Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 139


__ADS_3

Keheningan datang setelah malam berada pada puncaknya, bulan telah menghilang dan kini digantikan olah gemerlap bintang-bintang menghias langit bersama nebula yang berwarna magenta cerah, menjadi corak pengisi langit yang gelap.


Desiran lembut dengan berjatuhannya bulir salju menambah keindahan dimalam ?menjelang fajar menyingsing dengan suhu udara yang membekukan embun pagi. Burung hantu terbang rendah dipermukaan salju untuk menangkap seekor tikus yang sedang mencari makan di tumpukan salju yang dingin, namun sayang cakar sang burung hantu menghujam tubuhnya dan kemudian meregang karena tercekik olah cakar sang burung.


Semburat warna merah terlihat diujung bumi, dengan siluet pepohonan yang berwarna hitam menambah kesan tersendiri bagi yang melihatnya. Lambat lain langit yang semula hitam penuh akan bintang kini berubah menjadi biru dengan semburat merah dan jingga di lukiskan oleh awan tipis yang menggantung di cakrawala nan luas.


Aquila masih tertidur dengan nyenyak dengan beberapa hewan berukuran sedang juga tertidur dengan nyenyak, sedangkan Rin juga masih tertidur dengan posisi yang sangat tidak elit. Minami dan Leave sudah terbangun dan sedang membuatkan sarapan untuk mereka semua dan porsi lebih untuk Adrian yang sangat rakus dengan makanan.


"Kak Aquila.....!! Kak Aquila.....!!! Bangun.... Lihat, apa yang sudah aku kerjakan....!!" Teriak Adrian dengan keras dan terus mengguncang tubuh Aquila yang masih terhanyut dalam mimpi indah.


"Ugh.... Biarkan aku tidur." Kata Aquila dengan berusaha menjauhkan tangan Adrian dari bahunya.


"Kakak.... Jangan tidur lagi... Lihat dulu manekin Nix yang aku buat.." Kata Adrian tidak putus asa dengan penolakan Aquila ingin kembali melanjutkan tidurnya.


"Iya... Nanti, aku ingin tidur sebentar lagi, lebih baik kamu tidur saja.."Kata Aquila dengan malas nya.


"Tidak... Rino... jangan pura-pura tidur lagi... Bantu aku membangunkan kak Aquila.." Kata Adrian dengan membangunkan Shiro yang masih memejamkan matanya namun tidak dengan telinganya yang terus bergerak menangkap suara yang membangunkannya.


"Huahh..... Adrian. Kamu berisik sekali.." Kata Shiro dengan menguap lebar dan malas.


"Benar, aku tidak bisa tidur lagi. Adrian apa yang kamu lakukan semalam ini?" Tanya Nix sambil menguap dan merenggangkan tubuhnya yang kaku.


"Rahasia. Tapi, lihatlah..." Jawab Adrian dengan senyum bangga sambil melihatkan sebuah anak macam tutul salju yang sangat mirip dengan Nix.


Mata besar, wajah yang imut dengan telinga yang terdapat bulatan hitam, bulu yang lembut berwarna putih dan bintik-bintik hitam serta ekor yang panjang dengan corak melingkar berwarna hitam diujung ekornya.


"Wahhh.... Apa ini aku?" Tanya Nix dengan mata yang berbinar-binar mengangumi dirinya sendiri melalui manekin yang dibuat oleh saudaranya Adrian yang hampir sama persis dengan aslinya.

__ADS_1


"Tentu saja, sangat sempurna bukan?" Kata Adrian dengan menyombongkan hasil karyanya.


"Akan tetapi, ini masih belum bisa bergerak dengan bagus... Hah...." Tambah Adrian dengan lesu.


"Kenapa bisa terjadi?" Tanya Helios penasaran.


"Aku harus memasukan serpihan jiwa Nix kedalam manekin ini, namun aku tidak bisa.." Jawab Adrian dengan wajah sedih.


"Apa masalahnya, aku akan memberikan sedikit serpihan jiwaku untuk menyempurnakan manekin buatan mu itu." Kata Nix penasaran.


"Apa kamu yakin Nix..? Tapi, itu akan membuatmu kesakitan saat melepaskan serpihan jiwa mu, aku tidak mau melakukannya." Jelas Adrian dengan wajah murung.


"Tidak masalah, aku akan mengorbankan sedikit serpihan jiwaku untuk melancarkan rencana kak Aquila dan manusia rambut pendek itu." Kata Nix riang tidak mempermasalahkan.


"Tapi, apa itu tidak masalah dikemudian hari?" Tanya Vent Leger sambil berpikir kemungkinan yang akan terjadi.


"Oh, jadi begitu. Maka jangan khawatir tentang itu, aku akan menjauhkannya dari para menteri dan kaisar sialan itu agar tidak menyentuhnya sama sekali meski seujung rambutnya." Kata Rin menyela tiba-tiba, dan tentu saja membuat mereka yang sudah terbangun terkejut dengan Rin yang baru bangun itu.


"Kak Rin, kamu membuatku takut..." Kata Shiro dengan wajah terkejut, seolah-olah melihat hantu yang bangun dari kubur.


"Oh... Maaf kecil, lalu dimana kak Leave dan kak Nami?" Tanya Rin dengan mencari dua sosok yang senantiasa berada didekat mereka.


"Nama ku bukan kecil. SHIRO....!!" Kata Shiro dengan sedirit berteriak menegaskan namanya.


"Ya... lain kali akan aku ingat. Lalu dimana mereka?" Tanya Rin kembali.


"Hem...!!! Mereka ada di sana."Kata Shiro dengan menunjukan tempat dimana Leave dan Minami berada.

__ADS_1


"Kenapa dengan manusia itu? Apa dia sedangkan kerasukan?" Tanya heran Adrian yang terus memandangi Rin yang berjalan keruangan yang berada di samping ruang mereka berkumpul.


"Entahlah..." Kata Vent Leger yang ikut kebingungan tentang tingkah Rin yang aneh itu.


"Baru kali ini aku melihat seorang manusia yang baru saja bangun tidur langsung menuju dapur, yang aku tau pasti mencari air untuk sekedar membasuh wajah." Kata Helios yang juga terheran dengan Rin.


"Hem..... Kalian bisa tenang tidak... Aku ingin tidur.." Kata Aquila dengan suara lirih yang masih tertutupi selimut.


"Kak Aquila.....!!! Bangun, ini sudah siang, kak Rin sudah ada di dapur." Kata Shiro dengan menarik selimut yang menutupi wajahnya.


Namun dalam sekejap mata, Aquila langsung membuka selimutnya dengan kasar dan langsung terbangun dari tidurannya.


"Jangan biarkan Rin kesan, dan apa lagi jangan sampai dia ikut memasak." Kara Aquila langsung berlari panik menuju dimana Rin dan kedua kakaknya berada.


"Kenapa kak Aquila juga langsung ke sana? Apa para manusia dari dunia lain suka berlari kearah dapur ya?" Tanya Helios yang masih mengingat tingkah Rin yang juga langsung menuju dapur itu.


"Sebab kak Rin tidak bisa memasak. Maka kak Aquila langsung menyusul kak Rin untuk menghentikannya." Kata Shiro kepada Helios yang masih terheran.


"Benarkah? Tapi masakan kak Aquila enak." Kata helios.


"Irinya aku... Aku belum pernah memakan masakan kak Aquila meski sudah mengikutinya lama." Kata Helios dan disetujui juga oleh Adrian dan Vent Leger.


"Kak Aquila itu pemalas kalau membuat makanan, jadi kita sangat beruntung bila ada kak Leave dan Minami yang membuat makanan untuk kita." Kata Shiro kembali.


BUUMMM.....!!!


Ledakan besar berasal dari mana berandanya Aquila, Rin, Minami dan Leave. Dan tentu saja membuat Soleil dan Rugiel yang tertidur langsung terbangun karena terkejut sebab ledakan besar itu. Shiro dan yang lainnya hanya bisa menatap heran kearah ledakan itu. Sebenarnya apa yang terjadi di sana?

__ADS_1


Itulah yang menjadi pertanyaan utama di setiap pikiran para pilar dunia yang mengamati runtuhan balok es dengan kepulan uap es yang menguap karena ledakan barusan.


__ADS_2