Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 22


__ADS_3

Kelopak bunga berterbangan dengan desiran angin yang sejuk di musim semi, tunas baru tumbuh disetiap pohon yang mengalami tidur di musim dingin.


Awal baru di musim semi untuk membuat kisah yang baru, yaitu awal perjalanan sang Messiah untuk mengembalikan keseimbangan alam dan menghentikan peperangan.


Terlihat mustahil, namun dalam kemustahilan pasti terdapat keajaiban yang menyapanya. Perjalan pun dimulai dengan kaki yang mantap memijakkan di atas tanah tanah yang lembab namun memancarkan kesegaran.


Seorang manusia, seorang elf, dan dua ekor hewan berjalan beriringan didalam hutan untuk menuju peradaban manusia yang telah mereka tinggalkan selama tiga tahun. Dan menjadi titik pertama dalam perjalanan mereka.


"Sudah lama sekali aku tidak melihat keramaian seperti ini."Kata Aquila kegirangan dan berlarian kearah kios yang ada setiap tepi jalan.


"Nona, jangan berlarian...!"Teriak Minami memperingati Aquila yang terlampau semangat itu.


Orang-orang yang berlalu lalang melihat mereka dengan tatapan kagum dan terus saja iri. Iri karena kecantikan Aquila dan kagum dengan hewan spiritual yang mengikuti mereka.


Tak heran bila ada tatapan mesum terarah ke Aquila yang tengah asik mencicipi makanan di kios pinggir jalan. Sedangkan Minami, Leave dan Shiro hanya mengikuti nya kemanapun Aquila berhenti.


Setelah puas melihat dan mencicipi, Aquila dan rombongan berhenti disebuah kedai untuk mengistirahatkan badan dan mengisi energi kembali. Kedai itu tidak lah terlalu besar atau kecil namun susunan meja dan kursi ditata sedemikan rupa sehingga terlihat rapi dan nyaman.


Disiang hari yang terik, suasana menjadi ramai. Banyak orang yang memasuki kedai itu untuk makan siang atau cuma beristirahat seperti Aquila dan kawan-kawanya.


Suasana yang tadinya ramai mendadak menjadi hening, seseorang pemuda yang berpakaian mewah dan dikelilingi wanita cantik dengan pakaian yang sangat terbuka dan hanya menutupi bagaian yang sensitif saja.


"Lihatlah, tuan muda Jendral itu. Setiap hari selalu saja berganti wanita." Salah satu pelanggan berbisik kearah temanya yang juga melihat kearah pemuda itu.


Wajah yang congkak dengan mengangkat dagu tinggi, serta wanita yang berpakaian kurang bahan itu menempel erat di lengan tuan muda tadi dengan wajah genit dan menggoda.

__ADS_1


Aquila hanya bisa mengerutkan kening dan tatapan jijik terarah wanita penggoda itu dan ia merasa ingin mengeluarkan makan yang ia makan sebelumnya.


Dengan langkah sombong, tuan muda melangkahkan kakinya kearah tempat Aquila duduk dan dengan santainya duduk dihadapan Aquila dengan kaki diletakkan di atas meja dan kakinya mengarah tepat dimuka Aquila.


Aquila pun sangat jengkel dan menatap tahan muda tadi dengan muka datarnya, sedangkan Minami dan Leave ingin mengusir namun nonanya masih membiarkannya. Shiro yang masih tertidur dengan nyaman dipangkuan Aquila.


"Hai, nona cantik. Kecantikan mu tidak layak berada ditempat seperti ini." sambil mengulurkan tangannya kearah wajah Aquila.


Aquila menepis tangan tuan muda itu dengan kasar dengan wajah datarnya. "Siapa kamu, dan berani sekali menyentuh wajahku dengan tangan kotor mu." Kata Aquila sarkas.


"Jangan terlalu galak nona cantik, itu membuatku semakin terangsang untuk memasukan milikku kedalam sarang hangatmu." Katanya vulgar dan muka yang sangat bernafsu itu.


"Tuan, hari ini tuan hanya milikku, tapi kalau tuan mau kita bisa bermain bertiga aku akan menerima dengan senang hati." Wanita itu sambil mencondongkan dadanya dan mencium pipi tuan muda.


"Tamat sudah gadis itu, dia tidak bisa lepas dari cengkraman tuan muda." Kata pelanggan yang berada dibelakang Aquila.


Aquila masih diam, dan mendengarkan bisikan-bisikan pelanggan yang ada di kedai itu dan mengasihani dirinya Karen bertemu dengan pemuda bajingan yang ada dihadapannya ini.


"Ahhhh..., kecantikan sepertimu layak untuk mengangkang dibawah tubuhku ini." Tuan muda Jendral itu menurunkan kakinya dan memengang tangan Aquila dan meremasnya secara sensual.


Aquila yang sudah risih dengan ucapa-ucapan vulgar dari pemuda yang seumuran dengannya. Dan tanpa basa-basi langsung memegang erat tangan yang menyentuhnya dan melemparkannya dengan keras.


Para pelanggan yang ada didalam kedai itu terkejut dan segera melarikan diri takut terkena imbas dari kemarahan tuan muda Jendral yang terkenal brutal dan kejam dengan siapapun yang menentangnya.


"Kau....!!!! berani-beraninya mempermalukan tuan muda ini." Kata pemuda itu dengan nyalang.

__ADS_1


Aquila hanya tersenyum miring namun dengan wajahnya yang datar. Tuan muda itu merasakan perasaan yang mengancam dari gadis yang ia goda sebelumya.


"Tuan muda, kamu tidak apa-apa kan?" Sambil menghampiri tuan muda tadi yang berada di sebelah pintu masuk dalam kedai itu.


"Aku tidak apa-apa, tapi jalang itu harus mendapatkan ganjaran yang tepat." Sambil berdiri dan meremas pantat wanita yang membantunya berdiri.


"Ahhh.... Tuan muda nakal sekali." Kata wanita genit itu sambil mendesah.


"Huuuhh, mataku yang suci harus tercemar karena tindakanmu yang tidak senonoh itu." Aquila sambil menyangga dagunya malas.


"Jalang kecil, lihat saja nanti. Aku akan membalas perbuatan mu hari dengan meletakkan tubuhmu di bawah milikku ini. Lihat saja nanti!" Tuan muda itu mengancam dan keluar dan berjalan tertatih-tatih dari kedai itu dengan bantuan wanita penggoda.


"Ohhh... siapa perduli." Kata Aquila malas, Minami dan Leave memandang heran kearah nonanya yang membiarkan bajingan itu pergi begitu saja.


"Emmm... Nona, kenapa kamu membiarkannya pergi. Bajingan sepertinya harus diberi pelajaran yang tepat, perkataan tidak senonoh itu sangat menjengkelkan." Minami seakan ingin menghabisi dan memotong tubuh pemuda itu menjadi beberapa bagian.


"Biarkan saja, dia akan datang dengan sendirinya mengantarkan tubuhnya untuk kamu potong." Perkataan Aquila membuat Minami senang.


"Ano....., nona.." Sapa seorang pria paruh baya yang terlihat seperti menejer kedai yang kedainya ditinggalkan para pelanggannya yang pergi akibat keributan tadi.


Aquila pun memalingkan wajahnya kearah pria paruh baya itu, sontak membuat pria itu menundukkan wajahnya karena takut dengan tatapan tajam milik Aquila.


"Masalah kerusuhan hari ini, biar aku saja yang membayar kerugian mu pak tua." Kata Aquila dengan santai. Pria paruh baya itu merasa bersyukur karena kerugian yang dialaminya dapat ditutupi.


"Nona, kedepannya nona harus berhati-hati. Tuan muda keluarga jendral sangatlah berbahaya apa lagi gadis sepertimu dan temanmu. Banyak gadis di kota ini yang tidak suci lagi karena ulah tuan muda. Dan menderita karena mereka diusir oleh orang tua mereka sebab tidak suci lagi. Sebaiknya nona cepat pergi sebelum tuan muda itu menangkap mu." Kata pria patuh baya itu dengan khwatir.

__ADS_1


"Pak tua, tenang saja kami akan pergi dari kota ini secepatnya." Kata Aquila sambil menggendong Shiro yang tidur, sedangkan Leave selalu berada di samping Aquila.


"terimakasih pak tua, dan ini uang ganti ruginya." Aquila mengambil dua keping emas dalam kantongnya dan keluar dari kedai itu untuk menghindari kerusakan yang akan datang.


__ADS_2