Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 92


__ADS_3

Matahari telah tenggelam dalam cakrawala senja yang indah, setelah senja menghilang ditelan kegelapan malam telah merenggut cahaya terakhir yang merah membara seperti darah.


Malam belumlah terlalu larut, namun jalan utama begitu sepi seperti kota mati. Bahkan lentera api pun tidak ada yang hidup meski hanya sebiji. Benar-benar kehampaan yang sangat pekat hingga para mahluk hidup pun enggan untuk keluar dari sarang mereka.


Suasana yang sepi membuat para penjaga, pengawal merasakan rasa kantuk yang mengayun di kelopak mata dengan sangat berat. Alhasil mereka langsung terjatuh dan tertidur ditempat mereka berdiri.


Sebuah bayangan melesat seperti anak panah yang baru saja diluncurkan dari busurnya. Sangat cepat sehingga tidak diketahui apa yang baru saja melewati mereka yang masih setengah sadar.


Sebuah bayangan melewati lorong yang gelap dengan sangat cepat, dan tibalah disebuah pintu yang terdapat rune penyegelan. Namun bayangan itu dengan mudah menerobos penghalang itu tanpa membuang mana untuk memecahkan rune yang terpasang.


Didalam ruangan yang sangat gelap, melebihi gelapnya malam tanpa bintang. Sangat mencekam dengan bau anyir yang langsung menusuk hidung mereka. "Apa ruangan ini ruang penyiksaan?" Ucap sebuah suara yang merdu seperti angin musim semi yang tidak lain adalah suara Aquila.


"Aku tidak tau kak, terakhir kali aku dan Giel berada disini tidak ada yang terluka." Ucap Shiro yang berada dalam dekapan Aquila.


"Baiklah." Kata Aquila, lalu ia menjentikkan jarinya dan sebuah cahaya putih langsung menerangi ruang yang sangat gelap itu.


Setelah cahaya menerangi ruang gelap itu, ruangan yang sangat berantakan dengan batu besar dan kecil berserakan diberbagai tempat dan lubang di marmer coklat. Bercak darah menyebar dimana mana serta terdapat genangan darah yang sudah menghitam.


"Aku rasa disini terjadi pembataian. Lalu dimana Helios berada, bukankah di berada di ruangan ini?" Tanya Aquila dengan memandanginya seluruh ruangan itu dan hanya menemukan pahatan patung Garuda dengan noda darah di paruhnya.


"Dia masih ada disini kak. Dan dia tepat berada dihadapan kita." Kata Shiro dengan menatap tajam patung Garuda yang mencarikan aura yang membunuh.


"Gi-giel s-sangat takut kak, dia bukan Lio yang Giel kenal." Kata Rugiel dengan suara yang gemetar.


"Tenanglah, itu tidak akan terjadi. Kita harus menyelamatkannya bukan? Jadi jangan takut." Ucap Aquila menghibur Rugiel.


"Lihatlah Soleil, dia tidak takut." Kata Aquila.


"Kak Aquila, fokus! dia bangaun!" Teriak Shiro memperingati Aquila yang sedang menangkan Rugiel.

__ADS_1


Karak....!!


Suara pecahan batu terdengar nyaring, dan pecahan batu itu langsung terjatuh dengan bagian dalam berpijar merah. Shiro langsung bertransformasi ke bentuk tubuh dewasa dengan sembilan ekornya yang berbeda warna di setiap ujungnya.


Gghhhrrrr.......


Geraman rendah terdengar dari Garuda, dengan hawa membunuh dan aura panas membara menyebar didalam ruangan yang besar. Dan dalam sekejap langsung menyerang Shiro yang berdiri dihadapannya.


"B-E-R-H-N-T-I-!!!!!!" Kata Aquila dengan suara keras dengan bahasa yang sama dengan Alkitab, yaitu bahasa Indonesia.


Brakk....!


Garuda itu langsung terjatuh dan tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya yang ingin mencabik-cabik orang yang mengganggunya.


"Ternyata, buku yang aku ambil dari menara Soleil sangat berguna. Tapi sayangnya memerlukan mana yang banyak." Ucap Aquila sambil membelai Soleil yang ada dalam gendongannya.


"Kakak... Tolong selamatkan aku....!!" Suara yang samar, namun jantung Aquila merasakan sakit seperti ditusuk jarum. Dan kesadaran Aquila terasa ditarik secara paksa.


"Kak, ini aku Helios. Apa kakak tidak mengenaliku?" Ucap burung Garuda itu yang mengaku Helios dengan nada yang sedih.


"Lalu, yang ku hadapi itu bukankah helios?" Tanya Aquila dengan bingung.


"Itu memang diriku kak, tapi itu bukan bentuk asliku. Sebenarnya aku sangat sedih dengan perbuatanku yang merebut permata kehidupan milik Soleil. Tapi aku tidak bisa mengontrol tubuhku karena rune perbudakan yang terpasang ditubuhku. Kakak, tolong aku dan bebaskan aku dari tempat ini. Aku sudah tidak kuat lagi kak, Tolong aku...!!" Ratapannya dengan suara yang meminta belas kasihan dan pertolongan.


"Tentu saja, aku pasti akan membebaskan mu. Bersabarlah." Kata Aquila dengan senyum menegakan dan kemudian burung Garuda yang tidak lain adalah Helios langsung menghilang dibalik kabut yang tebal.


"Kakak!!!! Bangunlah...!!!" Teriak Rugiel yang berusaha membangunkan Aquila yang tidak sadarkan diri, sedangkan Shiro berusaha mengalihkan perhatian Helios yang sedang menggila dan tidak menyerang Aquila dan Soleil yang berada dalam perlindungan Rugiel.


"Ugh, Rugiel, Soleil. Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanya Aquila sambil berdiri dengan memegangi kepalanya yang sakit.

__ADS_1


"Ti-tidak lama hiks..., ta-tapi kakak me-membuatkku ketakutan... hiks." Ucap Rugiel dengan terisak.


"Sudah jangan menangis lagi, Rugiel lindungilah Soleil. Aku akan membantu Shiro." Ucap Aquila sambil mengelus kepala Griffin yang tidak lain adalah Rugiel.


Lalu Aquila langsung melesat kearah Garuda yang berbentuk mengerikan dengan tanduk yang menghiasi kepalanya dan cakar yang sangat tajam dan panjang. Dan Shiro sangat kewalahan dengan serang brutal dari serangan Helios.


Trang..!


"Shiro,... Kamu tidak apa?" Tanya Aquila sambil menahan serangan cakar Helios.


"A-aku haah...tidak apa kak." Jawab Shiro dengan nafas tersengal.


"Baguslah. Kamu bisa beristirahat. Biarkan aku menanganinya." Ucap Aquila sambil menatap sendu kepada Helios.


"Apa kak Aquila baik-baik saja, bukankah kakak baru saja tidak sadarkan diri?" Tanya Shiro dengan cemas.


"Aku baik-baik saja, jangan cemaskan aku. Kembalilah dan lindungi adik-adikmu." Ucap Aquila dengan tersenyum lembut.


"Tapi kakak... Baiklah." Kata Shiro mengalah dan pergi meninggalkan Aquila untuk menghadapi Helios.


"Maafkan aku, kali ini aku akan sedikit menyakitimu Helios." Kata Aquila dengan tatapan yang tajam terarah pada burung Garuda itu.


Ggghhhrrrrr......!!!


Raungan yang tajam, dan Helios langsung menyerang Aquila dengan cakar nya yang tajam. Sedangkan Aquila hanya bisa menghindar dan mencari momentum yang tepat untuk memberikan serangan balasan.


Dan juga, Aquila mencari keberadaan rune perbudakan yang bertempat ditubuh Helios yang tertutupi bulu dan batu. Sehingga membuat Aquila berpikir secara keras untuk mencari rune yang tersembunyi dan juga harus berjuang menghindar dari serangan Helios yang lebih beringas dari sebelumnya.


"Ketemu...!" Kata Aquila dengan girang, namun keberadaan rune itu sangatlah susah untuk dijangkau oleh Aquila. Rune itu bertepatan didada Helios yang.

__ADS_1


Syuuttt....


Cakar Helios hampir mengenai tubuh Aquila, namun dapat dihindari dengan luka goresan di lengan atas Aquila. "Huuhhh..., hampir saja. Baiklah. saatnya aku menuntut balas serangan mu yang telah merobek lenganku." Kata Aquila dengan serius. Dalam sekejap, Aquila menghilang dan muncul dihadapannya Helios yang tengah mencari keberadaanya.


__ADS_2