang lumayan panjang.


"Hemmmm...... Seharusnya wilayah ini masih milik Giel, tapi sebagiannya lagi milik Soleil. Tapi aku tidak tau perbatasannya kak." Ucap Shiro berpikir keras.


"Soleil, apa kabar tentang dirinya ya Rino?" Tanya Rugiel yang sedari tadi telah duduk disampingnya Aquila dan ditemani kedua burung merah jingga itu.

__ADS_1


"Aku tidak tau, terakhir aku ingat. Kondisinya sama sepertimu yang menjadi budak manusia itu sebelum kalian semua melempar kan secara asal kedunia kak Aquila." Kata Shiro lalu menjilati bantalan kakinya yang masih basah.


"Lupakan tentang itu, lebih baik kita selesaikan masalah hutan Roa. Setelah itu, kita bisa mencari dan menyelamatkan saudara kalian yang lain." Kata Aquila menengahi pembicaraan kedua saudara itu yang terlihat menyedihkan.


__ADS_2