
Sarapan telah usai, peralatan makan telah dikembalikan, Shiro dan Rugiel tengah terlentang dengan perut buncit sedang kan Soleil berada dipangkuan Aquila yang nyaman.
Laba-laba Archane selalu mengikuti Minami kemanapun dia pergi, begitu juga dengan magical beast ular yang sudah menemukan tuan untuk diikutinya yaitu tuan muda Sehetpra Lufni.
"Kak Leave, kapan lelang akan dilaksanaka?" Tanya Aquila pada leave yang kini dalam wujud rusa kristal kecil.
"Aku tidak mengetahuinya nona, dan nona Minami yang selalu mengetahui apa yang terjadi didalam rumah ini." Jawab Leave.
"Oh.. Aku sudah tidak sabar untuk melihat barang yang akan dilelang."
"Ada apa nona?" Tanya Minami yang baru saja muncul karena dia mengembalikan peralatan makan yang mereka gunakan.
"Ah... kak Nami. kapan lelangnya akan dilakukan aku ingin menemui ular nakal itu yang pergi tanpa pamit?" Tanya Aquila dengan suara yang terdengar malas.
"Nona, apa benar nona ingin bertemu ular itu atau ingin menemui seseorang?" tanya Minami dengan wajah menggoda.
"Aku hanya ingin melihat saja, bukan berarti aku ingin bertemu dengannya." Kata Aquila dengan ketus, namun wajahnya yang sedikit memerah tidak dapat ditutupi.
"Nona, ucapan mu dan wajahmu sangat bertentangan. Sebenarnya nona ingin bertemu tuan muda Sehetpra kan?" Kata Minami sambil mengangkat alisnya keatas.
"Kak Nami, kenapa kamu sangat suka menggodaku, atau kak Nami yang ingin bertemu dengannya? Jangan-jangan selama ini kak Nami selalu mengikutinya dengan diam-diam, apa aku benar?" Tanya balik Aquila dengan gencar, sehingga membuat Minami tidak dapat kesempatan untuk membela dirinya dari nonanya yang baru saja dia goda.
"Ha ha ha..., sudah aku duga, kakakku sedang jatuh cinta."
"Bukan! tidak mungkin aku menyukai anak kecil sepertinya nona, umurku dan umurnya sangatlah jauh. Dia lebih cocok jadi adikku bukan sebagi kekasih." Kata Minami dengan menggebu, namun diakhir kalimatnya terdengar lirih dengan wajah yang tertunduk karena malu.
"Benarkah? Apa kak Nami yakin? Sudahlah. Kapan lelangnya dibuka, aku ingin mencari barang yang menarik perhatianku." Ucap Aquila mengalihkan percakapan, sebab wajah Minami sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Sebentar lagi nona, dan ini adalah daftar barang yang akan dilelang." Ucap Minami sambil menyerahkan selongsong kulit dengan kayu mahoni untuk menggulung kulit itu.
__ADS_1
"Hem..., Lumayan menarik. Baiklah, kita ke sana." Kata Aquila sambil menggendong ketiga adiknya yang dalam wujud binatang, sedangkan Leave dibawa oleh Minami bersama laba-laba Archane.
Aquila dan Minami langsung pergi dari dalam kamar yang mereka gunakan dan langsung menuju sebuah bangunan yang mewah yang berdekatan dengan kediaman utama bangsawan Sehetpra. Namun bentuk bangunannya lebih mewah dengan penjagaan yang lebih ketat dari sebelumnya.
Didepan pintu yang berlapis emas, Aquila dan Minami langsung disambut oleh Sehetpra Lufni dengan pakaian yang sangat pas ditubuhnya. Serta perhiasan yang dia kenakan sangatlah sederhana dari pada para bangsawan yang lain yang sedang mengobrol nya, sehingga dia terlihat sangat mencolok dengan kesederhanaanya.
"Hay Lufni, sudah lama menunggu kita?" Sapa Aquila yang berdiri tidak jauh dari para bangsawan yang sedang berkerumun, alhasil mereka langsung memandangi Aquila dengan menghina.
"Sungguh tidak sopan, dia memanggil tuan muda dengan kasar. Dan lihatlah pakaian yang dia kenakan. Sangat kampungan sekali." Kata salah satu dari bangsawan itu sambil berbisik kepada salah satu temannya.
"Kenapa para penjaga bangsawan Sehetpra, kenapa mereka malah diam saja dan tidak mengusir gadis kasar itu." Ucap salah satu dari bangsawan yang menanggapi ucapan salah satu temannya itu.
"Ah, nona Aquila, aku kira nona tidak akan kemari." Kata Lufni dengan sopan dan menghampiri Aquila dan Minami.
"Tentu saja aku kemari, kalau tidak aku tidak dapat barang yang aku inginkan. Dan juga, dimana ular kurang ajar itu?" Tanya Aquila dengan wajah yang acuh.
"Ternyata kau disini, kenapa kamu tidak bilang kepada sebelum mengikutinya?!" Ucap Aquila sambil mencubit leher ular yang baru saja muncul itu.
"AA.... nona, sssa-sakit. Tolong maafkan aku. Aku lupa untuk memberitahumu." Ucap ular itu sambil menggeliat untuk melepaskan tangan Aquila yang mencubit lehernya.
"Ya, baiklah. Kamu bisa ikut dengannya. Dan kau Lufni, jaga dia dengan baik." Ucap Aquila sambil menyerahkan ular itu kepada Lufni.
"Apa tidak apa-apa nona. aku ini sangat lemah dan tidak bisa melindunginya." Kata Lufni dengan tidak yakin untuk melindungi salah satu teman dari orang yang menyelamatkannya itu.
"Kalau begitu, kau ular nakal harus melindunginya." Kata Aquila sambil menunjuk ular kecil yang meringkuk dalam telapak tangan Lufni.
"Dengan senang hati nona, terimakasih telah mengizinkanku untuk tetap bersamanya." Ucap ular itu dengan mendesis senang.
"Kalau begitu nona, aku akan menunjukan tempat untukmu yang sudah dipersiapkan oleh kami." Ucap Lufni dengan nada yang sopan.
__ADS_1
Aquila dan Minami langsung mengikuti Lufni yang sudah berada didepan mereka. Sedangkan bisik-bisik para bangsawan terdengar seperti dengungan lebah didalam sarangnya. Namun diacuhkan oleh Aquila yang notabennya sangat tidak suka menanggapi ocehan orang yang tidak dikenalnya.
Akhirnya mereka sampai di mana tempat yang sangat nyaman serta berbagai jenis makanan ringan yang tertata rapih. Tempat yang ditempati Aquila berada dilantai atas yang memungkinkannya dapat melihat kejadian dibawahnya.
Sedangkan orang-orang yang berada dibawahnya tidak bisa melihat orang yang ada didalam ruang privat yang telah disewa itu. "Aku harap tempat ini dapat membuat nona Aquila dan nona Minami nyaman." Ucap Lufni dengan menunduk hormat.
"Cukup nyaman, dan kenapa kamu menunduk seperti itu.!" Ucap Aquila dengan terkejut.
"Kenapa? bukankah hal ini wajar saja bagi para bangsawan nona?" Tanya Lufni dengan terheran.
"Terserah kau saja, tapi jangan melakukan hal itu dihadapan ku lagi, atau aku akan menendang mu." Ucap Aquila dengan mengancam.
"Nona, jangan menyakitinya." Ucap Minami dengan wajah yang memerah.
"Baiklah. kau bisa kembali." Usir Aquila.
"Terimakasih atas waktunya nona. Bila nona Aquila dan nona Minami membutuhkan sesuatu, panggil saja para pelayan yang ada didepan pintu." Ucap Lufni, lalu pergi dari dalam ruangan itu.
"Ugh... Akhirnya aku bisa bebas..." Ucap Shiro yang langsung melompat dari dalam pelukan Aquila dan berubah menjadi remaja dan diikuti juga oleh Rugiel.
"Sangat melelahkan sekali, punggung Giel rasanya sangat sakit." Keluh Rugiel sambil menggerakkan punggungnya.
"Hemmm.... Bau apa ini.." Ucap Shiro sambil memejamkan matanya untuk memfokuskan Indra penciumannya mencari bau makanan yang masuk didalam hidungnya.
Setelah menemukan sumber bau makanan yang enak itu, Shiro langsung membuka matanya dan menatap lapar pada hidangan yang berbentuk bola dengan isian daging dengan taburan gula halus.
"Kak Aquila, bolehkah aku memakan yang ini?" Tanya Shiro dengan air liur yang menetes.
"Maakanlah." Kata Aquila yang langsung disambut bahagia Shiro dan langsung memakan cemilan itu dengan lahap diikuti juga oleh Rugiel.
__ADS_1