
Matahari mulai menghilang ditelan gumpalan awan hitam yang pekat, meninggalkan semburat lembayung yang suram di cakrawala yang luas. Bulan pun enggan menunjukan wujudnya pada dunia yang sudah kenyang akan darah manusia yang tertumpah karena peperangan.
Suara burung gagak yang terdengar lantang menggema di seluruh penjuru negeri Dahana yang merah membara. Ratapan dan rintih kesakitan ikut mengalun bersama suara burung hantu yang hinggap dibangunan yang sudah rusak menyaksikan kegerian yang sedang terjadi.
Mayat-mayat bergelimpangan dengan tubuh yang tidak utuh lagi bersama dengan pedang, panah, tombak dan perisai menghiasi tubuh yang tidak utuh. Para prakitan yang terluka hanya bisa menyeret tubuh mereka sendiri dengan kesusahan, namun rasa iba telah hilang karena rasa sakit yang bersarang ditubuh mereka.
Alunan suara pedang masih terdengar lantang, namun tidak seramai seperti sebelumnya. Sayup-sayup rintihan mulai menghilang, hanya menyisakan hembusan angin yang membawa bau anyir darah yang menyengat diiringi dengan kepakan sayap burung hantu yang senyap.
Ditengah lahan yang sudah rata dan hanya menyisakan debu dan kerikil tajam, terdapat dua sosok manusia yang saling beradu pedang dan mana dengan sangat sengit, mereka adalah Aquila dan sang kaisar kekaisaran Samudra.
"HA... HA.... HA.... Lumayan juga ketangkasan mu bocah iblis. Namun kali ini kau tidak akan bisa menghindar dari amukan samudra yang akan mencabik-cabik tubuh dan jiwamu..!" Kata sang kaisar Samudra dengan tawa yang menggelegar bagai suara Guntur yang ingin menelan langit.
"Sombong sekali, memangnya dirimu itu siapa? Yang sangat berani untuk menyaingi dewa kematian yang belum tentu akan menyabut nyawaku." Ucap Aquila dengan wajah yang tidak menghiraukan ucapan yang dilontarkan sang kaisar Samudra.
"Hei...!!! Bocah iblis...! Yang mulia adalah dewa kematian mu. Jadi jaga sikapmu itu...!" Kata sang kaisar Samudra dengan sombongnya.
"Kau? Ha... Ha.... Ha.... Apa kau sedang bermimpi? PAK TUA...? Yang akan mati itu kau, bukan aku." Ucap Aquila dengan tawa lantang namun mengerikan yang mampu membuat bulu kuduk meremang.
"Lihat saja, akan yang mulia ini akan mengambil nyawamu." Kata sang kaisar Samudra.
Selang beberapa waktu setelah mengucapkan kata yang keluar dari mulutnya, sebuah cahaya berpendar dengan warna biru samudra yang suram seolah melukiskan kesedihan dari sang penguasa samudra itu sendiri.
Hawa kesedihan, kebencian, putus asa, kemarahan menjadi satu dalam pendar cahaya biru itu. Dan tanpa di sadari oleh Aquila, matanya mengeluarkan bulir air kesedihan sebagai seorang kakak yang tidak bisa membantu adiknya. Namun wajahnya masih datar tidak berekspresi tanpa emosi.
__ADS_1
Sedangkan Shiro bersama dengan saudaranya yang lain meneteskan air mata mereka, namun tidak dengan Soleil dan Rugiel yang menangis meraung-raung dengan sangat keras.
"SEBASTA....!!! SEBASTA..... Hua...... Lepaskan aku kak Leave.....!!!! Giel ingin menyelamatkan SEBASTA.... Hiks...!!" Teriak histeris Rugiel degan meronta melepaskan diri dari Leave.
"Asta.... Hiks... Lepaskan aku... hiks.. aku ingin membantu kak Aquila... hiks..." Isak Soleil sambil berusaha untuk lepas diri dari Konami, sama halnya dengan Rugiel.
"Maaf, tapi perintah nona Aquila itu lebih penting untuk keselamatan tuan." Kata Minami menolak keinginan Soleil yang masih terus bergerak tidak beraturan.
"Hiks... Kakak.....!!! Asta.... Asta.... Aku ingin memeluk Asta.... Dia sedang kesakitan... Hiks... kak Aquila.....!!!!" Teriak Soleil degan Isak tangisnya yang keras, namun tidak berdaya di pelukan Minami.
Aquila hanya bisa menahan perasaanya yang tercabik-cabik kesakitan melihat ratapan dari adik-adiknya itu, apa lagi dengan raut wajah pucat Shiro yang menahan semua luka dari seluruh saudaranya yang sedang terluka tidak berdaya dalam genggaman sang Kaisar Samudra yang tengah mengunakan kekuatannya untuk menghancurkan Aquila.
Senyum kesakitan namun menenagkan Aquila langsung terarah pada Leave dan Minami yang membawa adik-adiknya yang sedang memberontak untuk melepaskan diri dari dekapan Minami dan Leave, bibir Aquila bergetar seakan ingin mengucapkan sesuatu, namun tidak ada kata yang keluar dari bibir merahnya.
"HA...HA...HA... Menyerah lah... Yang mulia ini akan memberikan kematian yang cepat...!!" Ucap Sang kaisar Samudra dengan tawa menghina.
"Kak Aquila.... Asta.... hiks... To-tolong selamatkan dia.... Dadaku sangat sakit sekali hiks..." Keluh Soleil dengan sambil memegangi dadanya yang berlapis tempurung kura-kura.
"Akan aku pastikan. Aku akan mengambilnya dari tanganmu itu. Dia adalah milikku." Kata Aquila dengan mengambil sikap kuda-kuda dan menghunuskan pedangnya.
"Heh..?!Lihat saja nanti. Kau akan lenyap dari dunia ini setelah menerima serangan dari ku iblis laknat." Kata sang kaisar Samudra, lalu langsung mengerang Aquila dengan pendar cahaya biru itu.
DUARRR.....
__ADS_1
Suara dentuman dari serangan sang kaisar Samudra yang diarahkan ke Aquila.
"HA... HA.... HA...." Tawa penuh kekejaman yang membahana bersama dengan ledakan barusan. Namun dalam sekejap raut wajah sang kaisar Samudra berubah saat ia merasakan hawa membunuh dari punggungnya.
"Kau sangat ceroboh PAK TUA." Ucap Aquila dengan senyum sinis.
"B-bagaimana bisa?" Tanya sang kaisar Samudra dengan ketidak percayaan
Tanpa basa basi, Aquila langsung menghunuskan pedangnya tepat di dada sang kaisar Samudra yang dilindungi zirah emas hingga menebus sampai punggung belakangnya.
"Kembalikan milikku, atau aku akan membakar mu secara perlahan hingga kau ingin mati." Ancam Aquila dengan wajah yang tidak beremosi.
"A-apa m-aksudmu.... Yang m-mulia in... uhuk.... uhuk...." Belum selesai mengatakan apa yang ingin sang kaisar Samudra utarakan, ia langsung memuntahkan darah menodai bumi Dahana yang sudah kenyang akan darah.
"Apa kau sudah pikun? Kau mengambil yang seharusnya bukan milikmu. Kembalikan dia padaku SEKARANG!" Ucap Aquila yang sudah tidak sabar.
"Ha...Ha... Ha.... Ter- nyata kau sa-ngat bodoh... uhuk-uhuk.... Kau t-tidak bisa mengambilnya dariku.... Ka-rena t-tubuh dan ji-wa sang p-pilar sudah menyatu de-denga yang m-mulia ini...." Ucap sang kaisar Samudra dengan nafas tercekat dan batuk mengeluarkan darah segar.
"Aku tidak perduli. Lepaskan dia atau aku akan mengambilnya darimu secara paksa." Kata Aquila sambil mengeluarkan pedangnya yang bersarang ditubuh sang kaisar Samudra.
"K-kalau kau bisa...." Kata sang kaisar dengan senyum licik, lalu sebuah tombak yang terbuat dari air langsung menghunus jantung Aquila.
"Kakak....!!!!" Teriak seluruh pilar dengan penuh ketidak percayaan.
__ADS_1
"Nona...." Ucap Minami dan Leave dengan lirih namun dengan keputusan-asa.
"....." Aquila hanya terdiam menahan sakit yang teramat sangat di jantungnya, tombak yang menembus jantungnya berlumuran darah dan dalam sekejap tombak itu menghilang dan digantikan dengan seekor ular kecil namun memiliki kaki dan tanduk.