Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 34


__ADS_3

Minami dan Leave mengarahkan pandanganya kearah yang ditunjuk oleh Aquila. Memang banyak pasang mata terarah ke mereka dengan sorot mata yang terpantul oleh cahaya api unggun. Sehingga menimbulkan efek kunag-kunag berkelap-kelip melainkan mata yang berkedip.


"Aku tidak tau nona, aku tanya dari mana asal mereka, mereka tidak bersuara sama sekali seakan mereka bisu." Kata Minami namun Leave terlihat bersalah dengan melarang mereka untuk bersuara karena takut mengganggu Aquila.


"Masalah itu, aku memang melarang mereka. Tapi aku tidak tau kalau mereka tidak akan menjawab perkatanmu."


"Jadi itu masalahnya. Lalu, bagaimana kita tau asal mereka bila tidak bisa berbicara? Kak Leave kamu begitu suka hal yang tenang ya." Sindir Aquila.


"Maafkan saya nona, tapi aku bilang kalau nona berbicara kepada mereka maka mereka akan menjawabnya. Tapi aku tidak menyangka akan sejauh ini."


"Sudahlah kakak, tidak perlu seperti itu. Baiklah, aku akan menyapa mereka dulu." Ucap Aquila sambil berdiri namun kakinya bergetar membuatnya seakan jatuh. Dengan sigap Leave langsung menyangga tubuh Aquila dengan tubuh nya. Shiro ingin membantu, tetapi dia tidak bisa mengabaikan saudaranya yang masih terlelap.


"Shiro, kamu tidak perlu cemas. Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan Rugiel?"


"Rugiel tidak apa-apa kak, tapi dia memerlukan waktu yang lama untuk tersadar." Kata Shiro dengan sedih.


"Tenanglah. Rugiel akan sadar dalam waktu dekat." Hibur Aquila, lalu Minami membantu Aquila untuk menaiki punggung Leave.


"Kamu istirahatlah dulu, aku akan kesan sebentar." Ucap Aquila dan Leave melangkahkan kakinya secara hati-hati takut menyakiti orang yang menungganginya, sedangkan Minami memegang tangan Aquila agar tidak terjatuh sebab tubuh Aquila masih kemah.


Mereka berjalan beriringan, Aquila seperti tuan putri yang berjalan dikegelapan diiringi dengan cahaya lemah dari tunggannya, Minami seperti bayangan yang hadir dari balik cahaya.


Magical beast dan hewan buas yang dihampiri Aquila langsung bersujud. Aquila bingung dengan kelakuan mereka yang aneh. Hal ini mengikatkan pada dirinya saat bertemu dengan Lino dihutan dark elf dulu.


"Kenapa setiap orang selalu saja menundukkan kepala, padahal aku bukanlah penguasa atau panglima perang. Apa begitu buruk kelakuan mereka sehingga membuat yang lain selalu menjatuhkan kepala?" Kata Aquila tidak suka.


"Kami menyapa yang mulia Messiah." Ucapan Aquila diabaikan seolah perkataan yang diucapkan bukanlah darinya. Aura dingin menguat dari diri Aquila seakan ingin membuat badai salju dan mengubur mereka dalam es yang dingin dan membiarkan mati membeku.


Minami dan Leave gelagapan karena aura Aquila, sedangkan magical beast dan hewan buas tidak berkutik dari sujud mereka. Mereka berpikir dalam benak mereka apa yang membuat Messiah tersinggung?

__ADS_1


"Baru kali ini aku ada yang tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan sebelumnya. Seakan kalian siap mati kapan saja." Aquila tersenyum sinis namun didalam hatinya teriris.


"M-maafkan kami yang lancang ini yang mulia, yang telah berani mengabaikan perintah yang mulia Messiah." Ucap rubah api dengan suara yang gugup dengan tubuh bergetar.


"Yang mulia? Kamu pikir aku siapa?" Aura penekanan Aquila semakin berat dan siap membunuh dengan tatapan tajam nan dinginnya.


Shiro terbangun dari tidurnya, aura Aquila begitu dingin sampai membuatnya menggigil kedinginan. Shiro ingin menghampiri kakaknya yang terlihat marah namun Shiro memiliki seorang adik yang harus dihindari dari udara dingin agar tetap hangat.


Rubah api bingung, apa yang salah dengan ucapannya sendiri. Dalam kebingungannya suara Minami mengalun lembut menenangkan nonanya yang sedang ingin melahap hewan berbulu jingga dihadapannya itu.


"Nona tenanglah, jangan tersulut oleh emosi nona. Mereka sudah terbiasa melakukan hal itu."


"Tapi kak Nami, mereka secara tidak sadar menganggap ku gila gelar dan kekuasan seakan aku sama dengan orang rakus yang belum aku kasih pelajaran." Ucap Aquila menggebu.


"Nona aku mengeri dengan itu, tetapi tolong dengarkan mereka dulu." Bujuk Minami dengan lembut.


"Heh, baiklah. Apa perlu kalian dengan ku?" Tanya aquila dengan amarah yang belum padam.


"Dari mana asal kalian?" Tanya Aquila dengan amarahnya semakin memuncak akibat ulah bangsanya sendiri namun beda dunia.


"K-kami berasal dari hutan R-roa, y-yang berseberangan dengan hutan light elf yang mulia." Rubah api semakin ketakutan dengan Aquila yang terlihat marah besar.


"Apa yang manusia perbuat dengan hutan kalian?"


"M-manusia itu m-menebang pohon h-hutan kami, l-lalu membakar Padang rumput dan memburu magical beast dan hewan buas dari hutan Roa untuk dijadikan alat sihir dan hiasan." Jelas Rubah api.


"Dan juga hanya gerombolan yang mengikuti saya yang berhasil melarikan diri dari kejaran manusia itu, sedangkan yang lain sudah tiada." Imbuh rubah api dengan nada sedih mengingat keluarganya yang telah mati dibunuh tanpa meninggalkan bangkai.


"Huh, manusia-manusia itu. Aku mengerti, aku akan membantu kalian sebisa yang aku bisa lakukan. Dan juga berhenti memanggilku yang mulia." Keputusan akhir Aquila lalu diikuti sorak magical beast dan hewan buas dengan rasa terimakasih yang mendalam.

__ADS_1


"Kami akan berusaha ya- nona." Ucap rubah api yang hampir keceplosan.


"Aku akan pergi hutan Roa secepat yang aku bisa. Aku harap kalian tidak keberatan, menungguku sedikit lama."


"Terimakasih nona, mau membantu kami yang kecil ini."


Aquila ingin tertawa, 'Kecil dari mana, badan kalian semua sangat besar, kecuali burung Pipit dan Kolibri.' ingin sekali Aquila mengeluarkan perkataan tadi tapi rasanya tidak mungkin sebab mereka mengucapkannya sangat tulus.


"Ehemm.... Kalian bisa beristirahat disini sementara waktu, aku akan kembali kesana." Leave memutarkan tubuhnya untuk kembali kemana tuanya sedang tidur dibawah pohon dekat api unggun.


"Terimakasih nona telah mengizinkan kami untuk tinggal disini."


"Hem..." Sahut Aquila dengan menghadapkan punggungnya saja, lalu Leave kembali berjalan santai dan Minami sambil memegang tangan Aquila yang dingin.


"Nona harus beristirahat setelah ini kita makan malam. Tubuh nona semakin dingin saja." Kata Minami.


"Wajar saja kak, hari telah malam dan kita berada diluar ruangan. Bagiku sudah biasa dengan kondisiku saat ini." Ucap Aquila santai.


"Tapi nona.."


"Sudah lah, kakak makin cerewet saja." Potong Aquila.


"Nona, tidak baik kalau memotong pembicaraan orang. Apa lagi dengan Nami yang menghawatirkan nona."Tegur Leave. Aquila merasa bersalah dengan apa yang diucapkan sebelumnya.


"Maafkan aku kak Nami, aku salah."


"Tidak apa nona. Aku hanya cemas saja dengan kondisi nona akibat tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama."


Tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai dihadapan Shiro yang memandang Aquila dengan penuh tanda tanya besar dan khawatir dengan kejadian barusan yang membuat Aquila marah.

__ADS_1


Hai semua reads, tolong dukung author dengan di like dan vote. Author kadang-kadang suka kehilangan semangat buat nulis Kisah Sang Messiah apa lagi sekarang inspirasi author masih hilang semua belum muncul sama sekali. Maka dari itu, tolong di like dan vote agar author makin semangat.


Matta ashita ne, Uchi gambatte **Kara**, Yoroshiku onegaishimasu minna-sama


__ADS_2