Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 53


__ADS_3

Bulan bercahaya dengan suram, mengantungkan diri dilangit tanpa gemintang yang menemaninya. Awan hitam berarak-arakan menutupi bulan yang kesepian tanpa teman.


Angin bertiup kencang menghantam cabang-cabang kayu yang tertidur ditanah yang kering dengan lumpur yang basah. Daun-daun kering berterbangan menyampaikan salam perpisahan kepada tempat tinggal mereka yang dicintai.


Nyala api kecil bergoyang-goyang mengikuti alunan angin malam yang dingin, suara binatang buas mengalun dengan suram menghiasi malam kelam.


Suara cekikikan terdengar keras, tawa-tawa janggal mengiringi setiap hembusan angin. Ranting terinjak mengeluarkan yang menjadi ciri khas sendiri dalam lantunan alam malam suram. Namun diabaikan oleh orang dalam tenda penuh kemewahan dunia.


Para wanita tidur terlentang tanpa busana yang menutupi tubuh polos mereka, bau alkohol dan bau tidak senonoh memenuhi tenda itu mirip sekali dengan rumah bordil namun lebih terlihat seperti sekumpulan binatang hina berwujud manusia. Sedangkan hewan buas pun tidak akan melakukan hal yang bejat seperti itu kecuali faktor biologis mereka yang sudah ditentukan oleh sang maha kuasa.


Hembusan angin kuat menggoyahkan setiap sisi tenda itu, suara tikus mendecit didalam tenda itu dan membuat salah satu penghuninya langsung bangun dan mencari suara berisik yang ada didalam tenda mereka.


Setelah puas mencari sumber suara berisik itu namun tidak diketahui asalnya, dengan tubuh yang polos dia Kemabli ketempat semula untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda. Saat hendak melangkahkan kakinya, suara cicitan tikus kembali terdengar namun dengan suara geraman hewan buas dari balik kain tenda yang tipis.


Sebuah cakar tajam langsung memotong kain tipis itu dengan mudah sampai kebawah lalu moncong hitam langsung masuk melalui celah yang robek itu. Budak birahi itu langsung berteriak histeris membangunkan budak yang lain dan tentu saja sang pemilik nya juga ikut terbangun.


"Budak...! Kenapa kamu berisik sekali...!!" Peringatannya kepada budak yang berteriak dengan keras.


Namun peringatan itu diabaikan oleh budak tadi, dia masih terduduk ditempatnya namun hewan yang dia lihat sudah tidak ada dan hanya menyisakan sebuah goresan yang panjang.


"Hiiiii hi hi. Hai tuan....." Sebuah suara mengalun dengan mengerikan dari sisi telinganya.


Para budak wanita langsung berteriak histeris dengan penampakan perempuan berambut putih dengan tanduk didahinya dengan wajah pucat dengan aliran darah dari dari semua lubang dikepalanya.

__ADS_1


Aroma anyir langsung mengantikan aroma sebelumnya yang sangat kuat, para budak wanita langsung mengumpul menjadi satu seperti melihat malaikat maut dengan wajah mengerikan.


Bulu kuduk bangsawan gendut itu langsung meremang dengan gemetar langsung berteriak. "Prajurit........! Manusia biadab ini.......!" Teriaknya lebih lantang namun tidak ada jawaban bahkan langkah kaki pun tidak terdengar meski hanya selangkah.


"Hi hi hi..... Siapa yang kamu panggil tuan....." Katanya sambil menyentuh bahu yang mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.


Tangan dingin itu masih menelusuri bahu dan punggung yang penuh lemak itu, membuat si empunya merinding tidak karuan.


"Percuma saja tuan, mari bermain dengan ku...... Sepertinya anda tadi sangat bersemangat bermain dengan mereka. Hi hi hi...." Katanya dengan genit namun mengerikan.


"P-pergi.....! Kamu pergi.....! Prajurit.......!!! Usir wanita gila ini......!!!!" Teriaknya sekali lagi, namun hanya suara angin malam yang menjawabnya.


"Ke ke ke.... Siapa yang ingin mengusir Kakak ku....." Sebuah suara menyahuti teriakan bangsawan itu, namun bukan perajut nya yang datang melainkan seorang wanita dengan baju compang-camping dengan wajah hancur penuh luka dan mengeluarkan darah dari segala luka miliknya.


"Hi hi hi.... Adik, apa kamu sudah selesai bermain dengan mereka.....?" Tanya wanita dengan tanduk putih, lalu melayang disamping wanita itu.


"Ke ke ke, tentu saja kakak..... Aku sangat puas bermain, sampai mereka tidak ingin bermain denganku lagi. Dan langsung pergi meninggalkan tempat ini." Jelasnya dengan bahagia.


"Dasar tidak berguna... Sebenarnya siap kalian!!??" Tanya nya dengan suara lantang namun terdengar seperti gertakan tikus kepada kucing.


"Hi hi hi.... Tuan mau bermain dengan kami? Nonaku sangat ingin anda bermain dengan kami...." Ucapnya dengan nada centil.


"Tidak Sudi aku bermain dengan kalian, lebih baik aku kehilangan anggota badanku yang berharga dari pada harus bermain dengan kalian.!" Katanya dengan sengit.

__ADS_1


"Ha ha ha...... Itu yang aku ingin dengar dari mulut kotormu om muka rambut. berterimakasih atas kerja keras kakak ku yang cantik." Kata seorang perempuan dengan bahagia sambil duduk disebuah kursi yang berlapis emas dan permata. Yang tidak lain adalah Aquila.


"Bedebah....! Turun kau dari temaptku..!" Katanya sambil mengambil sebilah pedang yang terpajang dimeja dengan sarung pedang berlapis emas.


"Tidak akan, apa yang pernah aku sentuh akan menjadi milikku. Termasuk juga dengan laba-laba manis ini." Kata Aquila sambil mengelus kepala laba-laba Archane dengan mata yang hitam keemasan bukan warna merah yang seperti darah yang mengalir.


"Kau...! Lepaskan hewan peliharaan ku. Atau kamu akan mendapatkan akibatnya." Ancamnya sambil mengacungkan pedangnya kearah Aquila yang tengah duduk santai.


"Sepertinya aku mempunyai mainan baru untukmu. Ambilah." Kata Aquila mengacuhkan ancaman bangsawan itu dan terus mengelus kepala laba-laba yang ditumbuhi bulu halus berwarna ungu pekat.


Ucapan Aquila bagaikan sebuah perintah bagi semua hewan magical beast atau hewan buas. Laba-laba Archane langsung melompat dan menyerang bangsawan gendut itu dengan brutal tanpa celah atau jeda membuat bangsawan itu kewalahan dengan serangan laba-laba Archane.


Setelah pertarungan yang cukup lama, Bangsawan itu penuh dengan luka kecil atau besar bahkan terdapat warna biru keunguan di setiap luka itu yang menandakan bahwa itu terdapat racun. Bahkan bangsawan itu sangat terkejut, sebab selama laba-laba Archane bersamanya tidak pernah melakukan pertarungan sengit seperti ini.


"Apa yang kamu lakukan dengan hewan peliharaan ku...?!" Ucapnya dengan wajah yang marah.


"Hi hi hi.... Tuan, abaikan dia dan ikutilah kami menjadi hantu hutan Roa ini." Ucap seorang dengan wajah pucatnya dengan aliran darah dari setiap lubang dikepalanya itu.


"Ke ke ke, Sepertinya akan seru kalau kita memiliki teman baru.." Ucap wanita dengan wajah hancur itu.


"Aku tidak Sudi, lebih baik aku mati daripada harus menjadi bagian kalian!" Tolaknya sambil mengibaskan tangan untuk mengusir kedua orang yang ada dihadapannya itu.


"Jangan biarkan dia mati, tapi jadikan sebagai hantu. Itu lebih bagus." Ucap Aquila dengan kejam.

__ADS_1


"Kau....! dasar bukan manusia. Lebih Kau saja yang jadi hantu!" Ucapnya sambil mengutuk Aquila.


__ADS_2