
Sulur akar yang mengikat rubah api terlepas dengan sendiri, rubah api jatuh tersungkur. Rasa sakit yang bersarang didalam rubah api membuatnya tidak bisa berdiri apa lagi untuk melangkah mengikuti Leave yang telah mendahuluinya. Seekor gajah dengan warna obsidian mengangkat rubah dengan belalainya yang panjang dan meletakkannya di punggungnya yang kokoh.
Gading gajah obsidian berwarna biru kehijauan yang mengkilap akibat sinar matahari yang memancarkan sinarnya yang terik. Pantulan dari gading gajah obsidian seperti kaca yang pecah sehingga memantulkan cahaya secara acak.
magical beast dan hewan buas mengikuti Leave yang dan gajah obsidian dengan pelan, burung mengepakkan sayapnya dengan pelan dan ada pula yang bertengger di tanduk atau punggung hewan buas, rata-rata yang bertengger ditanduk adalah burung muda yang belum bisa terbang. Sedangkan anak-anak magical beast dan hewan buas berjalan beriring dengan induk mereka.
Simfoni alam yang terlihat selaras dan damai, tidak terlihat seperti mangsa atau pemangsa yang saling menjauhi tetapi terlihat dekat dan aman.
"kalian dilarang untuk berbicara sebelum nona berbicara, dan kalian dilarang juga untuk membuat suara yang berisik. Sebab nonaku tidak suka hal yang berisik." Leave memperingati mereka sebelum sampai dimana Aquila dan yang lain beristirahat.
"Aku dan yang lain akan berusaha agar tidak membuat Sang Messiah tidak terusik dengan kehadiran kami, nona." Kata rubah api yang lemah.
Minami dan Shiro mengeluarkan aura yang tidak bersahabat membuat magical beast tidak berani untuk lebih dekat dengan mereka. Sedang Aquila dan Rugiel terlihat damai dalam tidur mereka dengan senyuman yang menghiasi wajah rupawan mereka.
"Mengapa nona Leave membiarkan mereka kemari?" Tanya Minami heran.
"Mereka memaksa ingin bertemu nona. Dan mereka bilang tidak bisa kembali ketempat asal mereka. Aku juga tidak tau tempat tinggal mereka berada dimana." Jawab Leave sambil merebahkan dirinya di samping tuan tersayangnya.
"Jadi begitu, tapi mengapa hewan buas mengikuti magical beast?"
"Aku tidak tau Nami, lebih baik kamu tanyakan saja pada rubah yang ada dipunggung gajah hitam itu." Sabil mengarahkan moncongnya yang berwarna hitam kearah gajah obsidian yang berteduh dibawah pohon dengan daun hitam.
Minami mengerutkan keningnya tidak mengerti, lalu duduk didahan pohon dan menyandarkan punggungnya dan mengamati kelompok hewan yang tidak jauh dari mereka. Minami melihat sekor rubah yang terlihat menahan kesakitan sedangkan hewan yang ada disekitarnya terlihat cemas dan seekor gajah obsidian mengulurkan belalainya untuk mengelus kepala sang rubah api yang tergeletak didekat tubuhnya yang besar.
__ADS_1
"Kak leave, apa yang kamu lakukan tadi? kenapa kenapa rubah itu terlihat kesakitan." Tanya Minami simpati.
"Oh itu, aku tidak sengaja melukainya dengan element kristal ku. Tapi aku tidak menyangka kalau akan separah itu lukanya." Jelas Leave.
Mianami turun dari atas pohon dan berjalan kearah segerombolan magical beast yang tengah cemas melihat pemimpin mereka yang terluka.
"Bisa aku bantu?" Tanya Minami. Rubah api terlihat pasrah akan kondisinya yang terluka cukup parah itu. Namun dia telah berjanji tidak akan membaut suara tanpa orang yang mereka temui belum berbicara dan terlihat tidur pulas.
Rubah api diam, namun matanya meminta untuk menolongnya. "Aku tidak tau apa yang kalian bicarakan dengan nona Leave, sepertinya kalian menahan diri untuk tidak meminta pertolongan dengan yang lain. Apa aku benar?" Ucap Minami sambil menaikkan kain lengan atasnya dan melepas sarung tangan yang melekat ditanggannya.
Sebuah rune kecil keluar dari jari manis Minami mengarah kedahi rubah api, dan masuk kedalam kepala rubah api. Wajah yang semula menahan sakit kini terlihat lebih baik dan api yang ada diujung ekornya menyala lebih cerah menandakan kalau semua luka didalam tubuhnya sudah disembuhkan dengan tepat.
Rubah api segera menundukkan kepalanya tanda sebagai terimakasih,dan magical beast terlihat bahagia dengan pemimpin mereka yang telah pulih.
"Kalian berasal dari mana?" Tanya Minami membuka pembicaraan, namun yang diajak bicara tidak mengeluarkan suara sama sekali tetapi memandang rusa yang tertidur di samping kucing besar berwarna putih, seakan meminta izin dari rusa putih yang tertidur.
Sore menjelang, danau keruh dengan riak kecil menyapu tepian danau dengan rumput hitam, pohon mati bergerak akibat hembusan angin yang sedikit kencang. Awan beriringan dengan matahari yang akan tenggelam.
Warna jingga dan merah terlihat jelas ditepian awan yang tipis menampilkan fenomena alam yang indah, suara gagak terdengar dari kejauhan seakan menyambut malam.
Burung hantu terbang dipermukaan danau yang tenang dan mendarat di pohon yang mati, seakan mengawasi sekitar tempatnya bertengger dengan matanya yang bulat serta kepala yang dapat berputar kebelakang.
Hembusan angin menggerakkan kelopak mata gadis yang tertidur dengan damai, jari tangan mulai bergerak, kelopak matanya melambai menyapa alam yang tenang. Rasa hangat dan lembut menyapa kulitnya yang terbuka, hadis itu melihat seekor kucing yang besar dan seorang anak kecil dengan rambut kuning dan sayap kecil dikepalanya sedang tertidur lelap.
__ADS_1
Seekor rusa dan seorang gadis dengan tudung hitam sedang duduk ditepi api unggun yang mereka buat untuk menerangi sekitarnya yang gelap. Sorot mata terarah kearah diri gadis yang baru bangun dari tidurnya yang lelap.
Tunggu? sorot mata? Aquila langsung memfokuskan pandanganya kearah mata yang banyak melihat dirinya dari kejauhan. Aquila melihat banyak hewan yang duduk dan memandangi dirinya dengan rasa bahagia.
Mata Aquila menyipit, serta masih mencerna kejadian yang dialami pada hati ini dan kemudian tidak sadarkan diri. Setelah semuanya telah dia pahami, Aquila mengulurkan tangganya kearah pemuda yang tertidur dan membelai kepala sang remaja.
"Kakak sudah bangun?" Tanya Shiro dengan wajah kucing putih nan imut.
Aquila tidak berbicara, namun mengulurkan tangannya dan memeluk Shiro dengan erat. Minami dan Leave melihat kalau nonanya sudah sadar, mereka segera melangkahkan kakinya dengan cepat dan menghampiri Aquila dan duduk dengan sikap kesatria.
"Kenapa kak Nami dan kak Leave bersikap demikian?" Tanya Aquila dengan heran.
"Maafkan kami nona, kami telah gagal melindungi nona." Ucap mereka secar bersamaan.
"Kakak, kalian tidak gagal atau salah. Juga semuanya telah usai." Kata Aquila sambil menggaruk pipinya.
"Dan kenapa kalian menjadi kaku sekali? Dan aku tidak suka itu." Ucap Aquila merajuk.
Melihat nona nya marah, Minami dan Leave tertawa kecil dan tidak lupa Shiro juga tertawa dengan wujud kucingnya.
"Maafkan aku nona, aku tidak sengaja." Ucap Leave.
"Dan nona, kalau cemberut makin imut saja." Kata Minami berusaha membujuk nonanya dengan menggoda.
__ADS_1
"Tentu saja, aku kan yang terimut." Ucap Aquila dengan sombongnya.
"Kak, kenapa ada banyak mata yang memandangku dari arah sana." Sambil menunjuk kearah pohon yang tidak jauh dari mereka.