Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 12


__ADS_3

Meraka, orang-orang yang hadir dalam aula merasa ketakutan dan takjub, bahwa sang pilar hadir dalam pesta yang dibuat sang Duke. meski dalam keadaan yang sangat marah.


Shiro hanya memandang para bangsawan yang hadir dengan dingin dan aura yang sangat berbahaya, tetapi bagi Dita itu sudah biasa.


"Apa kamu tidak tau peraturan, hingga berani berbuat keji di wilayah ku duke?" Shiro turun dari gendongan Aquila Aisar dan merubah tubuhnya seukuran leave dengan tiga ekornya yang menjuntai.


Sang Duke hanya bisa diam dan hanya menahan kekesalannya. Sedangkan para bangsawan yang hadir memandang sang Duke dengan tatapan kebencian.


Suasananya menjadi sangat mencekam dan membuat siapapun yang hadir ingin segera melarikan diri, tetapi sayangnya hal tersebut tidaklah mungkin.


Kemudian Shiro berjalan perlahan kearah sang Duke. "Saat ini, aku tidak ingin mempermasalahkannya. jika kamu melakukanya lagi, kamu akan tau sendiri akibatnya." Shiro berbisik dengan aura penuh penekanan dan kemudian melangkah kearah Aquila Aisar.


Kemudian Shiro merubah ukuran tubuhnya menjadi kecil dan melompat kearah Aquila Aisar. Dan suasana dalam aula menjadi lebih tenang tanpa penekanan.


"Aku tak menyangka, bahwa ada orang tua yang begitu kejam." Aquila Aisar sambil menghampiri kearah Duke dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sang Duke hanya bisa menatap Aquila Aisar dengan kebencian. "Kalau keadaanya sama seperti dulu." Aquila aisar sambil duduk dan makan cemilan dan beberapa alat makan yang disediakan di atas meja itu.


"Sayangnya, keadanya berbeda." Kata Aquila Aisar dan memainkan pisau. kemudian Dita melemparkan pisau kearah Duke dan mengenai lengan atasnya.


sang Duke hanya bisa meringis menahan sakit dan perih dengan darah yang merembes dipakai yang berwarna putihnya itu.


"Itu hanya hukuman kecil dari ku, jika ada yang mengulangi kejadian yang sama seperti yang dilakukan ayah yang keji ini. aku tidak akan sungkan lagi untuk memotong leher kalian!" Aquila Aisar sambil berjalan kearah Duke Albyon.


Orang-orang yang mendengarkan apa dikatakan Aquila Aisar hanya bisa menelan ludah secara kasar dengan keringat dingin yang membanjiri punggung mereka.


"Aku menghormati mu sebagai ayah ku. maka berterima kasihlah. Jika bukan, mungkin aku sudah menyiksamu dengan tangan kecil ini." Dita sambil menggenggam erat bahu Duke Albyon Aisar dengan erat.


Duke Albyon Aisar menatap Aquila Aisar dengan ketidaksukaannya yang begitu ketara.


"Huh, aku tidak Sudi berterima kasih pada anak sialan sepertimu."

__ADS_1


"Apa kamu sadar, berbicara dengan siap!?" Shiro dengan suara yang tajam.


"Hamba menghormati yang mulia Catarino, tapi tidak dengan anak sialan sepertinya." Sang Duke dengan menundukkan kepala kearah Shiro.


"Oh...? Lantas apa aku peduli dengan ucapan mu wahai ayah? Aku pun tak Sudi juga memiliki ayah seperti mu!"


"Mungkin dulu mataku dibutakan akibat keinginan akan kasih sayangmu. tapi kenyataan nya hanyalah sebuah bualan saja."


"Yang kamu ketahui bahwa aku hanya lah anak yang tidak bisa melakukan apa pun, bahkan kamu tega menyiksa dan menghinaku dengan kata-kata yang tak pantas. dulu aku hanya bisa menerimanya. tapi sekarang, maaf saja.!" Aquila Aisar dengan senyum sinis nya.


"Dengan perlakuan mu seperti ini, aku akan pergi dan tidak akan pernah mengaggap kamu ayahku. aku juga tak Sudi kembali lagi.! meskipun kau merengek dibawah kakiku." Aquila Aisar dengan tegas, tapi tidak dengan sang kakak Aquila Aisar yang menatap sendu adiknya.


Erlando Aisar, itulah nama sang kakak. Aquila Aisar menatap kakaknya, dan terkejut melihat raut wajah sendu kakaknya. Dita merasa pusing akibat ingatan Aquila Aisar tentang kakaknya itu.


Meskipun Erlando Aisar membenci Aquila Aisar, tapi Erlando Aisar tidak pernah menyiksa atau menghinanya. dan sering membantu secara diam-diam memberikan obat untuk luka yang Aquila dapat dari siksaan ayah atau maid yang sering merundung nya. Tanpa sepengetahuan siapa pun.


"Bagus lah kalau kamu sadar diri, aku pun tak Sudi jika kamu berlama-lama dikediaman ku. yang ada kesialan mu menyebar ke seluruh Mension dan bangsawan yang lain!" Duke Albiyon Aisar dengan hinaan yang menusuk bagi Aquila Aisar.


"Yang mulia, anda jangan hiraukan ucapan hamba barusan. Ini urusan hamba dan anak sialan itu." Dengan tatapan kebencian terarah ke Aquila Aisar.


"Shiro, kita pergi saja dari neraka ini. berlama-lama disini membuatku ingin muntah." Kata Aquila Aisar sambil menutupi mulutnya.


"Ditempat ini penuh dengan hal yang menjijikan. dan muka palsu yang terpajang dimana-mana." Kemudian Aquila Aisar berjalan dimana leave berdiri.


Sindiran Aquila Aisar sukses membuat para bangsawan yang hadir menatap tidak suka kearah Aquila Aisar.


"Oh iya, anakmu sekarang adalah bagian dari ku. Maka, mulai sekarang Aquila Aisar menjadi orang telah aku tetapkan untuk menjadi Messiah." Keputusan Shiro membuat orang-orang berbisik-bisik. Hal tersebut tidak diterima oleh Duke Albiyon dan para bangsawan.


Karena seorang Messiah adalah orang yang ditunjuk untuk menjadi penyelamat dunia yang kedudukannya setara dengan kaisar.


"Tapi, yang mulia,..... Dia tidak mempunyai"

__ADS_1


"Aku tidak meminta pendapatmu, memangnya kamu siapa?" Shiro berkata sengit.


"Tapi hamba ayah dari anak sialan itu!"


BRUUKK....


s


Sang Duke langsung bersujud setelah menyelesaikan pernyataannya.


"Keberanian dari mana kamu mengakui Messiah sebagai anakmu, padahal kau sudah memutuskan hubungan dengan anakmu sendiri." Aura Shiro menguat dan menekan sang Duke.


"Benar-benar tidak tahu malu." bisikan para bangsawan yang terdengar oleh Duke yang tersujud itu.


Duke Albiyon hanya bisa menahan kekesalannya dengan menggerakkan giginya.


"Penyesalan selalu saja diakhir Duke, jadi jangan anda jilat ludah anda sendiri." Kata Aquila Aisar dengan sombong.


"Nak kenapa kamu lakukan hal seperti ini pada ayahmu?" Tanya wanita yang begitu cantik dan dihiasi permata dan emas yang menempel di gaun sutranya. Beserta dengan para wanita bangsawan yang lain.


"Ayah? aku tidak memiliki ayah sepertinya." Kata Aquila Aisar menatap tajam kearah wanita yang barusan datang, itu adalah ibu Aquila Aisar.


"Dan juga, kamu bukan lah ibuku mulai sekarang. Aku tak Sudi memiliki ibu yang berpikiran licik sepertimu. Yang mementingkan kekuasaan dan harta."


"Nak berbicara apa kamu ini?" Tanya sang ibu yang tak terima dengan ucapan Aquila Aisar.


"Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya." Kata Aquila Aisar tak perduli.


Ibu Aquila Aisar menahan kekesalan akibat kelakuan Aquila Aisar yang tak perduli.


"Dan mulai sekarang, aku bukan bagian diri bangsawan Aisar. Aku melepaskan semua ini demi kebebasanku dan bukan menjadi boneka pelampiasan kalian." Aquila sambil duduk dipunggung leave untuk pergi dari manor Aisar itu yang bagi Aquila Aisar atau Dita Andriyani adalah neraka.

__ADS_1


__ADS_2