Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 11


__ADS_3

Kemudian Aquila Aisar menceritakan semua yang dia ketahui, termasuk 9 pilar keseimbangan dunia. Dan kekaisaran mana saja yang mengendalikan mereka, bencana apa saja yang ditimbulkan akibat tidak ada sang pilar.


Tapi berbeda dengan kekaisaran Teranivis, karena sang pilar masih dalam kesadaran nya, dan tidak dimanipulasi untuk dijadikan alat perang.


Walaupun mereka ingin, tapi konsekuensi yang mereka dapatkan sangat lah membahayakan dan berpotensi menghancurkan semuanya. Termasuk kekaisaran lain mendapatkan dampaknya. Karena Catarino atau Shiro adalah pilar utama dari pilar lainya, walaupun sekarang kekuatannya melemah.


Sebab itu lah, kekaisaran Teranivis tidak ikut dalam peperangan untuk memperluas kekaisaran. ataupun kekaisaran lainya tidak berani menyerang kekaisaran Teranivis.


Kekaisaran Teranivis lebih memfokuskan pertahankan kekuasaan dan kemakmuran rakyatnya.


Setelah selesai menceritakan semua yang Aquila Aisar ketahui, Dita hanya mengangguk tanda mengerti, tapi Shiro merasa sedih dan geram sebab dunianya diambang kehancuran. Dan dia juga bersyukur, karena kaisar Teranivis tidak ikut andil dalam peperangan tersebut.


"Sepertinya dunia ini sudah diambang batasnya, baiklah Shiro. Ayo kita selamatkan saudara mu dan duniamu." Kata Dita dengan suara yang tegas dan bersemangat.


Shiro langsung mengerti arti dari perkataan Dita. dan langsung memulai penyatuan jiwa Dita dan tubuh Aquila Aisar.


"Baiklah Aquila, aku akan meninggalkan mu disini. Tapi kamu tenang saja, aku akan menyelesaikan semua masalah yang sudah terlanjur menjadi bahaya. dan bila semuanya telah selesai, aku akan mengembalikan tubuhmu ini." Dita sambil membelai kepala Aquila Aisar.


"tidak perlu kakak, Aku hanya ingin bebas seperti sekarang. Walupun aku kembali, aku masih tetap saja tidak diterima oleh ayah, ibu, atau kakakku. aku akan menyusul kakekku saja yang ada diseberang sana." Sambil menunjuk seorang lelaki tua yang sangat bijaksana dan tatapan mata teduh yang berada diseberang sungai.


Setelah selesai berbicara, Aquila Aisar segera berlari kearah kakeknya yang tengah berdiri dan melambaikan tangannya.


Saat Aquila di atas jembatan yang menghubungkan antara dirinya dan kakeknya, Aquila Aisar menoleh dan berteriak kearah Dita sambil melambaikan tangannya.


"Kakak......! Berjuanglah....!" Setalah itu, Aquila Aisar berlari dan langsung memeluk kakeknya dan langsung menghilang diiring kelopak bunga yang tertiup angin.


Dita hanya tersenyum dan samar-samar mulai menghilang dari Padang bunga itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dikediaman Mension Aisar, para pembunuh bayaran kembali dan melaporkan tentang tugas nya.


Sang Duke marah karena tidak berhasil melakukan tugasnya dengan apa yang diperintahkan.

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa gagal menangkap anak sialan itu hah!" dengan muka yang merah bertanda bahwa ia sedang marah.


"Maaf kan kami yang gagal tuan, tapi anak itu menjatuhkan diri kedalam jurang ditengah hutan Catarino." Jawab sang ketua pembunuh bayaran.


"Apa?! tapi bagus juga jika anak sialan itu mati didalam jurang. Biar bangkainya dimakan binatang buas yang menghuni jurang itu." Kata sang Duke sambil tertawa terbahak-bahak.


Begitu kejam, bahkan harimau pun tak akan melukai anaknya sendiri. tapi sangat berbeda dengan mahluk bernama manusia yang tega ingin menghancurkan anaknya sendiri dengan begitu keji dan tak beradab.


sedangkan sang ibu, hanya tersenyum dengan raut wajah yang bahagia ketika mendengar anaknya mati dengan mengenaskan. sedangkan kakak Aquila Aisar sedikit merasa kasihan terhadap adik kandungnya, tapi ditutupi oleh wajah datarnya saja.


"HAHAHA.... aku tak terlalu kecewa telah menyewa mu, meski tidak sesuai rencana yang kita buat. Tapi setidaknya anak sialan itu mati dengan mengenaskan."


"Baiklah, kita rayakan Kematian anak sialan itu dengan meriah." sang Duke memberikan perintah terhadap kepala pelayan Mension Aisar.


"Segera dilaksanakan, tuan." kata sang kepala pelayan dengan tangan kiri berada di dadanya dan membungkukkan badannya.


Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sang Duke dan istrinya sangat membenci anak perempuan mereka. Karena tidak dapat mengolah mana dan sihir. Sedangkan sang kakak sangat lah ahli memakai sihir bisa disebut jenus di kekaisaran Teranivis.


Setelah itu, para maid segera melakukan persiapan untuk pesta yang akan digelar sang Duke. San tidak lupa mempersiapkan undangan yang akan dikirimkan ke bangsawan lain yang akan dilaksanakan pada malam hari.


Keesokan malam harinya, pesta pun dilaksanakan dengan begitu mewah dan semua bangsawan yang diundang hadir dalam pesta itu. saat semuanya terhanyut dalam pesta tersebut.


TIING.........!


Semuanya langsung terdiam, dan semuanya langsung bersiaga terutama para pengawal Mension Aisar itu.


TIING........!


Suara lonceng yang kedua semakin dekat dan kabut muncul di depan gerbang manor Aisar.


TIING........!


Suara lonceng ketiga semakin dekat, dan muncullah gadis dari dalam kabut yang sedang menunggangi rusa Kristal bercahaya hijau pudar dan memangku sekor kucing putih.

__ADS_1


TIING.........!


Suara lonceng semakin nyaring dan mengiringi langkah kaki sang rusa. Dan sang gadis membuka matanya yang memancarkan rasa kecewa dan marah sekaligus sedih.


Sedangkan orang-orang terpesona dan menyingkir untuk memberikan jalan pada sang gadis penunggang rusa. Sang gadis terus berjalan dan mendekat sang Duke. tidak, lebih tepat ayah sang gadis Aquila Aisar.


Saat Dita melihat sekelilingnya, dan menatap sang Duke atau ayah Aquila Aisar dengan sorot mata kecewa.


Sedangkan sang Duke terkejut sebab gadis didepannya sangat mirip dengan anaknya yang mati didalam jurang, tapi tidak dengan mata dan tanda bulan sabit di dahinya.


"Siapa kamu, dan kenapa kamu datang tanpa diundang di pesta ini?" Tanya sang Duke heran sekaligus waspada akan kemungkinan yang terjadi.


"Ayah, kenapa anda tidak mengenai anakmu yang kau sewakan pembunuh bayaran untuk membunuhku?" dengan wajah sedihnya.


Sedangkan para tamu undangan sudah tak heran tentang kebencian sang Duke terhadap anaknya sendiri.


"Mungkin, itu yang dikatakan aku saat dulu." Kata Aquila Aisar sambil menampilkan senyum sinis nya.


"Aku baru tahu, ayahku sendiri sudah tidak memberikan kasih sayang terhadap anaknya sendiri. Bahkan hewan pun tidak akan melakukan hal sekejam ini." Sindirnya.


"Itu membuktikan, bahwa kamu lebih rendah daripada hewan, ayah!" Aquila Aisar masih menampilkan senyum sinis dan mengeluarkan aura penekanan yang membuat orang-orang aula manor Aisar susah bernafas dan ada yang pingsan.


"Siapa kamu? San berani-beraninya menghina Duke kami?!" Kata salah satu penjaga yang tak terima tuanya dihina.


"Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah anak yang kau buang di jurang Catarino tanpa kasihan." Kata Aquila Aisar dengan santai.


Para bangsawan yang hadir memandang penuh kebencian kearah sang Duke Aisar karena pernyataan Aquila Aisar, sebab hutan Catarino adalah hutan yang mereka suci kan dan dilarang membunuh atau berbuat tercela.


"Hentikan omong kosong mu. jangan mengurusi kepentingan sang Duke ini!?" Sang Duke marah sebab apa yang dikatakan Aquila Aisar.


"Memang semua ini bukan urusan kakak ku, tapi hutan Catarino adalah wilayah ku."


Suara Shiro sukses membuat mereka langsung bersujud dalam sekejap dan tak berani mengangkat kepala mereka.

__ADS_1


__ADS_2