Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 159


__ADS_3

Langit cerah dengan awan tipis menghias bersama dengan bulan sabit yang berwarna keperakan. Lambat-laun kecerahan langit mulai memudar karena sang Surya telah menuju peristirahatannya dan digantikan oleh bulan sabit yang memancarkan cahaya redup.


Lampu ditepi jalan hidup satu persatu seakan berjalan dengan sendirinya bersama dengan ramainya lalu-lalang kendaraan pribadi atau umum yang mengantarkan ke tujuan dari masing-masing individu.


Begitu juga dengan dua sosok perempuan yang juga mulai membereskan display yang ada didepan toko mereka, karena mereka akan tutup. Mereka adalah Rin dan Dita serta diikuti seekor serigala salju yang membaringkan dirinya menunggu mereka dengan sabar.


"Ah... Akhirnya selesai juga... Enaknya makan apa ya nanti?" Kata Rin dengan menggerakkan tangannya keatas.


"Kamu baru saja mengabiskan makananku tadi tanpa izin tadi, kenapa sekarang seolah-olah kamu tidak makan sama sekali?" Kata Dita dengan jengkel karena kelakuan dari sahabatnya itu.


"He he... Aku tidak bisa menahan nafsu makan ku bila itu berhubungan dengan makanan yang kamu buat." Kata Rin dengan tertawa canggung.


"Kamu kira aku koki mu apa? Lain kali kamu masak sendiri." Kata Dita melihat kelakuan Rin yang seperti anak kecil.


"Tepat sekali... Kalau aku masak sendiri? Lebih baik aku makan mie instan saja." Kata Rin menolak usulan Dita.


"Aku tahu itu, apa kamu akan tidur lagi di rumahku Rin?" Tanya Dita sambil melihat ponselnya.


"Tentu saja, besok kan libur. Aku juga tidak mau mimpi buruk lagi." Jawab Rin.


"Apa sangat mengerikan mimpimu itu? Hah... pasti jawabannya aku tidak ingin menceritakan." Tanya Dita namun dijawab sendiri.


"Ah.... Dita.... kamu memang yang terbaik...." Teriak Rin sambil memeluk Dita erat.


"Lepas... Kamu kira aku guling peluk mu Rin, malu dilihat orang." Kata Dita sambil melepas pelukan sahabatnya itu.


"Aku tidak perduli." Kata Rin yang masih berusaha memeluk Dita namun ditolak keras oleh Dita dengan mendorong Rin agar tidak memeluknya.


Sedangkan orang-orang yang melihat mereka berdua sangat aneh layaknya anak kecil, dan ada juga yang memandang mereka dengan tatapan yang menggemaskan. Dan pada akhirnya...


BUK....

__ADS_1


"Kenapa kamu memukulku?" Tanya Rin sambil memegang kepalanya yang barusan dipukul oleh Dita.


Sedangkan Dita hanya melanjutkan perjalannya untuk pulang ke rumahnya tanpa memperdulikan Rin yang terus memanggil namanya.


"Aku minta maaf bila itu mengganggumu. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi." Kata Rin dengan penuh menyesalkan.


"Kamu sering berkata demikian Rin, pada akhirnya kamu melakukannya lagi. Ah sudahlah.." Kata Dita pasrah dengan tingkah Rin yang terkadang membuatnya tidak nyaman.


"Terimakasih.... Aku menyukaimu..." Kata Rin sambil memeluk Dita lagi.


"Hentikan...!!! Kamu membuatku jijik Rin..." Kata Dita sambil menghindari Rin.


"Jahat... Padahal aku adalah sahabat terbaik mu loh..." Ucap Rin dengan raut wajah sedih.


"Aku tidak perduli..." Kata Dita sambil berlari menghindari Rin yang masih berusaha memeluknya.


Pada akhirnya mereka sampai didepan rumah Dita, namun wajah heran terlihat di wajah Dita yang melihat rumahnya terdengar suara ramai. Kecurigaan Dita membuat dirinya berpikir kalau rumahnya dimasuki pencuri, namun hal itu tidak mungkin karena rumahnya dijaga oleh Leave yang dia anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Dita? Apa aku salah lihat dan dengar? Kenapa rumahmu menjadi sangat ramai?" Tanya Rin dengan was-was.


"Coco, coba kamu lihat didalam sana." Perintah Rin pada Coco yang merupakan hewan spirit miliknya.


Serigala putih itu langsung melesat kearah rumah Dita, lalu kembali dan mengatakan kalau itu tidak ada pencuri atau hal yang membahayakan lainnya.


"Syukurlah, aku kira ada pencuri yang masuk dalam rumahku. Lalu siapa yang ada didalam rumahku?" Tanya Dita pada Coco.


Namun Coco hanya menggelengkan kepalanya, seakan memberitahukan kalau lebih baik sang pemilik rumah memeriksanya sendiri. Sedangkan Rin hanya bisa tersenyum tidak jelas.


"Kenapa kamu malah tersenyum seperti itu, ini bukan waktu yang tepat." Kata Dita yang merasa sangat jengkel dengan tingkah sahabatnya itu yang tidak tepat.


"Bukan apa-apa." Kata Rin.

__ADS_1


"Lebih baik kamu masuk ke rumah dulu, aku akan mendukungmu di belakang." Tambah Rin dengan senyum tidak jelas.


"Baiklah.." Kata Dita sambil berjalan pelan menuju pintu rumahnya.


Dita pun meraih gagang pintu rumahnya dengan perasaan tidak menentu namun kewaspadaannya tidak hilang bila ada kejadian yang tidak terduga. Namun setelah pintu terbuka, Dita sangat terkejut dengan apa yang dia lihat dan siapa yang membuat rumahnya sangat ramai.


Ternyata hanya beberapa ekor hewan yang imut menggemaskan yang membuat dirinya tidak tahan untuk mencubit bulu mereka.


"Ah... nona sudah kembali?" Sapa Leave dengan tersenyum bahagia.


Namun tidak dengan seekor kucing putih yang tidak lain adalah Shiro dan memandangnya dengan mata berkaca-kaca, dan tidak lama kemudian shiro menangis. Sontak saja membuat saudaranya yang lain langsung panik karena tidak tau apa yang salah dengan saudara mereka.


"Ya, seperti yang kakak lihat, hei...!!!? Kenapa kucing itu menangis. Apa aku membuatmu takut?" Kata Dita kebingungan dengan tingkah kucing putih yang duduk disofanya itu.


"Jangan mendekat! Dasar manusia hina..!" Teriak Ignatius dalam sosok burung berwarna merah cerah dan menghalangi tangan Dita untuk menyentuh Shiro.


"Wah..... Apa ini burung beo? Warnanya cantik, tapi kenapa bicaranya sadis?" Kata Dita terheran.


"Aku bukan burung beo? Apa itu burung beo....!!!" Teriak Ignatius dengan suara nyaring.


"Cih..! Kakak dapat burung cerewet ini dari mana? Rasanya aku ingin membuat burung panggang." Tanya Dita dengan mengeluarkan unek-unek nya, sedangkan leave hanya tertawa kecil begitu juga dengan Rin.


"Apa yang kamu bicarakan? Kalau kau ingin membunuh saudaraku, aku akan meracunimu!" Ancam Adrian yang langsung memasang badan saat Dita akan menyentuh Ignatius.


"Sejak kapan ular bisa bicara? Apa kamu ini spesies baru? Hei Rin...!! Kenapa kamu malah ketawa seperti itu. Ketawamu mirip mbak-mbak didepan sana yang sering pakai baju putih." Ucap Dita yang jengkel dengan suara tawa Rin.


"Ha ha ha.... Bukan apa-apa, tapi kalian dulu sangat akrab loh.." Kata Rin dengan tawa yang belum berhenti.


"Heh..? Sejak kapan aku akrab sama ular yang memamerkan taring seperti itu. Lagi pula aku tidak melakukan apapun, tiba-tiba itu kucing nangis sendiri. Kenapa aku yang disalahkan?" Kata Dita tidak terima.


"Kak Dita..."

__ADS_1


DEG.....


Saat Dita mendengar panggilan itu, Jantung Dita langsung berdetak dengan kencang sebab suara itu tidak asing baginya. Namun Dita tidak dapat mengingat apapun, yang dia ingat hanyalah kucing putih yang dia pungut dipinggir jalan dan memanggilnya sama persis seperti sekarang.


__ADS_2