
Malam telah berlalu, dan fajar telah menyapa para mahluk hidup yang telah terbangun dari tidurnya. Pagi yang begitu tenang, dan kemudian ketengan itu menghilang dalam sekejap mata dan digantikan dengan kegaduhan istana yang sang raja telah kehilangan hewan peliharaan yang tidak lain adalah rampasan perang dari kerajaan Tayounokuni.
Dan juga, upeti kerajaan menghilang bersama sang pilar yang dibanggakan oleh sang raja. Tentu saja sang raja sangat murka dan memerintahkan para bawahannya untuk mencari sang pelaku yang telah pergi tanpa meninggalkan jejak, bahkan aura samar mana pun tidak terdeteksi.
Sungguh picik dan licik pikir sang raja, dan tentu saja pemikiran itu langsung terarah pada kerajaan Tayounokuni yang sebelumnya telah kalah dalam peperangan dan menjadi wilayah kerajaan Zuwei. Penghianatan, langsung terpatri dalam pikiran sang raja.
Tanpa basa basi lagi, sang raja langsung memangil seluruh jendral kerajaan Zuwei untuk mengumpulkan para prajuritnya agar bersiap menyerang kerjaan Tayounokuni dalam satu Minggu dari hari dimana Helios dan harta bendanya raib dalam semalam.
Kebencian, keserakahan, dan amarah langsung memenuhi kepala sang raja Zuwei yang sudah dibutakan oleh namanya dendam dan ingin menghancurkan kerajaan Tayounokuni menjadi sebuah kerajaan yang menghilang dibawah pedang miliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kumpulan awan yang bergerombol membawa uap air yang telah terkumpul menjadi satu, dan membentuk satu awan yang sangat besar dan siap menumpahkan airnya pada bumi yang gersang dilanda kemarau yang panjang.
Orang-orang langsung berkumpul membawa wadah yang bisa menampung air dalam jumlah banyak. Suka cita terpancar dari wajah yang kuyu dan penuh debu karena hujan akan membasahi bumi gersang negeri Tayounokuni yang telah kehilangan sang pilar yang menjaga keseimbangan alam.
Namun apa daya, perang yang mereka lalui kini telah sirna dan hanya meninggalkan upeti yang sangat tinggi. Bahkan untuk sekedar makan secukupnya, mereka harus berusaha keras memeras keringat yang sudah kering untuk mencari segenggam beras di sawah yang kering kerontang dan telah terpecah belah.
__ADS_1
Ironi sekali, dulu negeri yang penuh dengan kegembiraan tawa anak-anak, kini hanya meninggalkan sebuah cerita pilu yang menguras air mata anak-anak dan ratapan lapar pada sang ayah dan ibu.
Raja dari kerajaan Tayounokuni berusaha sebisa mungkin untuk membantu rakyatnya yang kelaparan. Namun apa daya yang bisa dia buat, Setok makanan mereka kini sudah menipis dan penarikan upeti akan datang dalam waktu dekat. Membuat sang raja kebingungan untuk mencari dana.
Sang raja tidak tega untuk meminta rakyatnya untuk memberikan koin tembaga yang terakhir mereka miliki. Namun bila tidak, mereka akan segera dibantai oleh para prajurit kerajaan Zuwei karena upeti tidak memenuhi yang ditentukan.
Dilema, antara menyelamatkan rakyatnya yang menderita atau merampas harta benda rakyatnya dan membuat penderitaan mereka berlipat-lipat. Putus asa, tentu saja sang raja merasakan putus asa dan ingin segera mengakhiri hidupnya, namun nyawa rakyatnya tidak mungkin dia abaikan.
Akhirnya hujan pun turun membasahi bumi yang gersang, dan membuat pepohonan yang ditinggalkan daunnya menjadi segar. Alunan lagu air yang terjatuh membuat pikiran sang raja menjadi tenang dan meninggalkan pikirannya untuk mengakhiri hidupnya.
Kepakan sayap terdengar sangat keras bersama derasnya air hujan yang membuat suara itu tersamarkan. Namun kepekaan sang raja mendengarkan kepakan sayap itu dan turun di balkon istananya yang terbuat dari kayu besi yang sangat kuat.
"Ya-yang m-mulia, be-narkah ini anda yang m-mulia?" Ucap sang raja dengan nada yang tidak percaya.
"Ya, benar ini aku. Simpan saja pertanyaan mu itu. Aku memerlukan bantuan mu untuk merawat para saudaraku dan kakakku." Ya. Dia adalah Helios yang baru saja sampai di kerajaan Tayounokuni dan memijakkan kakinya di negeri yang telah lama ia tinggalkan.
"Ba-baik, aa-akan saya lakukan ya-yang mulia Helios." Sang raja langsung melakukan senrei yaitu hormat dengan cara duduk yang biasanya dilakukan secara berdiri yang disebut ojigi dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu untuk memantulkan para pelayannya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan keadaan kakak ku nona?" Tanya Helios kepada Minami yang selalu memberikan perawatan tanpa henti sejak kepergian mereka meninggalkan kerajaan Zuwei.
"Nona saat ini baik-baik saja tuan, tapi memerlukan waktu yang cukup lama untuk memulihkan dirinya dan mana nya yang terkuras habis." Kata Minami yang menjawab pertanyaan Helios dan juga memfokuskan element cahayanya untuk memulihkan fisik Aquila yang melemah dan beberapa organ dalam yang sedikit terluka.
"Tuan, bagaimana nona Aquila bisa terluka cukup parah seperti ini?" Tanya Leave yang sangat khawatir dengan Aquila yang sudah dia anggap sebagai adiknya sejak masih di bumi.
"Aku juga tidak tau, tapi terakhir kali kakak mengeluarkan mana yang cukup banyak untuk memisahkan permata kehidupanku dan permata kehidupan Leil." Jelas Helios dengan suara yang muram.
"Hemmm, aku mengerti. Sebenarnya setelah nona menyelamatkan tuan Soleil, nona Aquila pulang dengan wajah pucat dan mana nya juga terkuras banyak. Jadi tidak heran bila nona akan terluka dan mana nya terkuras habis." Kata Minami menyimpulkan.
"Kenapa nona tidak memberitahukannya padaku. Kenapa nona Aquila menyembunyikan hal yang sangat penting dari ku?" Tanya Leave dengan suara yang kecewa.
"Nona Leave, jangan kamu berpikir seperti itu. Nona melakukan hal ini karena takut bila nona Leave akan mencemaskan nya secara berlebihan." Hibur Minami agar pikiran negatif Leave tidak mempengaruhi pemikirannya.
"Benar juga, nona selalu saja menyembunyikan masalahnya sendiri tanpa memberitahukan pada yang lain, nona tetap saja tidak berubah. Tapi, hal itu yang membuatku mencemaskan nya." Kata Leave sambil menatap wajah Aquila yang pucat.
Suara pintu geser terdengar pelan, dan seorang wanita dengan baju pelayan langsung melakukan senrei. "Yang mulia, dan nona, ruang untuk Anda beristirahat sudah dipersiapkan. Tolong ikuti saya untuk mengantarkan di ruang yang akan anda tempati." Ucap sang pelayan dengan sikap senrei.
__ADS_1
"Kalau begitu, tolong tunjukan jalanya." Kata Minami dengan hormat.
Lalu pelayan itu berdiri dari sikap senrei nya dan berjalan didepan Minami yang membawa Soleil dan Rugiel, sedangkan Leave Mambawa Aquila dipunggung nya, dan Helios membawa Shiro dalam punggungnya.